| dc.description.abstract | Sebagai faktor yang dominan, pertumbuhan populasi yang tinggi mengakibatkan peningkatan kebutuhan akan sumber daya alam, seperti kebutuhan akan makanan dan tempat tinggal. Pada akhirnya peningkatan tersebut menimbulkan masalah sosial yang kompleks dan masalah lingkungan, termasuk eksploitasi tanpa memperhitungkan kesesuaian dan kapasitasnya. Masalah-masalah tersebut dapat memutuskan rantai kehidupan atau menghentikan produksi. Pengembangan wilayah yang menyeluruh adalah prioritas utama dalam program pembangunan dan konservasi yang berkelanjutan. Hal tersebut memerlukan perencanaan yang tepat yang mempertimbangkan potensi dan kapasitas sumber daya alam, dan Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) yang dapat menditeksi penurunan kualitas Daerah Aliran Sungai, yang ditunjukkan oleh karakteristik hidrologi, yaitu respon DAS tersebut terhadap hujan. Tesis ini menggunakan Geographical Informations Sistem (GIS), dan model tangki pada kuantitas dan kualitas air untuk menyusun salah satu elemen dalam Manajemen DAS. Kombinasi tata guna lahan menjadi masukan untuk GIS, sementara keluaran GIS, yang menjadi masukan Model Tangki adalah Koefisien Tanaman (Kc). Keluaran Model Tangki adalah Debit air dan konsentrasi beberapa paramater kualitas air. Koefisien determinasi untuk Model Runoff, Model Turbidity, Model Ion Cl Soluble, Model Total Hardness, dan Model Electrical Conductivity adalah 84%, 8%, 9%, 77%, dan 84%, pada periode harian. Sebuah nilai Kc merupakan hasil kombinasi berbagai tata guna lahan, sehingga pada batas tertentu perubahan tata guna lahan dapat dilakukan selama nilai Ke nya tetap. Di daerah Padarincang, Ciomas, Mandalawangi, dan Cibojong, konversi hutan rawa menjadi lahan sawah, pada batas tertentu, dapat meningkatkan kualitas DAS berdasarkan rasio debit maksimum dan minimum. | |