Meta-Analisis Prevalensi Bakteri Indikator dan Patogen Resisten Antibiotik pada Produk Perikanan Ritel di Asia dan Eropa
Date
2026Author
Tias, Tri Lestari Ning
Nurjanah, Siti
Kusumaningrum, Harsi Dewantari
Metadata
Show full item recordAbstract
Bakteri yang bersifat resisten terhadap antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR) menjadi salah satu persoalan krusial terhadap keamanan pangan sekaligus kesehatan masyarakat secara global. Permasalahan tersebut sering ditemukan pada rantai pangan, termasuk di dalamnya produk perikanan, menempati posisi strategis sebagai jalur perpindahan bakteri resisten dari ekosistem perairan ke tubuh manusia. Kedudukan Asia sebagai produsen akuakultur terbesar dunia berhadapan dengan Eropa yang menerapkan sistem regulasi keamanan pangan relatif ketat, sehingga kedua kawasan tersebut menampilkan profil risiko yang berbeda. Bertolak dari kondisi ini, penelitian dilakukan untuk merangkum sekaligus membandingkan prevalensi bakteri indikator maupun patogen resisten antibiotik pada produk perikanan segar di tingkat ritel antara Asia dan Eropa, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang menyebabkan variasi tersebut melalui pendekatan meta-analisis.
Penyusunan studi ini merujuk pada pedoman PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses), dengan tahapan penelitian meliputi perumusan pertanyaan penelitian, penetapan strategi penelusuran literatur, penentuan kriteria inklusi dan eksklusi, seleksi artikel dari basis data, ekstraksi data, hingga penilaian risiko bias serta analisis statistik. Sebanyak 33 artikel ilmiah yang terbit pada rentang 2015–2025 dan berasal dari basis data bereputasi berhasil diinklusi dalam analisis, dengan akumulasi 26.863 isolat bakteri yang mencakup 9 spesies bakteri indikator dan patogen. Selanjutnya, data yang telah dihimpun diolah menggunakan perangkat lunak R melalui model efek acak dan metode DerSimonian–Laird (DL) untuk menghitung effect size berupa estimasi prevalensi gabungan (pooled prevalence), tingkat heterogenitas antarstudi, serta penilaian bias publikasi. Adapun analisis subgrup dilakukan berdasarkan kawasan geografis, tipe ritel (pasar tradisional dan pasar modern), jenis komoditas perikanan (ikan/finfish, krustase, moluska), jenis bakteri indikator dan patogen, serta golongan antibiotik yang diuji baik secara fenotipik maupun genotipik.
Hasil meta-analisis mengindikasikan bahwa prevalensi bakteri resisten antibiotik pada produk perikanan ritel di Asia dan Eropa secara keseluruhan mencapai 23,96% (95% CI: 17,14–31,50%; N= 26.863 isolat). Nilai tersebut memperlihatkan kesenjangan antarkawasan, dengan Asia mencatatkan prevalensi sebesar 25,70% (95% CI: 18,24–33,95%; N=21.919 isolat), lebih tinggi dibandingkan Eropa yang berada pada angka 20,03% (95% CI: 5,96–29,55%; N= 4.944 isolat). Lebih lanjut, analisis subgrup mengungkap bahwa kawasan geografis, tipe ritel, jenis produk perikanan, spesies bakteri, serta golongan antibiotik merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat prevalensi bakteri AMR serta turut menyumbang heterogenitas hasil meta-analisis. Berdasarkan jenis ritel dan kategori produk perikanan, subgrup pasar tradisional menunjukkan prevalensi tertinggi (30,36%; 95% CI: 22,12–39,29%; N= 13.821 isolat), demikian pula kelompok krustasea (25,27%; 95% CI: 16,88–35,60%; N= 13.483 isolat) yang memiliki presentase lebih tinggi daripada kelompok produk perikanan lainnya. Sementara itu, pada subgrup spesies bakteri, Vibrio parahaemolyticus (30,38%; 95% CI: 19,22–42,85%; N= 9.097 isolat), tercatat sebagai patogen dengan prevalensi tertinggi, sedangkan Enterococcus faecalis (27,13%; 95% CI: 0,00–100,0%; N= 924 isolat) menempati posisi teratas sebagai bakteri indikator dengan prevalensi bakteri AMR paling besar.
