Show simple item record

dc.contributor.advisorEkayanti, Ikeu
dc.contributor.advisorRiyadi, Hadi
dc.contributor.authorAeni, Rhizka Nurul
dc.date.accessioned2026-10-21T06:15:09Z
dc.date.available2026-10-21T06:15:09Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180147
dc.description.abstractSindrom metabolik adalah penyakit gabungan beberapa faktor berisiko seperti obesitas abdominal, ketidak mampuan tubuh menyerap insulin, tekanan darah tinggi, dan ketidakseimbangan lemak dalam darah yang dapat meningkatkan kemungkinan terkena penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Meskipun jumlah remaja yang mengalami sindrom metabolik lebih sedikit dibandingkan orang dewasa, gaya hidup mereka yang berubah, seperti konsumsi gula, garam, dan lemak yang tinggi, makanan ultra-proses yang banyak dikonsumsi, dan kurangnya aktivitas fisik membuat beberapa remaja lebih rentan mengalami masalah metabolisme sejak usia dini. Jika tidak dilakukan pencegahan, kondisi tersebut bisa terus berlangsung hingga dewasa dan meningkatkan kemungkinan terkena penyakit tidak menular. Di Indonesia, penelitian tentang risiko sindrom metabolik pada remaja yang menggunakan alat skrining berupa kuesioner masih belum banyak dilakukan. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan natara kebiasaan mengonsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) dan aktivitas fisik dengan risiko sindrom metabolik pada remaja di Kota Depok. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini yaitu 1) menilai karakteristik subjek yang terdiri dari karakteristik demografi remaja; 2) menganalisis status gizi, lingkar perut, risiko sindrom metabolik, dan konsumsi GGL pada remaja; 3) menganalisis hubungan konsumsi GGL dengan risiko sindrom metabolik pada remaja; 4) menganalisis hubungan aktivitas fisik dengan risiko sindrom metabolik pada remaja. 5) menganalisis hubungan konsumsi GGL, aktivitas fisik dengan risiko sindrom metabolik pada remaja dan faktor apa saja yang dapat berpengaruh pada risiko sindrom metabolik. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Data sekunder berasal dari penelitian Food Security, Physical and Mental Health among Adolescents in Depok, Indonesia dengan data data yang diambil yaitu: karakteristik subjek dan orang tua, data konsumsi, IPAQ, dan antropometri. Subjek sebanyak 119 orang berusia 15 sampai 18 tahun dipilih menjadi peserta penelitian berdasarkan kriteria yang ditentukan. Data karakteristik subjek, karakteristik orang tua, aktivitas fisik, antropometsi, dan konsumsi pangan didat melalui wawancara dan pengukuran. Konsumsi GGL dihitung menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) yang kemudian dikonversi menjadi asupan zat gizi. Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), sedangkan risiko sindrom metabolik dinilai menggunakan Metabolik Syndrome Risk Score for Adolescents yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat menggunakan uji Ch Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Analisis menggunakan perangkat lunak IB SPSS Statistics 27 dan Nutrisurvey. Hasil penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 43,7% subjek berusia 17 tahun dengan mayoritas subjek perempuan sebanyak 63,9%. Sebanyak 79,0% status obesitas subjek termasuk kategori normal dan sebanyak 21% termasuk kategori obesitas. Konsumsi GGL pada remaja cukup bervariasi. Beberapa asupan GGL memiliki angka yang cukup berlebih. Sebanyak 75,6% subjek memiliki asupan gula yang baik, sebanyak 94,9% subjek memiliki asupan natrium yang berlebih, sebanyak 55,4% subjek memiliki asupan lemak total yang lebih, dan sebanyak 97,5% memiliki asupan lemak trans yang lebih. Sementara itu pada asupan lemak jenuh, sebanyak 63,8% memiliki asupan yang baik dan sebanyak 55,4% subjek memiliki asupan kolesterol yang baik. Sebagian besar subjek memiliki aktivitas fisik yang rendah (71,9%) dan sebanyak 17,4% subjek berisiko sindrom metabolik. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara aktivitas fisik, status obesitas, dan risiko mengalami sindrom metabolik (p<0,05). Sebaliknya, asupan gula, natrium, lemak total, lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol belum menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Pada analisis multivariat menunjukkan bahwa konsumsi gula dan lemak trans tetap menjadi faktor yang meningkatkan seseorang mengalami risiko sindrom metabolik. Temuan ini menunjukkan bahwa pola makan yang terlalu banyak mengandung gula dan lemak trans masih harus diperhatikan karena dapat menyebabkan penumpukan lemak di area perut, gangguan dalam metabolisme lemak, serta ketidakmampuan insulin yang menjadi tanda dari sindrom metabolik. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik dan obesitas masih menjadi faktor paling sering terkait dengan peningkatan risiko sindrom metabolik pada remaja.
