Show simple item record

dc.contributor.advisorSumantri, Cece
dc.contributor.advisorPrabowo, Sigid
dc.contributor.advisorAnggraeni, Anneke
dc.contributor.authorPurnamasari, Gita Cempaka
dc.date.accessioned2026-10-12T08:21:06Z
dc.date.available2026-10-12T08:21:06Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/180098
dc.description.abstractCekaman panas merupakan salah satu faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kemampuan adaptasi dan respon fisiologis sapi perah. Karakteristik rambut berperan dalam proses pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan, sedangkan kandungan mineral rambut berpotensi memberikan informasi mengenai status mineral dan keterkaitannya dengan respon fisiologis ternak. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kondisi mikroklimat dan respon fisiologis sapi Friesian Holstein (FH) pada kondisi cekaman panas, menganalisis karakteristik morfologi rambut hitam dan putih serta hubungannya dengan respon fisiologis, serta menganalisis komposisi mineral rambut hitam dan putih serta hubungannya dengan respon fisiologis. Penelitian dilaksanakan pada Januari–Februari 2026 di Cibugary Farm, Pondok Ranggon, Jakarta Timur, menggunakan 30 ekor sapi FH periode laktasi. Kondisi mikroklimat diamati berdasarkan suhu udara dan kelembapan relatif untuk menentukan temperature humidity index. Respon fisiologis meliputi suhu rektal, suhu permukaan kulit, suhu tubuh, frekuensi pernapasan, denyut jantung, dan heat tolerance coefficient (HTC). Sampel rambut diambil dari enam bagian tubuh, yaitu kepala, leher, punggung, pinggul, rusuk, dan ekor, kemudian dianalisis berdasarkan panjang dan diameter. Kandungan mineral rambut dianalisis menggunakan Micro-XRF Bruker M4 Tornado. Data karakteristik rambut dan kandungan mineral dianalisis menggunakan independent t-test, sedangkan hubungan dengan respon fisiologis dianalisis menggunakan korelasi Pearson. PCA dilakukan secara eksploratif terhadap S, Ca, K, Cl, dan Na. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi FH mengalami cekaman panas kategori sedang dan menunjukkan respon fisiologis adaptif terhadap lingkungan panas. Rambut hitam lebih panjang dan berdiameter lebih besar dibandingkan rambut putih, kecuali pada bagian ekor. Diameter rambut hitam berkorelasi dengan frekuensi pernapasan, denyut jantung, dan HTC, sedangkan diameter rambut putih berkorelasi dengan suhu permukaan kulit. Sebanyak 15 unsur mineral terdeteksi pada rambut, dengan S sebagai unsur dengan kandungan tertinggi, sedangkan Ca dan Na menunjukkan perbedaan antara rambut hitam dan putih. Unsur Zn, Si, Cl, Mg, Mn, dan Al menunjukkan keterkaitan dengan respon fisiologis. PCA menunjukkan PC1 dan PC2 menjelaskan 78,1% keragaman kandungan mineral, meskipun nilai KMO dan MSA yang rendah menyebabkan analisis tersebut bersifat eksploratif.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleStudi Karakteristik Spesifik Rambut Sapi Friesian Holstein (FH) Terhadap Tingkat Kemampuan Toleransi Cekaman Panasid
dc.title.alternativeSpecific Hair Characteristics of Friesian Holstein (FH) Cattle in Relation to Heat Stress Tolerance
dc.typeTesis
dc.subject.keyworddairy cattleid
dc.subject.keywordhaircoat characteristicsid
dc.subject.keywordhair mineralid
dc.subject.keywordheat stressid
dc.subject.keywordphysiological responsesid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record