| dc.description.abstract | Ikan Synodontis eupterus adalah salah satu jenis ikan hias air tawar yang
berasal dari sungai Niger di benua Afrika. Ikan dewasa memiliki corak totol hitam
di tubuhnya serta memiliki kebiasaan berenang unik secara terbalik, sehingga
memiliki nilai ekonomis untuk dijual bahkan diekspor pada pasar perdagangan
ikan hias. Akan tetapi produksi ikan ini masih terkendala dengan persentase benih
ikan jantan yang dihasilkan dari proses pemijahan buatan jauh lebih sedikit
dibandingkan benih betina, hal ini menyebabkan ketersediaan ikan jantan menjadi
sedikit sehingga akan berefek terhadap kurangnya ketersediaan calon induk jantan
di kalangan pembudidaya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi
kendala ini adalah dengan teknik pembentukan kelamin jantan (maskulinisasi).
Hormon yang umumnya digunakan untuk maskulinisasi adalah hormon 17α-
metiltestosteron (MT) (Zairin 2002). Namun, penggunaan hormon MT diduga
dapat menyebabkan adanya residu yang berpotensi larut dalam limbah air
budidaya dan mempengaruhi diferensiasi kelamin ikan-ikan non-target di
sekitarnya (Green dan Teichert-Coddington 2000).
Penggunaan hormon alami berbahan dasar tumbuhan dapat digunakan untuk
maskulinisasi telah banyak diteliti. Cabe Jawa Piper retrofractum merupakan
tanaman yang banyak digunakan oleh industri obat tradisional di Indonesia (Usia
2012). Buah cabe Jawa mengandung senyawa kimia turunan steroid, saponin,
alkaloid dan tanin yang dapat berperan sebagai afrodisiak yaitu memberi efek
androgenik dan anabolik (Moeloek et al. 2010). Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi pengaruh pemberian ekstrak cabe Jawa (ECJ) pada stadia larva
melalui perendaman terhadap maskulinisasi ikan sinodontis. Penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap dengan 8 perlakuan terdiri dari perlakuan
ekstrak cabe Jawa dosis 0.0625 mg L-1 dan 0.125 mg L-1, kontrol negatif (tanpa
ekstrak dan 17α-metiltestosteron) serta kontrol positif (2 mg L-1 17α-
metiltestosteron). Tiap perlakuan terdiri dari dua perlakuan suhu (normal dan
32ᴼC). Ikan yang digunakan adalah larva ikan S. eupterus berumur 10 hari setelah
menetas dengan berat rata-rata 0.023 gr ekor-1, masing-masing ulangan perlakuan
sebanyak 150 ekor. Kemudian untuk perlakuan suhu, air media pemeliharaan
larva diupayakan bersuhu 32ºC, hal ini dilakukan sampai hari ke-40 pemeliharaan
sesuai dengan pendekatan waktu diferensiasi kelamin pada ikan jenis catfish
(Raghuveer et al. 2011). Pemanas (heater) digunakan untuk menjaga suhu air agar
tetap konstan.
Perendaman dilakukan selama lima jam, kemudian larva dipindahkan ke
dalam akuarium pemeliharan berukuran 29 x 30 x 30 cm dan diberi pakan naupli
artemia sehari empat kali pada pukul 04.00, 11.00, 17.00, dan 22.00 WIB secara
at satiation selama satu minggu. Selanjutnya diberikan pakan cacing sutra secara
ad libitum sampai minggu ke lima, dan dilanjutkan dengan pemberian pakan
komersil berbentuk tepung sampai minggu ke-13. Ikan selanjutnya dipindahkan
ke akuarium yang berukuran 50 x 60 x 50 cm dan diberikan pakan komersil
berbentuk remah sampai berumur lima bulan. Pakan komersil diberikan sehari tiga
kali pada pukul 06.00, 12.00 dan 18.00 WIB secara at satiation. Selama
pemeliharaan dilakukan penyiponan dan pergantian air sebanyak 10% per hari dan
30% setiap seminggu sekali. Sampling bobot dan panjang tubuh dilakukan setiap
dua minggu selama 14 minggu, sementara data tingkat kelangsungan hidup
(TKH) diambil pada hari ke-7 pasca perendaman dan akhir pemeliharaan.
Pemeriksaan jenis kelamin ikan dilakukan setelah ikan berumur empat dan
lima bulan dengan mengambil sampel gonad ikan dari masing-masing ulangan
perlakuan sebanyak 30% populasi. Ikan dibedah dan diambil gonadnya untuk
diperiksa dengan metode pewarnaan asetokarmin (Guerrero & Shelton 1974), dan
untuk pembuatan preparat histologi. Hasil pemeriksaan gonad ikan umur empat
bulan menunjukkan bahwa pemeliharaan suhu ruang pemberian ekstrak cabe jawa
dosis C2 (0.125 mgL-1) terbukti mampu menghasilkan persentase ikan jantan
sebanyak 54.13±13.61% berbeda nyata terhadap kontrol (C0T0) (P<0.05). Pada
hasil pemeriksaan gonad ikan umur lima bulan tidak ditemukan keberadaan ikan
interseks, dan perlakuan perendaman dengan ekstrak cabe jawa terbaik tetap
dihasilkan oleh ekstrak dosis 0.125 mg L-1 dengan menghasilkan persentase ikan
jantan sebesar 37.78±18.49% dan lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol
(P<0.05).
Data TKH pada 7 hari setelah perendaman menunjukkan bahwa
perendaman larva menggunakan hormon 17α-metiltestosteron dalam suhu 32 ⁰C
(MTT1) menghasilkan nilai persentase tingkat kelangsungan hidup yang paling
rendah yakni sebesar 93.30 ± 1.54%, berbeda signifikan (P<0.05) dibanding
perlakuan lainnya. Demikian juga kelangsungan hidup ikan S. eupterus setelah
empat bulan pemeliharaan menunjukkan bahwa perlakuan perendaman MT dalam
suhu 32⁰C adalah yang terendah yaitu sebesar 86.16 ± 0.77%, namun nilainya
tidak berbeda nyata dengan perlakuan perlakuan kontrol C0T0. Nilai laju
pertumbuhan harian rata-rata antar perlakuan pada minggu ke-2 serta minggu ke-
14 dan secara statistik tidak berbeda nyata (P>0.05) baik pada perlakuan dengan
perendaman ekstrak cabe jawa maupun kontrol positif dan negatif. Sebagai
kesimpulan, maskulinisasi ikan sinodontis pada stadia larva menggunakan ekstrak
cabe Jawa melalui perendaman selama 5 jam dengan dosis 0.125 mg L-1 pada suhu
normal dapat meningkatkan persentase ikan jantan secara konsisten pada umur 4
dan 5 bulan sebesar 4 kali lipat dibandingkan kontrol. Pemberian perlakuan suhu
sebesar 32 ⁰C dapat meningkatkan kematian pada perlakuan perendaman 17α-
metilestosteron. | id |