Kajian Manfaat Kawasan Konservasi Perairan Pulo Pasi Gusung Kabupaten Kepulauan Selayar Terhadap Kelestarian Terumbu Karang
View/ Open
Date
2017Author
Cahyani, Waode Sitti
Setyobudiandi, Isradjad
Affandi, Ridwan
Metadata
Show full item recordAbstract
Terumbu karang merupakan suatu ekosistem khas yang terdapat di wilayah
pesisir daerah tropis. Terumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling
produktif dan beragam di bumi serta banyak memberikan jasa ekosistem. Terumbu
karang memiliki nilai penting bagi masyarakat pesisir, namun keberadaannya
sangat rentan terhadap gangguan baik yang berasal dari manusia maupun alam.
Penggunaan alat tangkap terlarang merupakan salah satu penyebab utama semakin
menurunnya tutupan karang hidup. Oleh karena itu, penetapan suatu perairan
menjadi kawasan konservasi sangat penting untuk melindungi terumbu karang dari
eksploitasi berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi tutupan
karang sebelum dan setelah terbentuknya Kawasan Konservasi Perairan Pulo Pasi
Gusung dan untuk menganalisis status keberlanjutan ekosistem terumbu karang di
lokasi tersebut. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi
pemerintah daerah dalam penentuan kebijakan terkait pengelolaan yang lebih baik
untuk meningkatkan pengawasan terhadap ekosistem terumbu karang yang terdapat
di Kawasan Konservasi Pulo Pasi Gusung.
Penelitian ini dilakukan di Pulau Pasi. Secara administratif pulau ini
termasuk Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
Di Kawasan Konservasi Pulo Pasi Gusung terdapat tiga desa yaitu Desa
Bontoborusu, Kahu-Kahu, dan Bontolebang. Lokasi pengambilan data mencakup
perairan di tiga desa tersebut. Penelitian ini menggunakan data primer dan
sekunder. Data primer meliputi kondisi tutupan karang, kelimpahan ikan karang,
kondisi perairan dan wawancara yang dilakukan terhadap responden. Data sekunder
diperoleh dari dinas setempat dan informasi dari berbagai literatur. Pengukuran
terumbu karang dengan metode Line Intercept Transect (LIT) digunakan untuk
mengetahui kondisi tutupan karang hidup. Panjang transek yang digunakan adalah
50 m yang direntangkan sejajar garis pantai dan dilakukan pengulangan di
kedalaman 3 m dan 10 m. Status keberlanjutan ekosistem terumbu karang dianalisis
dengan Multi Dimension Scaling (MDS) melalui pendekatan Rap Insus Coremag.
Analisis ini menggunakan 5 dimensi untuk mengukur status keberlanjutan
ekosistem terumbu karang di KKPD Pulo Pasi Gusung. Dimensi tersebut meliputi
dimensi ekologi, ekonomi, sosial budaya, teknologi dan infrastuktur serta hukum
dan kelembagaan. Masing-masing dalam tiap dimensi terdapat beberapa atribut
yang digunakan sebagai indikator keterwakilan dalam penentuan skor.
Hasil analisis benthic lifeform di kedalaman 3 m, karang mati memiliki
persentase paling besar yaitu 31.33%, acropora 24.25%, non acropora 23.49%,
abiotik 17.08% dan biota lainnya 0.41%. Berdasakan benthic lifeform di kedalaman
10 m, non acropora memiliki persentase terbesar yaitu 42.21%, karang mati
27.75%, acropora 15.08%, abiotik 12.20%, biota lainnya 2.53%, dan alga sebesar
0.24%. Dari hasil tersebut, rata-rata persentase tutupan karang hidup di kedalaman
3 m yaitu sebesar 47.70% yang termasuk dalam kategori sedang dan di kedalaman
10 m sebesar 57.23% yang termasuk dalam kategori baik. Kondisi terumbu karang
di Kawasan Konservasi Pulo Pasi Gusung berada pada kategori buruk sampai
dengan sangat baik. Kategori buruk hanya terdapat di stasiun pada kedalaman 3 m,
kategori sedang sedang sampai dengan baik terdapat di stasiun pada kedalaman 3
m dan 10 m. Kondisi tutupan karang hidup pada tahun 2010 di kedalaman 3 m lebih
baik jika dibandingkan dengan tahun 2008 dan 2015, sedangkan kondisi tutupan
karang hidup pada tahun 2015 di kedalaman 10 m lebih baik jika dibandingkan
dengan tahun 2008 dan 2010.
Hasil analisis Rap Insus Coremag pada dimensi ekologi diperoleh indeks
keberlanjutan pada tahun 2010 sebesar 77.51 dan pada tahun 2015 sebesar 73.26.
Pada dimensi ekonomi indeks keberlanjutan tahun 2010 sebesar 37.53, pada tahun
2015 sebesar 49.01. Indeks keberlanjutan dimensi sosial budaya pada tahun 2010
47.07, tahun 2015 56.56. Indeks keberlanjutan dimensi teknologi dan infrastruktur
pada tahun 2010 40.16, tahun 2015 43.95. Indeks keberlanjutan dimensi hukum dan
kelembagaan pada tahun 2010 44.52, pada tahun 2015 51.79.
Collections
- MT - Fisheries [3210]
