Show simple item record

dc.contributor.advisorYulianda, Fredinan
dc.contributor.advisorFahrudin, Achmad
dc.contributor.authorAndronicus
dc.date.accessioned2017-03-01T03:16:08Z
dc.date.available2017-03-01T03:16:08Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/83278
dc.description.abstractPengembangan ekowisata berbasis masyarakat menjadikan masyarakat sebagai pelaku utama dalam tiap tahapan kegiatannya. Dalam upaya menciptakan sebuah pengelolaan berbasis masyarakat, harus melalui beberapa proses tahapan. Peran pemerintah, LSM dan lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses tersebut. Potensi alam yang dimiliki, tidak akan berarti tanpa sebuah pengelolaan yang baik. Keberlanjutan dari sumberdaya alam, bergantung dari sebuah sistem pengelolaan yang baik pula. Bahoi terletak di ujung Pulau Sulawesi bagian utara, dengan kondisi perairan cukup tenang karena berada di kawasan Teluk Likupang. Dengan potensi sumberdaya pesisir yang baik, Bahoi memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai desa ekowisata berbasis masyarakat. Kesiapan masyarakat untuk mengelola sumberdaya pesisir yang ada menjadi alasan lainnya. Perpaduan antara masyarakat dan sumberdaya pesisir yang ada menjadi fokus dalam penelitian ini. Rata-rata persen tutupan karang hidup sebesar 64.16% dari seluruh zona. Kelimpahan ikan rata-rata sebesar 276 ind/250 m2 dari famili Pomacentridae. Mangrove jenis Rhizophora mucronata merupakan jenis yang paling banyak ditemukan. Mangrove di Bahoi memiliki kerapatan rata-rata 2000 ind/ha. Potensi pengembangan ekowisata Bahoi cukup tinggi, dengan keberadaan sumberdaya pesisir yang cukup menunjang kegiatan ekowisata. Indeks kesesuaian wisata kategori wisata selam memiliki nilai rata-rata 73.46%, dengan nilai indeks tertinggi pada zona perlindungan yaitu 85.19%. Indeks kesesuaian wisata kategori wisata snorkeling memiliki rata-rata 80.12%, dengan nilai indeks tertinggi pada zona perlindungan yaitu 89.47%. Indeks kesesuaian wisata kategori wisata mangrove memiliki rata-rata 84.65%, dengan nilai indeks tertinggi pada zona pemanfaatan sebesar 94.74%. Bahoi memiliki nilai daya dukung kawasan sebesar 272 Orang/hari untuk ketiga kategori wisata tersebut. Bentuk partisipasi masyarakat dalam upaya pengembangan ekowisata berbasis masyarakat dapat dilihat dari keterlibatan masyarakata dalam tahapan peneglolaan, mulai dari perencanaan sebesar 53%, pengawasan 64% dan masuk kategori Co-management Based, pelaksanaan sebesar 80%, evaluasi dan penilaian sebesar 74% masuk dalam kategorikan Community Based. Keberlanjutan pengelolaan sumberdaya sebagai aset dari ekowisata memiliki tiga dimensi, yaitu dimensi ekologi, dimensi sosial dan budaya, serta dimensi kelembagaan. Dimensi ekologi memiliki nilai yang paling tinggi sebesar 61.31 berikutnya dimensi sosial dan budaya sebesra 58.20 dan dimensi kelembagaan dengan nilai paling kecil yaitu sebesar 45.79.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcAgricultural Economicsid
dc.subject.ddcEcotourismid
dc.subject.ddc2015id
dc.subject.ddcMinahasa - Sulawesi Utaraid
dc.titlePengembangan Ekowisata Berbasis Masyarakat Di Kawasan Pesisir Desa Bahoi, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utaraid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordBahoiid
dc.subject.keywordBerbasis masyarakatid
dc.subject.keywordEkowisataid
dc.subject.keywordPengelolaanid
dc.subject.keywordPesisirid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record