| dc.contributor.advisor | Nurhayati, Popong | |
| dc.contributor.advisor | Rokhani | |
| dc.contributor.author | Berliana, Rionaldi Rizki | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-19T03:38:34Z | |
| dc.date.available | 2026-08-19T03:38:34Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179734 | |
| dc.description.abstract | Sektor pariwisata di Kabupaten Bogor menunjukkan perkembangan yang cukup pesat, ditandai dengan meningkatnya jumlah wisatawan domestik dan bertambahnya jumlah usaha di bidang pariwisata, termasuk restoran, rumah makan, dan kafe. Perkembangan tersebut mendorong munculnya konsep restoran wisata alam sebagai salah satu amenitas yang mendukung pengalaman wisata. Restoran Pakis Hills Karunia Puncak Wisata merupakan salah satu restoran yang mengusung konsep wisata alam dengan mengombinasikan kuliner khas Bali dan suasana lingkungan yang asri. Namun demikian, restoran ini mengalami penurunan pendapatan meskipun kawasan wisata masih memiliki jumlah pengunjung yang relatif tinggi. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa penurunan pendapatan tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah pengunjung, tetapi juga dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian strategi bisnis dengan kebutuhan dan preferensi konsumen, kurang optimalnya nilai yang ditawarkan, efektivitas saluran pemasaran, hubungan dengan pelanggan, maupun perubahan lingkungan bisnis. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi bisnis restoran berdasarkan perspektif konsumen, mengevaluasi kinerja atribut layanan, menganalisis faktor internal dan eksternal, serta merumuskan strategi prioritas pengembangan bisnis Restoran Pakis Hills Karunia Puncak Wisata.
Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan memanfaatkan data primer dan data sekunder. Identifikasi kondisi bisnis Restoran Pakis Hills Karunia Puncak Wisata dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur kepada pihak internal restoran dengan mengacu pada sembilan elemen Business Model Canvas (BMC), yaitu customer segments, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships, dan cost structure. Analisis kesembilan elemen tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai model bisnis restoran, baik dari aspek pelanggan maupun aspek internal dan operasional bisnis. Evaluasi kinerja atribut layanan dilakukan menggunakan Importance Performance Analysis (IPA) berdasarkan hasil survei terhadap 60 responden konsumen yang dipilih secara purposive sampling. Selanjutnya, analisis lingkungan internal dan eksternal dilakukan menggunakan Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE) berdasarkan penilaian tujuh responden pakar. Hasil analisis IFE dan EFE dipetakan ke dalam Internal-External (IE) Matrix untuk menentukan posisi strategis perusahaan, sedangkan Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) digunakan untuk menentukan strategi prioritas pengembangan bisnis restoran.
Hasil identifikasi menggunakan sembilan elemen Business Model Canvas menunjukkan bahwa model bisnis Restoran Pakis Hills Karunia Puncak Wisata telah memiliki fondasi yang cukup kuat sebagai restoran wisata alam dengan konsep kuliner khas Bali dan pengalaman bersantap dalam lingkungan yang asri. Segmen pelanggan utama terdiri atas keluarga, korporasi, konsumen dewasa, serta individu yang memiliki ketertarikan terhadap lingkungan dan ekowisata. Nilai yang ditawarkan meliputi makanan khas Bali dengan harga terjangkau serta pengalaman bersantap dalam suasana alam yang nyaman dan ramah lingkungan, dengan media sosial seperti Instagram, TikTok, dan YouTube sebagai saluran komunikasi utama. Sumber pendapatan terutama berasal dari penjualan makanan dan minuman serta kegiatan atau acara tertentu, sedangkan sumber daya utama mencakup fasilitas restoran, sumber daya manusia, dan lingkungan alam yang menjadi bagian dari identitas bisnis. Aktivitas utama meliputi penyediaan makanan dan minuman, pelayanan pelanggan, pemeliharaan lingkungan, serta promosi digital, yang didukung oleh kemitraan dengan pemasok dan mitra promosi. Struktur biaya terutama terdiri atas biaya bahan baku, tenaga kerja, operasional, pemeliharaan fasilitas dan lingkungan, serta promosi. Meskipun demikian, hubungan dengan pelanggan masih bersifat reaktif dan belum didukung program loyalitas yang terstruktur, sementara kecepatan pelayanan pada kondisi ramai, diversifikasi sumber pendapatan, dan pengembangan kemitraan strategis masih perlu ditingkatkan.
