Show simple item record

dc.contributor.advisorSetyobudiandi, Isradjad
dc.contributor.advisorAffandi, Ridwan
dc.contributor.authorCahyani, Waode Sitti
dc.date.accessioned2017-05-24T07:27:52Z
dc.date.available2017-05-24T07:27:52Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/85535
dc.description.abstractTerumbu karang merupakan suatu ekosistem khas yang terdapat di wilayah pesisir daerah tropis. Terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling produktif dan beragam di bumi serta banyak memberikan jasa ekosistem. Terumbu karang memiliki nilai penting bagi masyarakat pesisir, namun keberadaannya sangat rentan terhadap gangguan baik yang berasal dari manusia maupun alam. Penggunaan alat tangkap terlarang merupakan salah satu penyebab utama semakin menurunnya tutupan karang hidup. Oleh karena itu, penetapan suatu perairan menjadi kawasan konservasi sangat penting untuk melindungi terumbu karang dari eksploitasi berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi tutupan karang sebelum dan setelah terbentuknya Kawasan Konservasi Perairan Pulo Pasi Gusung dan untuk menganalisis status keberlanjutan ekosistem terumbu karang di lokasi tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam penentuan kebijakan terkait pengelolaan yang lebih baik untuk meningkatkan pengawasan terhadap ekosistem terumbu karang yang terdapat di Kawasan Konservasi Pulo Pasi Gusung. Penelitian ini dilakukan di Pulau Pasi. Secara administratif pulau ini termasuk Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Di Kawasan Konservasi Pulo Pasi Gusung terdapat tiga desa yaitu Desa Bontoborusu, Kahu-Kahu, dan Bontolebang. Lokasi pengambilan data mencakup perairan di tiga desa tersebut. Penelitian ini menggunakan data primer dan sekunder. Data primer meliputi kondisi tutupan karang, kelimpahan ikan karang, kondisi perairan dan wawancara yang dilakukan terhadap responden. Data sekunder diperoleh dari dinas setempat dan informasi dari berbagai literatur. Pengukuran terumbu karang dengan metode Line Intercept Transect (LIT) digunakan untuk mengetahui kondisi tutupan karang hidup. Panjang transek yang digunakan adalah 50 m yang direntangkan sejajar garis pantai dan dilakukan pengulangan di kedalaman 3 m dan 10 m. Status keberlanjutan ekosistem terumbu karang dianalisis dengan Multi Dimension Scaling (MDS) melalui pendekatan Rap Insus Coremag. Analisis ini menggunakan 5 dimensi untuk mengukur status keberlanjutan ekosistem terumbu karang di KKPD Pulo Pasi Gusung. Dimensi tersebut meliputi dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan infrastuktur serta hukum dan kelembagaan. Masing-masing dalam tiap dimensi terdapat beberapa atribut yang digunakan sebagai indikator keterwakilan dalam penentuan skor. Hasil analisis benthic lifeform di kedalaman 3 m, karang mati memiliki persentase paling besar yaitu 31.33%, acropora 24.25%, non acropora 23.49%, abiotik 17.08% dan biota lainnya 0.41%. Berdasakan benthic lifeform di kedalaman 10 m, non acropora memiliki persentase terbesar yaitu 42.21%, karang mati 27.75%, acropora 15.08%, abiotik 12.20%, biota lainnya 2.53%, dan alga sebesar 0.24%. Dari hasil tersebut, rata-rata persentase tutupan karang hidup di kedalaman 3 m yaitu sebesar 47.70% yang termasuk dalam kategori sedang dan di kedalaman 10 m sebesar 57.23% yang termasuk dalam kategori baik. Kondisi terumbu karang di Kawasan Konservasi Pulo Pasi Gusung berada pada kategori buruk sampai dengan sangat baik. Kategori buruk hanya terdapat di stasiun pada kedalaman 3 m, kategori sedang sedang sampai dengan baik terdapat di stasiun pada kedalaman 3 m dan 10 m. Kondisi tutupan karang hidup pada tahun 2010 di kedalaman 3 m lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2008 dan 2015, sedangkan kondisi tutupan karang hidup pada tahun 2015 di kedalaman 10 m lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2008 dan 2010. Hasil analisis Rap Insus Coremag pada dimensi ekologi diperoleh indeks keberlanjutan pada tahun 2010 sebesar 77.51 dan pada tahun 2015 sebesar 73.26. Pada dimensi ekonomi indeks keberlanjutan tahun 2010 sebesar 37.53, pada tahun 2015 sebesar 49.01. Indeks keberlanjutan dimensi sosial budaya pada tahun 2010 47.07, tahun 2015 56.56. Indeks keberlanjutan dimensi teknologi dan infrastruktur pada tahun 2010 40.16, tahun 2015 43.95. Indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan pada tahun 2010 44.52, pada tahun 2015 51.79.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcFisheriesid
dc.subject.ddcCoralid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcSelayar, Sulawesi Selatanid
dc.titleKajian Manfaat Kawasan Konservasi Perairan Pulo Pasi Gusung Kabupaten Kepulauan Selayar Terhadap Kelestarian Terumbu Karangid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordterumbu karangid
dc.subject.keywordkawasan konservasiid
dc.subject.keywordKKPDid
dc.subject.keywordstatus keberlanjutanid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record