Show simple item record

dc.contributor.advisorSehabudin, Ujang
dc.contributor.authorVerawati, Nadya
dc.date.accessioned2019-01-23T02:22:18Z
dc.date.available2019-01-23T02:22:18Z
dc.date.issued2018
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/96337
dc.description.abstractKabupaten Sukabumi merupakan salah satu daerah pengembangan usaha penggemukan domba di Jawa Barat. Salah satu daerah yang menjadi daerah pengembangan di Kabupaten Sukabumi yaitu Kecamatan Cikidang, Desa Cicareuh. Responden yang diwawancarai sebanyak 26 peternak dengan metode sensus. Rata-rata jumlah ternak yang digemukkan sebanyak 45 ekor. Bobot awal domba yang akan digemukkan rata-rata 12 kg dan bobot akhir domba rata-rata 23 kg. Usaha penggemukan domba dalam satu periode selama tiga bulan sehingga pertumbuhan bobot badan domba selama satu periode sebesar 11 kg. Peternak di daerah penelitian merupakan peternak penggadu, dimana seorang peternak memiliki pemilik modalnya sendiri. Pemilik modal berperan dalam memberikan pinjaman untuk pembelian bakalan, namun modal yang digunakan untuk sarana produksi ditanggung oleh peternak. Pemilik modal hanya memberikan pinjaman satu kali untuk pembelian bakalan di awal kesepakatan. Modal yang diberikan oleh pemilik modal tidak dikembalikan karena modal tersebut akan digunakan untuk membeli bakalan pada periode berikutnya. Kesepakatan mengenai keuntungan dari hasil penjualan domba antara peternak dan pemilik modal masing-masing sebesar 50 persen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur biaya dan pendapatan usaha penggemukan domba serta kontribusi pendapatan usaha penggemukan domba terhadap total pendapatan peternak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan usahaternak dan analisis kontribusi usaha ternak terhadap total pendapatan peternak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur biaya terbesar usaha penggemukan domba adalah biaya bakalan senilai Rp 23 845 273/periode dengan persentase 71,73 persen. Namun karena biaya pembelian bakalan ditangung oleh pemilik modal, maka struktur biaya terbesar yang ditanggung peternak yang menggunakan sistem bagi hasil adalah biaya pakan senilai Rp 6 517 257/periode dengan besarnya persentase 69,34 persen. Penerimaan rata-rata peternak sebelum bagi hasil adalah Rp 46 575 000/periode atau Rp 15 525 000/bulan, sedangkan penerimaan rata-rata peternak setelah bagi hasil adalah Rp 23 287 500/periode atau Rp 7 762 500/bulan. Pendapatan rata-rata peternak sebelum bagi hasil adalah Rp 15 257 970/periode atau Rp 5 085 990/bulan, sedangkan pendapatan rata-rata peternak domba setelah bagi hasil sebesar Rp 15 815 835/periode atau Rp 5 271 945/bulan. Berdasarkan bagi hasil dengan pemilik modal, pendapatan yang didapatkan pemilik modal lebih tinggi dari peternak. Pendapatan yang didapatkan pemilik modal sebesar Rp 23 287 500/periode atau Rp 7 762 500/bulan. Tingkat kontribusi usaha ternak domba tergolong sebagai cabang usaha dengan kontribusi usaha ternak domba sebesar 44,42 persen.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agriculture University (IPB)id
dc.subject.ddcEconomic Resourcesid
dc.subject.ddcFattening Sheepid
dc.subject.ddc2018id
dc.subject.ddcSukabumi-Jawa Baratid
dc.titleAnalisis Pendapatan dan Kontribusi Usaha Penggemukan Domba terhadap Pendapatan Peternak (Studi Kasus Desa Cicareuh, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi).id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordbagi hasilid
dc.subject.keywordkontribusi usahaternakid
dc.subject.keywordpemilik modalid
dc.subject.keywordpendapatan usahaternakid
dc.subject.keywordstruktur biayaid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record