Hasil Importance Performance Analysis (IPA) menunjukkan bahwa secara umum kinerja strategi pengembangan bisnis restoran berada pada kategori cukup baik, namun belum sepenuhnya mampu memenuhi harapan konsumen. Nilai rata-rata kepentingan konsumen lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata kinerja sehingga menunjukkan adanya kesenjangan antara harapan dan kinerja aktual restoran. Sebagian besar atribut layanan berada pada Kuadran II (Keep Up the Good Work), yang menunjukkan bahwa kualitas produk, kesesuaian harga, kenyamanan tempat, kebersihan, dan keamanan telah memenuhi harapan konsumen sehingga perlu dipertahankan. Sebaliknya, atribut potongan harga atau promosi serta kecepatan penyajian makanan berada pada Kuadran I (Concentrate Here), sehingga menjadi prioritas utama dalam perbaikan strategi pengembangan bisnis restoran.
Hasil analisis lingkungan internal menunjukkan bahwa Restoran Pakis Hills memiliki skor IFE sebesar 3,16, yang mengindikasikan kondisi internal yang kuat. Kekuatan utama restoran terletak pada kualitas rasa makanan yang konsisten, suasana restoran yang nyaman dan menyatu dengan alam, serta tersedianya metode pembayaran yang beragam. Di sisi lain, kelemahan utama meliputi kecepatan pelayanan pada jam ramai, variasi menu yang masih terbatas, dan promosi digital yang belum optimal. Analisis lingkungan eksternal menghasilkan skor EFE sebesar 3,08, yang menunjukkan bahwa restoran memiliki kemampuan yang baik dalam memanfaatkan peluang dan menghadapi ancaman. Peluang utama berasal dari dukungan pemerintah terhadap sektor pariwisata, meningkatnya daya beli masyarakat terhadap wisata kuliner, berkembangnya tren wisata berbasis pengalaman, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi. Ancaman yang dihadapi meliputi ketergantungan operasional terhadap kondisi cuaca dan meningkatnya persaingan restoran di kawasan wisata. Berdasarkan pemetaan pada Matriks Internal-External (IE), Restoran Pakis Hills berada pada Sel I (Grow and Build), sehingga strategi yang direkomendasikan adalah strategi pertumbuhan melalui pendekatan intensif.
Berdasarkan hasil analisis Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) diperoleh tiga alternatif strategi, yaitu penetrasi pasar, pengembangan produk, dan pengembangan pasar. Strategi pengembangan pasar memperoleh nilai Total Sum Attractiveness Score (STAS) tertinggi sebesar 6,84, diikuti strategi pengembangan produk sebesar 6,83, dan strategi penetrasi pasar sebesar 5,40. Meskipun selisih nilai antara strategi pengembangan pasar dan pengembangan produk hanya sebesar 0,01, strategi pengembangan pasar dipilih sebagai strategi prioritas karena lebih mampu memanfaatkan kekuatan internal restoran dan peluang eksternal melalui perluasan jangkauan pasar, kerja sama dengan sektor pariwisata, serta optimalisasi media sosial dan platform digital. Strategi pengembangan produk direkomendasikan sebagai strategi pendukung untuk meningkatkan variasi menu dan diferensiasi produk, sedangkan strategi penetrasi pasar berperan sebagai strategi pelengkap dalam mempertahankan loyalitas pelanggan. Implementasi ketiga strategi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing, memperluas pangsa pasar, meningkatkan kepuasan pelanggan, serta mendukung pertumbuhan bisnis Restoran Pakis Hills Karunia Puncak Wisata secara berkelanjutan. | |
| dc.description.abstract | The tourism sector in Bogor Regency has experienced significant growth, as indicated by the increasing number of domestic visitors and the expansion of tourism-related businesses, including restaurants, cafés, and culinary establishments. This development has encouraged the emergence of nature-based restaurants as supporting amenities for tourism destinations. Pakis Hills Karunia Puncak Wisata Restaurant is one of the restaurants adopting this concept by combining Balinese cuisine with a natural dining environment. However, despite the relatively high number of visitors to the tourism area, the restaurant has experienced a decline in revenue. This condition suggests that decreasing revenue is not solely caused by the number of visitors but may also result from the mismatch between business strategies and customer needs, ineffective value propositions, marketing channels, customer relationship management, and changes in the business environment. Therefore, this study aimed to identify the restaurant's business condition from the customer perspective, evaluate service performance, analyze internal and external strategic factors, and formulate priority business development strategies.
