| dc.description.abstract | Membeli dengan cara kredit sudah menjadi hal yang sangat biasa ditengah masyarakat dewasa ini, baik masyarakat diperkotaan sampai masyarakat dipedesaan terutama untuk memenuhi kebutuhan yang sulit dijangkau dengan cara membeli cash atau tunai, seperti kepemilikan rumah dan kepemilikan kendaraan. Selain bank dan koperasi yang sudah dikenal masyarakat dalam penyaluran kredit permodalan, melalui surat keputusan bersama (SKB) tiga menteri tahun 1974, yaitu Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Perdagangan, lahirlah lembaga pembiayaan (Multi Finance) di Indonesia. Perusahaan leasing di Indonesia telah ikut berperan aktif dalam memberikan kredit kepada masyarakat, jika sebelumnya hanya terfokus pada pembiayaan transportasi, kini semakin memperluas produk pembiayaannya pada keperluan alat-alat kantor, manufaktur, konstruksi dan alat-alat pertanian. Melalui perusahaan pembiayaan atau leasing, setiap calon nasabah yang modalnya kurang atau menengah dapat memperoleh barang-barang untuk kegiatan operasional dengan mudah dan cepat. Hal ini sungguh berbeda jika mengajukan kredit kepada bank konvensional yang memerlukan persyaratan serta jaminan yang besar, sehingga menghemat biaya dalam hal pengeluaran dana dibandingkan dengan membeli secara tunai. Salah satu perusahaan yang bergerak dibidang jasa pembiayaan adalah PT.FIF (Federal International Finance), merupakan anak perusahaan dari Astra Group Company (AGC) yang bergerak dibidang pembiayaan sepeda motor produksi Astra Honda Motor (AHM). PT. FIF berdiri pada tanggal 1 Mei 1989 dengan nama PT. Mitrapusaka Artha Finance yang bergerak dibidang multi finance dan pada tahun 1991 berubah nama menjadi PT. Federal International Finance setelah bergabung dibawah bendera perusahaan PT. Astra International Tbk. Kemudian PT. FIF ditempatkan pada Divisi Jasa Keuangan Pembiayaan Konsumen, yaitu pembiayaan kredit sepeda motor merek Honda produksi PT.AHM (Astra Honda Motor) dari Divisi Otomotif. PT. FIF yang fokus pada pembiayaan sepeda motor memiliki peluang untuk mendapatkan konsumen dari sektor agribisnis di Bogor, dimana warga Bogor sebanyak 33 persen memiliki mata pencaharian disektor agribisnis, seperti : pertanian, perkebunan, peternakan, agrowisata, perdagangan hasil pertanian dan lainnya. Dan ditambah dengan kondisi geografis wilayah di Bogor yang sebagian besar pegunungan dengan infrastruktur jalan secara umum kurang baik, telah membuka peluang untuk menawarkan kredit alat transportasi, seperti sepeda motor kepada pedagang ayam Broiler dan pedagang sayur yang diambil sampel dalam penelitian ini. Dalam menjalankan kegiatan usahanya PT. FIF memiliki kendala yang menjadi resiko dalam bisnis pembiayaan, seperti kredit macet. Dimana pada tahun 2008 PT. FIF membukukan asset bisnis sebesar 13 Triliun dengan nilai NPL (non perfoming loan) sebesar 6,2 persen, yang berada 1,2 persen lebih tinggi dibandingkan ketentuan dari Bank Indonesia untuk rasio NPL yang efektif, yaitu sebesar 5 persen. Tujuan penelitian ini merupakan respon terhadap fenomena hal tersebut diatas. Secara garis besar tujuan penelitian ini, adalah mempelajari fakor-faktor yang mempengaruhi tingkat kelancaran pengembalian kredit bagi pedagang ayam Broiler dan pedagang sayur. Penelitian ini dilakukan pada konsumen PT.FIF (Federal International Finance) cabang Bogor. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari catatan-catatan atau dokumen yang terdapat diberbagai instansi terkait, seperti perpustakaan, internet dan data-data yang berasal dari perusahaan. Kemudian data yang diperoleh diolah dengan menggunakan 2 alat analisis, yaitu analisis deskriptif dan alat analisis regresi logistik (logit). | en |