Show simple item record

dc.contributor.advisorMadduppa, Hawis
dc.contributor.advisorSoedharma, Dedi
dc.contributor.authorHimawan, Mahardika Rizqi
dc.date.accessioned2018-04-18T05:13:53Z
dc.date.available2018-04-18T05:13:53Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/91363
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis kelamin dan ukuran dari hiu paus yang muncul atau terdampar serta perilaku permukaannya di Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Jawa Timur dan Gorontalo Indonesia. Analisa ancaman keberadaan hiu paus juga dilakukan dengan identifikasi keberadaan luka tubuh. Sebanyak 78 individu hiu paus teridentifikasi dengan metode foto antara bulan Agustus 2015 dan April 2016, dengan 29 jantan (93.33%) dan 2 betina (6.37%) di Kalimantan Timur, 24 jantan (85.71%) dan 4 betina (14.29%) di Jawa Timur, 1 jantan (100%) di Sulawesi Tengah, 17 jantan (100%) di Gorontalo dan 2 jenis kelamin yang tidak diketahui di Sumatera Barat. Hasil estimasi panjang total dengan membandingkan badan penyelam sebagai referensi panjang menunjukkan bahwa hiu paus di lokasi studi didominasi individu juvenil. Panjang total hiu paus teridentifikasi adalah antara 2.5-8.5 meter. Dominasi populasi remaja tercatat (98.7%) (n=78), menunjukkan bahwa lokasi penelitian merupakan habitat penting bagi hiu paus juvenil. Hiu paus muncul di Perairan Talisayan akibat keberadaan ikan hasil tangkapan bagan sebagai perilaku makan. Hasil tangkapan bagan terutama teri (58%) yang mencapai 44980 kg selama waktu pemantauan mempengaruhi 77 kali kemunculan dari 30 individu hiu paus teridentifikasi. Karakteristik kemunculan tersebut juga terjadi di Teluk Cenderawasih. Pada Perairan Probolinggo, kelimpahan zooplankton terutama copepoda yang berkisar antara 1952-11762 individu/m3 pada satu harinya selama pemantauan mempengaruhi 52 kali kemunculan dari 28 individu teridentifikasi. Aktivitas pemberian makan melalui wisata di perairan Botubarani mempengarui 110 kali kemunculan dari 17 individu teridentifikasi. Pemberian makan berupa kulit dan kepala udang dengan rata-rata 98.68 kg/hari membuat hiu paus terus muncul ke permukaan. Keberadaan hiu paus terdampar di Perairan Pesisir utara dan terjerat jaring nelayan di Banggai kepulauan diduga berkaitan dengan potensi perikanan pelagis besar seperti Thunnus sp. Hiu paus diduga ikut memakan apa yang dimakan oleh gerombolan ikan-ikan tersebut, seperti zooplankton atau ikan dengan ukuran yang lebih kecil. Persentase bekas luka pada tubuh hiu paus adalah 86.67% (n=30) di Kalimantan Timur, 7.14% (n=28) di Probolinggo dan 58.82% (n=17) di Gorontalo, disebabkan oleh aktivitas penangkapan ikan dan kegiatan pariwisata oleh manusia. Hiu paus terdampar di Sumatera Barat dengan tidak diketahui penyebab pasti dan terjerat jaring nelayan di Banggai Kepulauan menjadi ancaman penurunan populasi. Ancaman tersebut merupakan tantangan dalam melindungi spesies yang dilindungi di Indonesia.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcMarine Scienceid
dc.subject.ddcSharkid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcIndonesiaid
dc.titleKomposisi Hiu Paus Berdasarkan Jenis Kelamin, Ukuran, Perilaku Kemunculan serta Ancaman Keberadaannya di Perairan Indonesia.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordperilaku hewanid
dc.subject.keywordidentifikasi fotoid
dc.subject.keywordpopulasiid
dc.subject.keywordancamanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record