KETERKAITAN EKOSISTEM LAMUN DENGAN BIOMASSA FITOPLANKTON DAN INDIKATOR PRODUKTIVITAS PRIMER DI PESISIR PULAU ENGGANO, BENGKULU
Date
2026Author
Putri, Wulantika Irza Savira
Bengen, Dietriech Geoffrey
Rastina
Adriani
Metadata
Show full item recordAbstract
Ekosistem lamun merupakan komponen penting perairan pesisir karena
berfungsi sebagai produsen primer, habitat biota, perangkap dan penstabil sedimen,
serta penghubung siklus bahan organik dan unsur hara. Pulau Enggano, perbedaan
keterbukaan terhadap Samudera Hindia, karakteristik sedimen, dan fase pasang
surut membentuk heterogenitas habitat yang berpotensi memengaruhi kondisi
padang lamun dan komunitas fitoplankton. Penelitian ini bertujuan menganalisis
variasi spasial kondisi ekosistem lamun, karakteristik sedimen dan kualitas
perairan; mendeskripsikan variasi nutrien, klorofil-a dan struktur komunitas
fitoplankton antarstasiun serta pada kondisi pasang dan surut; dan mengevaluasi
keterkaitan antar-komponen tersebut sebagai indikator proses produktif perairan
pesisir. Penelitian dilaksanakan pada September 2024 di tujuh stasiun. Pengamatan
lamun dilakukan menggunakan transek garis dan kuadrat 0,5m × 0,5m. Suhu,
salinitas, pH, dan oksigen terlarut diukur in situ, sedangkan sedimen, nitrat,
ortofosfat, dan klorofil-a dianalisis di laboratorium. Fitoplankton dikoleksi
menggunakan plankton net 30 µm dan diidentifikasi sampai tingkat genus. Struktur
komunitas dianalisis menggunakan indeks Shannon-Wiener, keseragaman, dan
dominansi. Pola keterkaitan multivariat dieksplorasi menggunakan Principal
Component Analysis (PCA). Delapan spesies lamun ditemukan, yaitu Enhalus
acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Cymodocea serrulata,
Cymodocea rotundata, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, dan Syringodium
isoetifolium. Tutupan total lamun yang dilaporkan berkisar 19,73-88,03%,
sedangkan kerapatan berkisar 239-707 tegakan m². Sedimen bervariasi dari
dominasi pasir halus dan lanau hingga pasir sedang. Suhu berkisar 30,2-33,3 °C,
salinitas 27,7-38,0, pH 7,1-8,4, dan oksigen terlarut 7,0-12,9 mg L?¹. Nitrat pada
kondisi pasang berkisar dari <0,015 hingga 0,216 mg L?¹ karena satu nilai berada
di bawah batas deteksi metode (0,015 mg L?¹), sedangkan pada kondisi surut
berkisar 0,016-0,215 mg L?¹. Ortofosfat berkisar 0,010-0,062 mg L?¹ saat pasang
dan 0,020-0,064 mg L?¹ saat surut. Klorofil-a berkisar 0,274-1,736 µg L?¹ saat
pasang dan 0,002-1,087 µg L?¹ saat surut. Komunitas fitoplankton didominasi
Bacillariophyceae, dengan keanekaragaman rendah sampai sedang. PCA
menunjukkan adanya gradien habitat yang mengaitkan karakteristik sedimen dan
kualitas perairan dengan pola nutrien, klorofil-a, serta indikator komunitas
fitoplankton. Klorofil-a digunakan sebagai proksi biomassa fitoplankton,
sedangkan jumlah organisme hasil pencacahan diperlakukan sebagai data
komposisi relatif karena satuan kelimpahan absolut belum dapat distandardisasi.
Laju fotosintesis atau fiksasi karbon tidak diukur secara langsung, penelitian ini
tidak mengestimasi laju produktivitas primer; klorofil-a dan komunitas fitoplankton
hanya digunakan sebagai indikator proses produktif.
Collections
- MF - Fisheries [3359]

