Analisis Perilaku Konsumsi Gula, Garam, Lemak, dan Aktivitas Fisik terhadap Risiko Sindrom Metabolik pada Remaja di Kota Depok
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Aeni, Rhizka Nurul
Ekayanti, Ikeu
Riyadi, Hadi
Metadata
Show full item recordAbstract
Sindrom metabolik adalah penyakit gabungan beberapa faktor berisiko
seperti obesitas abdominal, ketidak mampuan tubuh menyerap insulin, tekanan
darah tinggi, dan ketidakseimbangan lemak dalam darah yang dapat meningkatkan
kemungkinan terkena penyakit jantung dan diabetes tipe 2. Meskipun jumlah
remaja yang mengalami sindrom metabolik lebih sedikit dibandingkan orang
dewasa, gaya hidup mereka yang berubah, seperti konsumsi gula, garam, dan lemak
yang tinggi, makanan ultra-proses yang banyak dikonsumsi, dan kurangnya
aktivitas fisik membuat beberapa remaja lebih rentan mengalami masalah
metabolisme sejak usia dini. Jika tidak dilakukan pencegahan, kondisi tersebut bisa
terus berlangsung hingga dewasa dan meningkatkan kemungkinan terkena penyakit
tidak menular. Di Indonesia, penelitian tentang risiko sindrom metabolik pada
remaja yang menggunakan alat skrining berupa kuesioner masih belum banyak
dilakukan.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan natara kebiasaan
mengonsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL) dan aktivitas fisik dengan risiko
sindrom metabolik pada remaja di Kota Depok. Adapun tujuan khusus dari
penelitian ini yaitu 1) menilai karakteristik subjek yang terdiri dari karakteristik
demografi remaja; 2) menganalisis status gizi, lingkar perut, risiko sindrom
metabolik, dan konsumsi GGL pada remaja; 3) menganalisis hubungan konsumsi
GGL dengan risiko sindrom metabolik pada remaja; 4) menganalisis hubungan
aktivitas fisik dengan risiko sindrom metabolik pada remaja. 5) menganalisis
hubungan konsumsi GGL, aktivitas fisik dengan risiko sindrom metabolik pada
remaja dan faktor apa saja yang dapat berpengaruh pada risiko sindrom metabolik.
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data
primer dan data sekunder. Data sekunder berasal dari penelitian Food Security,
Physical and Mental Health among Adolescents in Depok, Indonesia dengan data
data yang diambil yaitu: karakteristik subjek dan orang tua, data konsumsi, IPAQ,
dan antropometri. Subjek sebanyak 119 orang berusia 15 sampai 18 tahun dipilih
menjadi peserta penelitian berdasarkan kriteria yang ditentukan. Data karakteristik
subjek, karakteristik orang tua, aktivitas fisik, antropometsi, dan konsumsi pangan
didat melalui wawancara dan pengukuran.
Konsumsi GGL dihitung menggunakan Semi Quantitative Food Frequency
Questionnaire (SQ-FFQ) yang kemudian dikonversi menjadi asupan zat gizi.
Aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical Activity Questionnaire
(IPAQ), sedangkan risiko sindrom metabolik dinilai menggunakan Metabolik
Syndrome Risk Score for Adolescents yang telah melalui uji validitas dan
reliabilitas. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat menggunakan uji Ch
Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan
95%. Analisis menggunakan perangkat lunak IB SPSS Statistics 27 dan
Nutrisurvey.
Hasil penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 43,7% subjek berusia 17
tahun dengan mayoritas subjek perempuan sebanyak 63,9%. Sebanyak 79,0% status obesitas subjek termasuk kategori normal dan sebanyak 21% termasuk
kategori obesitas. Konsumsi GGL pada remaja cukup bervariasi. Beberapa asupan
GGL memiliki angka yang cukup berlebih. Sebanyak 75,6% subjek memiliki
asupan gula yang baik, sebanyak 94,9% subjek memiliki asupan natrium yang
berlebih, sebanyak 55,4% subjek memiliki asupan lemak total yang lebih, dan
sebanyak 97,5% memiliki asupan lemak trans yang lebih. Sementara itu pada
asupan lemak jenuh, sebanyak 63,8% memiliki asupan yang baik dan sebanyak
55,4% subjek memiliki asupan kolesterol yang baik. Sebagian besar subjek
memiliki aktivitas fisik yang rendah (71,9%) dan sebanyak 17,4% subjek berisiko
sindrom metabolik.
Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara
aktivitas fisik, status obesitas, dan risiko mengalami sindrom metabolik (p<0,05).
