Show simple item record

dc.contributor.advisorNuryati, Sri
dc.contributor.advisorWahjuningrum, Dinamella
dc.contributor.advisorYuhana, Munti
dc.contributor.authorAnanda, Annisa Widya
dc.date.accessioned2026-08-14T07:11:02Z
dc.date.available2026-08-14T07:11:02Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178895
dc.description.abstractAcute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) merupakan penyakit bakterial akibat Vibrio parahaemolyticus pembawa toksin PirA dan PirB, menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan budidaya udang vaname karena menyebabkan nekrosis hepatopankreas akut dan mortalitas tinggi, sementara pengendalian berbasis antibiotik yang bersifat reaktif justru memicu resistensi antimikroba dan risiko residu produk, sehingga vaksinasi yang didukung bukti bahwa udang mampu menunjukkan immune priming meski tanpa sistem imun adaptif klasik muncul sebagai strategi preventif yang menjanjikan, dengan vaksin formalin-killed cell (FKC) menjadi pilihan realistis untuk aplikasi lapangan meski efektivitasnya secara oral masih terkendala stabilitas antigen dan sistem delivery yang belum optimal, sehingga penggunaan adjuvan alami seperti batang pisang (Musa sp.) yang memiliki kandungan flavonoid, tanin, saponin, polisakarida, dan senyawa fenolik dikembangkan sebagai imunostimulan sekaligus carrier antigen, dengan pengaturan interval waktu pemberian adjuvan dan vaksin menjadi aspek krusial namun belum banyak dieksplorasi, mengingat respons imun innate krustasea sangat bergantung pada waktu sehingga sinkronisasi temporal yang tepat berpotensi mengoptimalkan efek immune priming tanpa menimbulkan overactivation yang merugikan. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian adjuvan serbuk batang pisang serta pengaturan interval waktu sebelum vaksinasi oral terhadap respons imun dan ketahanan udang vaname terhadap infeksi AHPND. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan strategi vaksinasi oral yang lebih presisi, tidak hanya dari sisi formulasi bahan tetapi juga dari sisi kinetika imunologis dan pengaturan waktu aplikasinya. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan delapan perlakuan yang membedakan ada-tidaknya pemberian adjuvan serbuk batang pisang serta variasi interval waktu pemberian adjuvan sebelum vaksinasi oral formalin-killed V. parahaemolyticus, meliputi perlakuan pemberian simultan (AV) serta perlakuan dengan jeda dua, empat, dan enam hari (A2V, A4V, A6V), dibandingkan dengan kelompok kontrol. Parameter yang diamati mencakup kinerja pertumbuhan (bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik, dan rasio konversi pakan), kelimpahan bakteri usus, kolonisasi patogen pada hepatopankreas, respons imun nonspesifik (total hemocyte count, aktivitas fagositik, respiratory burst, dan aktivitas phenoloxidase), ekspresi gen imun (Dscam, ProPO, peroxinectin, dan LvBigPEN), gambaran histopatologi hepatopankreas, uji agar gel precipitation test (AGPT), serta relative percent survival (RPS) pascauji tantang dengan V. parahaemolyticus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian adjuvan serbuk batang pisang sebelum vaksinasi secara umum meningkatkan respons imun udang dan menekan kolonisasi patogen pada hepatopankreas dibandingkan perlakuan tanpa adjuvan maupun pemberian simultan. Perlakuan dengan interval empat hari (A4V) menunjukkan ekspresi gen imun dan parameter respons imun seluler yang nyata lebih tinggi dibandingkan seluruh perlakuan lain, mengindikasikan bahwa interval tersebut menghasilkan sinkronisasi paling efektif antara aktivasi imun oleh adjuvan dan pengenalan antigen vaksin. Kondisi ini juga diiringi kerusakan histologis hepatopankreas yang lebih ringan pada A4V dibandingkan perlakuan lain, termasuk dibandingkan perlakuan pemberian simultan (AV) yang justru menunjukkan tanda tanda overstimulasi imun dan kerusakan jaringan sebelum uji tantang dilakukan. Uji AGPT menunjukkan hasil negatif pada seluruh perlakuan, konsisten dengan karakteristik sistem imun invertebrata yang tidak menghasilkan antibodi humoral klasik, sehingga proteksi yang teramati lebih tepat dipahami sebagai hasil mekanisme immune priming berbasis imun bawaan. Level proteksi akhir menunjukkan interval empat hari menghasilkan nilai RPS tertinggi sebesar 72,92±24,88%, meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata secara statistik dengan perlakuan interval enam hari (A6V), yang turut berhasil menekan kolonisasi V. parahaemolyticus di hepatopankreas hingga di bawah batas deteksi. Sebaliknya, pada parameter kinerja pertumbuhan, perlakuan A6V justru menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan A4V, tercermin dari bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik, dan rasio konversi pakan yang lebih unggul, yang diduga berkaitan dengan efisiensi alokasi energi metabolik antara investasi respons imun dan pertumbuhan somatik. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi adjuvan serbuk batang pisang dan vaksin formalin killed V. parahaemolyticus efektif meningkatkan respons imun dan ketahanan udang vaname terhadap AHPND, dengan interval empat hari terbukti paling optimal dalam mengaktivasi respons imun secara menyeluruh, sementara interval enam hari menawarkan keunggulan pada aspek pertumbuhan tanpa mengorbankan tingkat proteksi secara signifikan.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Jeda Vaksin Oral dan Adjuvan Serbuk Batang Pisang Untuk Ketahanan Udang Vaname Terhadap Infeksi Vibrio parahaemolyticusid
dc.title.alternativeAnalysis of Oral Vaccine Interval and Banana Stem Powder Adjuvant for Whiteleg Shrimp Resistance to Vibrio parahaemolytucus Infection
dc.typeTesis
dc.subject.keywordAHPNDid
dc.subject.keywordbatang pisangid
dc.subject.keywordimun primingid
dc.subject.keywordudang vanameid
dc.subject.keywordvaksin oralid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record