Show simple item record

dc.contributor.advisorYulianto, Gatot
dc.contributor.advisorKurniawan, Fery
dc.contributor.authorRafi, Salman
dc.date.accessioned2026-08-14T07:12:25Z
dc.date.available2026-08-14T07:12:25Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178910
dc.description.abstractEkowisata mangrove merupakan bentuk pemanfaatan ekosistem pesisir yang mengintegrasikan fungsi konservasi, pendidikan lingkungan, rekreasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Pengelolaan kawasan di Indonesia menerapkan berbagai model tata kelola, yaitu berbasis pemerintah, swasta, dan masyarakat, yang memiliki perbedaan kapasitas kelembagaan, mekanisme pengambilan keputusan, pelibatan pemangku kepentingan, serta implementasi pengelolaan. Perbedaan karakteristik tata kelola tersebut berpotensi menghasilkan capaian keberlanjutan yang berbeda pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Kajian komparatif yang mengintegrasikan penilaian keberlanjutan multidimensi, persepsi masyarakat, dan perumusan strategi prioritas pada ketiga model tata kelola tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis status keberlanjutan, menganalisis persepsi masyarakat terhadap pengelolaan kawasan, serta merumuskan strategi pengelolaan yang berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan pada Juni hingga Agustus 2025 di Ketapang Urban Aquaculture (KUA), Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, dan Saung Alas yang merepresentasikan model pengelolaan berbasis pemerintah, swasta, dan masyarakat. Status keberlanjutan dianalisis menggunakan Rapid Appraisal for Fisheries (RAPFISH) yang dimodifikasi menjadi Rapid Appraisal for Mangrove Tourism (Rap_MTourism) melalui pendekatan Multidimensional Scaling (MDS) pada dimensi ekologi, ekonomi, sosial, dan kelembagaan. Persepsi masyarakat dianalisis menggunakan skala Likert dan analisis deskriptif persentase, sedangkan strategi prioritas dirumuskan menggunakan Analytic Network Process (ANP). Setiap model tata kelola menghasilkan tingkat keberlanjutan yang berbeda. TWA Angke Kapuk yang dikelola oleh pihak swasta memperoleh indeks keberlanjutan tertinggi dengan nilai ekologi 86,37, ekonomi 87,92, sosial 65,29, dan kelembagaan 84,46. KUA yang dikelola pemerintah memperoleh nilai ekologi 84,94, ekonomi 72,53, sosial 52,67, dan kelembagaan 47,91, menunjukkan kondisi ekologi yang baik, tetapi masih memerlukan penguatan pada aspek kelembagaan. Saung Alas yang dikelola berbasis masyarakat memperoleh nilai ekologi 29,39, ekonomi 50,81, sosial 36,83, dan kelembagaan 42,37, tantangan keberlanjutan masih dominan pada dimensi ekologi, sosial, dan kelembagaan. Analisis persepsi masyarakat memperlihatkan bahwa ketiga kawasan berada pada kategori tinggi, yaitu KUA sebesar 72,96%, Saung Alas 72,29%, dan TWA Angke Kapuk 70,89%. Persepsi masyarakat yang tinggi belum selalu sejalan dengan tingkat keberlanjutan kawasan berdasarkan hasil analisis multidimensi. Temuan tersebut menjadi dasar perumusan strategi menggunakan ANP. Dimensi ekologi menjadi kriteria prioritas dengan bobot 0,34, diikuti kelembagaan 0,29, ekonomi 0,18, dan sosial 0,12. Prioritas strategi meliputi penguatan ii konservasi dan rehabilitasi ekosistem mangrove secara terpadu 0,32, penguatan tata kelola kolaboratif (0,27), penguatan ekonomi masyarakat berbasis ekowisata (0,21), serta peningkatan kapasitas masyarakat dan pemangku kepentingan (0,20). Penelitian ini menunjukkan bahwa model tata kelola berhubungan erat dengan tingkat keberlanjutan kawasan. Model pengelolaan berbasis swasta menunjukkan capaian keberlanjutan yang lebih tinggi dibandingkan model berbasis pemerintah dan masyarakat, terutama pada dimensi kelembagaan dan ekonomi. Temuan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan kawasan tidak hanya ditentukan oleh kondisi ekologi, tetapi juga dipengaruhi oleh efektivitas kelembagaan, kolaborasi antarpemangku kepentingan, dan penguatan ekonomi masyarakat. Kontribusi penelitian ini terletak pada penyusunan kerangka evaluasi yang mengintegrasikan analisis keberlanjutan multidimensi, persepsi masyarakat, dan strategi prioritas untuk membandingkan tiga model tata kelola ekowisata mangrove. Kerangka tersebut menjadi acuan penyusunan kebijakan dan strategi pengelolaan kawasan yang adaptif sesuai karakteristik setiap model tata kelola.
dc.description.sponsorship-
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePERBANDINGAN PENGELOLAAN EKOWISATA MANGROVE: STUDI KASUS KETAPANG URBAN AQUACULTURE, TWA ANGKE KAPUK, DAN SAUNG ALASid
dc.title.alternative-
dc.typeTesis
dc.subject.keywordAnalytic Network Process (ANP)id
dc.subject.keywordKeberlanjutan multidimensiid
dc.subject.keywordpersepsi masyarakatid
dc.subject.keywordpengelolaan pesisirid
dc.subject.keywordTata kelola kawasanid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record