Sebaliknya, asupan gula, natrium, lemak total, lemak jenuh, lemak trans, dan
kolesterol belum menunjukkan hubungan yang signifikan (p>0,05). Pada analisis
multivariat menunjukkan bahwa konsumsi gula dan lemak trans tetap menjadi
faktor yang meningkatkan seseorang mengalami risiko sindrom metabolik. Temuan
ini menunjukkan bahwa pola makan yang terlalu banyak mengandung gula dan
lemak trans masih harus diperhatikan karena dapat menyebabkan penumpukan
lemak di area perut, gangguan dalam metabolisme lemak, serta ketidakmampuan
insulin yang menjadi tanda dari sindrom metabolik. Selain itu, kurangnya aktivitas
fisik dan obesitas masih menjadi faktor paling sering terkait dengan peningkatan
risiko sindrom metabolik pada remaja. Metabolic syndrome is a condition that involves several risk factors such as
abdominal obesity, the body's inability to properly use insulin, high blood pressure,
and an imbalance of fats in the blood, which can increase the risk of developing
heart disease and type 2 diabetes. Even though fewer teenagers experience
metabolic syndrome compared to adults, their changing lifestyle—including high
sugar, salt, and fat intake, heavy consumption of ultra-processed foods, and lack of
physical activity—makes some teens more likely to develop metabolic issues at an
early age. If preventive measures are not taken, this condition can continue into
adulthood and increase the risk of developing non-communicable diseases. In
Indonesia, research on the risk of metabolic syndrome in teenagers using a
screening tool like a questionnaire is still not very common.
This study was conducted to examine the relationship between the habit of
consuming Sugar, Salt, and Fat (SSF) and physical activity levels with the risk of
metabolic syndrome in teenagers in Depok City. The specific goals of this research
are: 1) to assess the characteristics of the subjects, including the demographic
features of teenagers; 2) to analyze the nutritional status, waist circumference, risk
of metabolic syndrome, and consumption of high glycemic load food among
teenagers; 3) to examine the relationship between high glycemic load food
consumption and the risk of metabolic syndrome in teenagers; 4) to analyze the
relationship between physical activity and the risk of metabolic syndrome in
teenagers; 5) to evaluate the relationship between high glycemic load food
consumption, physical activity, and the risk of metabolic syndrome in teenagers, as
well as identify the factors that may influence this risk.
This study uses a cross-sectional design with both primary and secondary
data. The data seconds come from the research on Food Security, Physical and
Mental Health among Adolescents in Depok, Indonesia, with the data collected
including: subject and parent characteristics, consumption data, IPAQ, and
anthropometry. A total of 119 subjects aged between 15 and 18 years old were
selected as participants in the study based on specific criteria. Data about the
subject's characteristics, parents' characteristics, physical activity, anthropometric
measurements, and food consumption were collected through interviews and
measurements.
The intake of SSF is calculated using a Semi Quantitative Food Frequency
Questionnaire (SQ-FFQ), which is then converted into nutrient intake. Physical
activity is measured using the International Physical Activity Questionnaire
(IPAQ), and metabolic syndrome risk is assessed using the Metabolic Syndrome
Risk Score for Adolescents, which has been tested for validity and reliability. The
data analysis was conducted descriptively, with bivariate analysis using the Chi
Square test, and multivariate analysis using logistic regression at a 95% significance
level. The analysis was conducted using the IB SPSS Statistics 27 software and the
Nutrisurvey tool.
The research results show that 43.7% of the subjects were 17 years old, with
the majority being female, accounting for 63.9%. About 79% of the subjects fall
into the normal weight category, while 21% are in the obese category. Konsumsi
GGL pada remaja cukup bervariasi. Some SSF inputs have numbers that are quite
excessive. 75.6% of the subjects had a good sugar intake, 94.9% had excessive
sodium intake, 55.4% had higher total fat intake, and 97.5% had higher trans fat
intake. Meanwhile, regarding saturated fat intake, 63.8% had good intake levels,
and 55.4% of the subjects had good cholesterol intake. Most of the subjects had low
physical activity (71.9%), and 17.4% of the subjects were at risk for metabolic
syndrome.
Bivariate analysis shows a significant relationship between physical activity,
obesity status, and the risk of developing metabolic syndrome (p < 0.05).
Multivariate analysis shows that consuming sugar and trans fats continues to be
factors that increase a person's risk of developing metabolic syndrome. This finding
shows that eating too much sugar and trans fats should still be avoided because it
can lead to fat buildup in the abdomen, problems with how the body processes fat,
and insulin resistance, which are signs of metabolic syndrome. In addition, lack of
physical activity and obesity are still the most common factors linked to an
increased risk of metabolic syndrome in teenagers.