Dari sisi profil resistensi fenotipik, dominasi resistensi tampak pada antibiotik ampisilin (64,11%; N= 1.259 isolat), streptomisin (43,43%; N= 709 isolat), dan tetrasiklin (39,76%; N= 1.350 isolat). Sejalan dengan itu, penelusuran genotipik memperlihatkan prevalensi gen blaTEM (42,16%; N= 1.058 isolat), tetA/tetB (40,75%; N= 714 isolat), dan strA/strB (37,45%; N= 422 isolat). Kesesuaian antara pola fenotipik tersebut dengan keberadaan gen resistensi utama diantaranya gen blaTEM, strA/strB, serta tetA/tetB mengisyaratkan bahwa tekanan seleksi akibat penggunaan antibiotik telah turut memantapkan gen resistensi pada bakteri yang bersirkulasi dalam rantai pangan. Penilaian bias publikasi pada studo terpilih, dilakukan uji Rosenthal's fail-safe number (Nfs), yang hasilnya menunjukkan estimasi prevalensi secara keseluruhan maupun di kawasan Asia tergolong robust (nilai Nfs melampaui 5n+10), sedangkan estimasi di Eropa berada di bawah ambang batas tersebut sehingga interpretasinya perlu dilakukan dengan lebih cermat.
Perbedaan prevalensi antara Asia dan Eropa tidak hanya bersumber dari karakteristik biologis maupun aspek teknis produksi, melainkan juga terkait dengan disparitas kekuatan dan konsistensi kebijakan pengendalian antibiotik di masing-masing kawasan. Rendahnya prevalensi di Eropa, misalnya, sejalan dengan penerapan kebijakan antibiotik yang ketat dan terintegrasi melalui pendekatan One Health, mencakup pembatasan penggunaan antibiotik veteriner serta penguatan sistem pengawasan bakteri AMR berbasis pangan. Sebaliknya, praktik penggunaan antibiotik yang masih meluas di Asia berbanding lurus dengan tingginya prevalensi bakteri AMR sekaligus dominasi gen resistensi pada isolat bakteri yang ditemukan.
Kebaruan penelitian ini terletak pada perpaduan antara meta-analisis kuantitatif prevalensi bakteri AMR dengan analisis korelatif profil resistensi fenotipik-genotipik, serta perbandingan kerangka kebijakan antibiotik antarkawasan. Secara umum, hasil penelitian ini menegaskan bahwa produk perikanan ritel di Asia menghadapi risiko paparan bakteri AMR yang lebih tinggi dibandingkan Eropa, yang berkaitan erat dengan intensitas penggunaan antibiotik dalam akuakultur serta faktor paparan lingkungan. Di sisi lain, rendahnya prevalensi di Eropa mencerminkan efektivitas penerapan regulasi berbasis One Health serta larangan penggunaan Antibiotic Growth Promoters (AGP), kendati risiko yang berasal dari produk impor tetap perlu diwaspadai. Selain itu, penelitian ini merekomendasikan pengintegrasian surveilans berbasis molekuler ke dalam sistem keamanan pangan nasional Indonesia, mengingat pengujian fenotipik semata dinilai belum memadai untuk mendeteksi gen resistensi yang tidak terekspresi (silent genes). Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi landasan ilmiah bagi perumusan kebijakan nasional yang berorientasi pada penurunan prevalensi bakteri AMR, sekaligus menjaga keberlanjutan sektor perikanan dan ketahanan keamanan pangan nasional.
Collections
- MF - Agriculture Technology [2545]

