Analisis Readiness Level Industri 4.0 pada Agroindustri
Abstract
Industri 4.0 mendorong perusahaan mengintegrasikan teknologi digital, data, SDM, dan proses operasi untuk meningkatkan daya saing. Pada agroindustri, transformasi ini penting karena terkait bahan baku, proses produksi, mutu, rantai pasok, dan kebutuhan pelanggan. Namun, kesiapan perusahaan masih beragam. INDI 4.0 mengukur kesiapan melalui lima pilar dan 17 bidang, tetapi nilai rata-rata dapat menutupi bidang yang lemah. Karena itu, hasil asesmen perlu dilengkapi dengan prioritas perbaikan bertahap. Penelitian ini bertujuan mengukur kesiapan Industri 4.0 pada tiga perusahaan agroindustri menggunakan INDI 4.0, menentukan prioritas perbaikan, dan mengusulkan metode pelaporan yang membedakan Level 0–2 dan Level 3–4. Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif pada April–Juni 2025 pada PT A, PT B, dan PT C. Data diperoleh melalui kuesioner, wawancara, dokumen, dan studi literatur. Penilaian mencakup lima pilar, 17 bidang, dan Level 0–4 dengan bobot resmi INDI 4.0. Simulasi dilakukan dengan meningkatkan satu level pada bidang terendah dalam pilar dengan nilai terbobot terendah. Nilai dihitung ulang pada setiap tahap untuk menentukan prioritas berikutnya. Hasil awal menunjukkan PT A berada pada Level 2 (2,35208), PT B Level 3 (2,56667), dan PT C Level 2 (1,94167). PT A memiliki kelemahan pada layanan berbasis data, kustomisasi, sistem cerdas, dan perawatan cerdas. PT B memiliki skor lebih merata, sedangkan PT C memiliki kelemahan pada keamanan siber, manajemen, budaya, dan teknologi. Setelah tiga tahap simulasi, PT A meningkat menjadi 2,68750 dan naik ke Level 3. PT B meningkat menjadi 2,90208 dan tetap Level 3, sedangkan PT C meningkat menjadi 2,18958 dan tetap Level 2. Prioritas PT A meliputi layanan berbasis data dan sistem cerdas; PT B meliputi pemanfaatan data, integrasi sistem, digitalisasi, dan proses otonom; sedangkan PT C meliputi keamanan siber, layanan berbasis data, kustomisasi, dan sistem cerdas. Hasil ini menunjukkan bahwa strategi transformasi perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing perusahaan. Rata-rata ketiga perusahaan setelah simulasi mencapai 2,59306 atau Level 3, meskipun PT C secara individual masih Level 2. Kondisi ini menunjukkan bahwa rata-rata dapat menyamarkan kesenjangan kesiapan. Penelitian mengusulkan penggunaan indeks INDI 4.0 tetap disertai distribusi skor bidang dan pengelompokan Level 0–2 serta Level 3–4. Pendekatan ini dapat membantu menentukan prioritas perbaikan dan program pembinaan. Penelitian selanjutnya perlu melibatkan lebih banyak perusahaan dan membandingkan metode ini dengan analisis sensitivitas.
Collections
- MF - Agriculture Technology [2545]