The study employed a mixed-methods approach utilizing both primary and secondary data. The business conditions of Pakis Hills Karunia Puncak Wisata Restaurant were identified through semi-structured interviews with the restaurant’s internal stakeholders, referring to the nine elements of the Business Model Canvas (BMC), namely customer segments, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships, and cost structure. The analysis of these nine elements was conducted to obtain a comprehensive overview of the restaurant’s business model, encompassing both customer-related aspects and internal and operational business aspects. Service performance was evaluated using Importance Performance Analysis (IPA) based on questionnaires completed by 60 customers selected through purposive sampling. Furthermore, internal and external strategic factors were analyzed using the Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) matrices based on assessments from seven expert respondents. The results of the IFE and EFE analyses were then mapped into the Internal-External (IE) Matrix to determine the restaurant's strategic position, while the Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) was applied to determine the priority business development strategy.
The identification based on the nine elements of the Business Model Canvas indicates that the business model of Pakis Hills Karunia Puncak Wisata Restaurant has a relatively strong foundation as a nature-based restaurant, combining Balinese cuisine with a dining experience in a pleasant natural environment. The main customer segments comprise families, corporate customers, adults, and individuals interested in environmental conservation and ecotourism. The value propositions include Balinese cuisine at affordable prices and a comfortable and environmentally friendly dining experience, with social media platforms such as Instagram, TikTok, and YouTube serving as the primary communication channels. The main revenue streams are generated from food and beverage sales as well as specific events and activities, while key resources include restaurant facilities, human resources, and the natural environment that forms an integral part of the restaurant’s business identity. Key activities comprise food and beverage provision, customer service, environmental maintenance, and digital promotion, supported by partnerships with suppliers and promotional partners. The cost structure primarily consists of raw material, labor, operational, facility and environmental maintenance, and promotional costs. Nevertheless, customer relationships remain largely reactive and are not yet supported by structured loyalty programs, while service speed during peak periods, revenue stream diversification, and the development of strategic partnerships require further improvement.
The results of the Importance Performance Analysis (IPA) indicate that the restaurant's overall business strategy performance is relatively good but has not fully met customer expectations. The average importance score exceeded the average performance score, indicating a gap between customer expectations and actual service performance. Most service attributes were positioned in Quadrant II (Keep Up the Good Work), demonstrating that product quality, price suitability, dining comfort, cleanliness, and customer safety have met customer expectations and should be maintained. However, promotional programs and food serving speed were positioned in Quadrant I (Concentrate Here), indicating that these attributes should become the highest priorities for improvement.
The internal strategic analysis produced an IFE score of 3.16, indicating a strong internal condition. The restaurant's primary strengths include consistent food quality, a comfortable natural atmosphere, and the availability of both cash and cashless payment methods. Its main weaknesses involve slow service during peak hours, limited menu variety, and suboptimal digital promotion. Meanwhile, the external strategic analysis generated an EFE score of 3.08, suggesting that the restaurant has a strong ability to capitalize on external opportunities while responding to potential threats. Major opportunities include government support for tourism, increasing demand for culinary tourism, the growing trend of experience-based tourism, and the expansion of digital media as promotional platforms. The main threats are weather dependency and increasing competition among restaurants in tourism destinations. Based on the Internal-External (IE) Matrix, the restaurant is positioned in Cell I (Grow and Build), indicating that intensive growth strategies are the most appropriate strategic direction.
The Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM) identified three strategic alternatives: market penetration, product development, and market development. Market development achieved the highest Total Sum Attractiveness Score (STAS) of 6.84, followed closely by product development (6.83) and market penetration (5.40). Although the difference between market development and product development was only 0.01, market development was selected as the priority strategy because it provides greater opportunities to expand market coverage, strengthen collaboration with tourism stakeholders, and optimize digital marketing and social media promotion. Product development is recommended as a supporting strategy to enhance menu variety and product differentiation, while market penetration serves as a complementary strategy to strengthen customer loyalty. The implementation of these strategies is expected to improve competitiveness, expand market share, increase customer satisfaction, and support the sustainable growth of Pakis Hills Karunia Puncak Wisata Restaurant. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Strategi Pengembangan Bisnis Restoran Pakis Hills Karunia Puncak Wisata Bogor | id |
| dc.title.alternative | Business Development Strategy for Pakis Hills Restaurant, Karunia Puncak Wisata Bogor | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | business model canvas | id |
| dc.subject.keyword | importance performance analysis | id |
| dc.subject.keyword | Quantitative Strategic Planning Matrix | id |
| dc.subject.keyword | restoran wisata | id |
| dc.subject.keyword | Strategi Pengembangan Bisnis | id |
| dc.subtype | Theses | |