dc.description.abstractMetabolic syndrome is a condition that involves several risk factors such as abdominal obesity, the body's inability to properly use insulin, high blood pressure, and an imbalance of fats in the blood, which can increase the risk of developing heart disease and type 2 diabetes. Even though fewer teenagers experience metabolic syndrome compared to adults, their changing lifestyle—including high sugar, salt, and fat intake, heavy consumption of ultra-processed foods, and lack of physical activity—makes some teens more likely to develop metabolic issues at an early age. If preventive measures are not taken, this condition can continue into adulthood and increase the risk of developing non-communicable diseases. In Indonesia, research on the risk of metabolic syndrome in teenagers using a screening tool like a questionnaire is still not very common. This study was conducted to examine the relationship between the habit of consuming Sugar, Salt, and Fat (SSF) and physical activity levels with the risk of metabolic syndrome in teenagers in Depok City. The specific goals of this research are: 1) to assess the characteristics of the subjects, including the demographic features of teenagers; 2) to analyze the nutritional status, waist circumference, risk of metabolic syndrome, and consumption of high glycemic load food among teenagers; 3) to examine the relationship between high glycemic load food consumption and the risk of metabolic syndrome in teenagers; 4) to analyze the relationship between physical activity and the risk of metabolic syndrome in teenagers; 5) to evaluate the relationship between high glycemic load food consumption, physical activity, and the risk of metabolic syndrome in teenagers, as well as identify the factors that may influence this risk. This study uses a cross-sectional design with both primary and secondary data. The data seconds come from the research on Food Security, Physical and Mental Health among Adolescents in Depok, Indonesia, with the data collected including: subject and parent characteristics, consumption data, IPAQ, and anthropometry. A total of 119 subjects aged between 15 and 18 years old were selected as participants in the study based on specific criteria. Data about the subject's characteristics, parents' characteristics, physical activity, anthropometric measurements, and food consumption were collected through interviews and measurements. The intake of SSF is calculated using a Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ), which is then converted into nutrient intake. Physical activity is measured using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ), and metabolic syndrome risk is assessed using the Metabolic Syndrome Risk Score for Adolescents, which has been tested for validity and reliability. The data analysis was conducted descriptively, with bivariate analysis using the Chi Square test, and multivariate analysis using logistic regression at a 95% significance level. The analysis was conducted using the IB SPSS Statistics 27 software and the Nutrisurvey tool. The research results show that 43.7% of the subjects were 17 years old, with the majority being female, accounting for 63.9%. About 79% of the subjects fall into the normal weight category, while 21% are in the obese category. Konsumsi GGL pada remaja cukup bervariasi. Some SSF inputs have numbers that are quite excessive. 75.6% of the subjects had a good sugar intake, 94.9% had excessive sodium intake, 55.4% had higher total fat intake, and 97.5% had higher trans fat intake. Meanwhile, regarding saturated fat intake, 63.8% had good intake levels, and 55.4% of the subjects had good cholesterol intake. Most of the subjects had low physical activity (71.9%), and 17.4% of the subjects were at risk for metabolic syndrome. Bivariate analysis shows a significant relationship between physical activity, obesity status, and the risk of developing metabolic syndrome (p < 0.05). Multivariate analysis shows that consuming sugar and trans fats continues to be factors that increase a person's risk of developing metabolic syndrome. This finding shows that eating too much sugar and trans fats should still be avoided because it can lead to fat buildup in the abdomen, problems with how the body processes fat, and insulin resistance, which are signs of metabolic syndrome. In addition, lack of physical activity and obesity are still the most common factors linked to an increased risk of metabolic syndrome in teenagers.
dc.description.sponsorshipNeys-van Hoogstraten Foundation (NHF)
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Perilaku Konsumsi Gula, Garam, Lemak, dan Aktivitas Fisik terhadap Risiko Sindrom Metabolik pada Remaja di Kota Depokid
dc.title.alternativeAnalysis of Sugar, Salt, and Fat Consumption and Physical Activity in Relation to The Risk of Metabolic Syndrome among Adolescents in Depok.
dc.typeTesis
dc.subject.keywordaktivitas fisikid
dc.subject.keywordkonsumsi GGLid
dc.subject.keywordremajaid
dc.subject.keywordrisiko sindrom metabolikid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record