Show simple item record

dc.contributor.advisorSudono, Adi
dc.contributor.advisorSutama, I Ketut
dc.contributor.authorBudi, Usman
dc.date.accessioned2010-03-23T06:46:58Z
dc.date.available2010-03-23T06:46:58Z
dc.date.issued2002
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/779
dc.description.abstractDalam upaya peningkatan produktivitas kambing Peranakan Etawah (PE), maka perlu dicari suatu cara untuk meningkatkan produksi susu pada kambing PE yang tidak mengganggu aktivitas seksual setelah beranak dan penampilan reproduksinya. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor dan Fakultas Peternakan IPB. Sebanyak 18 ekor kambing betina Peranakan Etawah dengan umur 5-7 tahun, dikelompokkan berdasarkan bobot badan menjadi tiga kelompok. Semua ternak mendapat pakan dan manajemen pemeliharaan yang sama. Perlakuan dalam penelitian ini ada tiga, yaitu (1) Interval pemerahan 12 jam, (2) Interval Pemerahan 16:8 jam dan (3) Interval pemerahan 24 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interval pemerahan (IP) tidak nyata mempengaruhi produksi susu pada kambing PE, namun ada kecenderungan bahwa interval pemerahan 16:8 jam menunjukkan produksi susu yang lebih tinggi. Aktivitas seksual setelah beranak (kandungan hormon progesteron, berahi setelah beranak, persentase kebuntingan dan jumlah anak sekelahiran) kambing PE hampir sama pada ketiga perlakuan. Rataan berahi setelah beranak pada interval pemerahan 16:8 jam adalah 39.80±5.5 hari, relatif lebih cepat dari dua perlakuan lainnya (48.75±21.09 hari pada IP 12 jam dan 52.25±9.78 hari pada IP 24 jam). Persentase kebuntingan pada interval pemerahan 12, 16.8 dan 24 jam berturut-turut adalah 33.33, 16.67 dan 66.67% dengan jumlah anak sekelahiran sebanyak 2.0, 1.0 dan 1.75. Konsumsi pakan kambing PE pada ketiga perlakuan dan total produksi susu juga tidak berbeda secara statistik. Karenanya, efisiensi produksi susu pada ketiga perlakuan tidak berbeda nyata, walaupun ada kecenderungan interval pemerahan 16:8 jam lebih efisien, baik dilihat dari efisiensi energi (EPEn) maupun efisiensi ekonomi (EPEK). Income over feed cost (IOFC) pada interval pemerahan 16:8 jam adalah Rp 4657.50, relatif lebih tinggi dari interval pemerahan 12 jam (Rp 3152.95) dan interval pemerahan 24 jam (Rp 2403.24). Dari hasil yang diperoleh pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa produksi susu dan aktivitas seksual setelah beranak kambing PE tidak nyata dipengaruhi oleh interval pemerahan.
dc.languageid
dc.titlePengaruh Interval Pemerahan Terhadap Produksi Susu dan Aktivitas Seksual Setelah Beranak Pada Kambing Peranakan Etawahid
dc.typeThesis
dc.subject.keywordKambing Peranakan Etawah (PE)
dc.subject.keywordInterval pemerahan
dc.subject.keywordProduksi susu
dc.subject.keywordAktivitas reproduksi pasca beranak
dc.subject.keywordEfisiensi produksi susu


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record