Show simple item record

dc.contributor.advisorKhomsan, Ali
dc.contributor.advisorDwiriani, Cesilia Meti
dc.contributor.authorAzhar, Anastasya Adawiah
dc.date.accessioned2026-08-15T08:55:41Z
dc.date.available2026-08-15T08:55:41Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/179520
dc.description.abstractStunting pada balita masih menjadi masalah gizi penting karena berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, produktivitas, dan kualitas sumber daya manusia pada masa depan. Kabupaten Enrekang merupakan salah satu wilayah pertanian dengan prevalensi stunting yang masih tinggi. Wilayah pertanian memiliki karakteristik yang khas, baik dari sisi ketahanan pangan rumah tangga, pola konsumsi, praktik pengasuhan, higiene sanitasi, penyakit infeksi, maupun potensi paparan pestisida. Perbedaan subsektor pertanian, seperti tanaman pangan dan hortikultura, juga dapat membentuk kondisi sosial ekonomi, pangan, dan lingkungan yang berbeda. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk memahami faktor gizi dan lingkungan yang berkaitan dengan stunting pada balita di wilayah pertanian secara lebih kontekstual. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan faktor gizi, faktor lingkungan, dan prevalensi stunting antara wilayah pertanian tanaman pangan dan hortikultura; menganalisis hubungan faktor gizi dan lingkungan dengan stunting pada balita; serta mengidentifikasi faktor yang paling berpengaruh terhadap stunting balita di wilayah pertanian Kabupaten Enrekang. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Penelitian dilakukan pada Januari 2026 di wilayah tanaman pangan (padi) dan hortikultura (bawang merah). Subjek penelitian berjumlah 148 balita usia 24–59 bulan, terdiri atas 74 balita dari wilayah tanaman pangan dan 74 balita dari wilayah hortikultura. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara karakteristik balita dan keluarga, ketahanan pangan rumah tangga, praktik pemberian makan responsif, higiene dan sanitasi lingkungan, paparan pestisida, riwayat penyakit infeksi, serta recall 24 jam. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan binary logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting secara keseluruhan sebesar 42,6%. Prevalensi stunting lebih tinggi pada wilayah hortikultura dibandingkan wilayah tanaman pangan, yaitu 58,1% dan 27,0%. Ketahanan pangan rumah tangga berbeda signifikan antarwilayah, dengan proporsi rumah tangga tahan pangan lebih tinggi pada wilayah hortikultura, sedangkan kerawanan pangan lebih banyak ditemukan pada wilayah tanaman pangan. Praktik pemberian makan responsif tidak berbeda antarwilayah dan sebagian besar ibu telah berada pada kategori baik. Higiene dan sanitasi lingkungan berbeda signifikan, dengan kondisi kurang lebih banyak ditemukan pada wilayah hortikultura. Riwayat penyakit infeksi lebih banyak ditemukan pada wilayah tanaman pangan. Paparan pestisida tidak berbeda signifikan antarwilayah, tetapi sebagian besar rumah tangga berada pada kategori paparan tinggi. Asupan dan tingkat kecukupan zat gizi menunjukkan bahwa balita di wilayah tanaman pangan cenderung memiliki kecukupan protein, zat besi, dan seng yang lebih baik dibandingkan balita di wilayah hortikultura. Namun, masalah kecukupan zat gizi masih ditemukan pada kedua wilayah. Analisis hubungan menunjukkan bahwa seluruh variabel tidak berhubungan secara signifikan terhadap stunting. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa tinggal di wilayah hortikultura dan tingkat kecukupan energi yang kurang merupakan faktor paling berpengaruh terhadap stunting. Temuan penting penelitian ini menunjukkan bahwa balita di wilayah hortikultura memiliki beban stunting yang lebih tinggi meskipun wilayah tersebut memiliki proporsi rumah tangga tahan pangan dan pendapatan yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa risiko stunting di wilayah pertanian tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekonomi dan ketahanan pangan rumah tangga, tetapi juga dipengaruhi oleh kualitas asupan gizi, higiene sanitasi, penyakit infeksi, serta karakteristik lingkungan pertanian. Implikasi penelitian ini adalah perlunya strategi pencegahan stunting yang disesuaikan dengan karakteristik subsektor pertanian.
dc.description.sponsorshipMandiri
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Faktor Gizi dan Lingkungan terhadap Prevalensi Stunting pada Balita di Wilayah Pertanian Kabupaten Enrekangid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordBalitaid
dc.subject.keywordFaktor Giziid
dc.subject.keywordFaktor lingkunganid
dc.subject.keywordStuntingid
dc.subject.keywordWilayah Pertanianid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record