Analisis Jeda Vaksin Oral dan Adjuvan Serbuk Batang Pisang Untuk Ketahanan Udang Vaname Terhadap Infeksi Vibrio parahaemolyticus
Date
2026Jenis/Type
TesisSubtype
ThesesAuthor
Ananda, Annisa Widya
Nuryati, Sri
Wahjuningrum, Dinamella
Yuhana, Munti
Metadata
Show full item recordAbstract
Acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND) merupakan penyakit
bakterial akibat Vibrio parahaemolyticus pembawa toksin PirA dan PirB, menjadi
ancaman serius bagi keberlanjutan budidaya udang vaname karena menyebabkan
nekrosis hepatopankreas akut dan mortalitas tinggi, sementara pengendalian
berbasis antibiotik yang bersifat reaktif justru memicu resistensi antimikroba dan
risiko residu produk, sehingga vaksinasi yang didukung bukti bahwa udang mampu
menunjukkan immune priming meski tanpa sistem imun adaptif klasik muncul
sebagai strategi preventif yang menjanjikan, dengan vaksin formalin-killed cell
(FKC) menjadi pilihan realistis untuk aplikasi lapangan meski efektivitasnya secara
oral masih terkendala stabilitas antigen dan sistem delivery yang belum optimal,
sehingga penggunaan adjuvan alami seperti batang pisang (Musa sp.) yang
memiliki kandungan flavonoid, tanin, saponin, polisakarida, dan senyawa fenolik
dikembangkan sebagai imunostimulan sekaligus carrier antigen, dengan
pengaturan interval waktu pemberian adjuvan dan vaksin menjadi aspek krusial
namun belum banyak dieksplorasi, mengingat respons imun innate krustasea sangat
bergantung pada waktu sehingga sinkronisasi temporal yang tepat berpotensi
mengoptimalkan efek immune priming tanpa menimbulkan overactivation yang
merugikan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi pengaruh pemberian adjuvan serbuk batang pisang serta pengaturan
interval waktu sebelum vaksinasi oral terhadap respons imun dan ketahanan udang
vaname terhadap infeksi AHPND. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan
dasar ilmiah bagi pengembangan strategi vaksinasi oral yang lebih presisi, tidak
hanya dari sisi formulasi bahan tetapi juga dari sisi kinetika imunologis dan
pengaturan waktu aplikasinya.
Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL)
dengan delapan perlakuan yang membedakan ada-tidaknya pemberian adjuvan
serbuk batang pisang serta variasi interval waktu pemberian adjuvan sebelum
vaksinasi oral formalin-killed V. parahaemolyticus, meliputi perlakuan pemberian
simultan (AV) serta perlakuan dengan jeda dua, empat, dan enam hari (A2V, A4V,
A6V), dibandingkan dengan kelompok kontrol. Parameter yang diamati mencakup
kinerja pertumbuhan (bobot akhir, laju pertumbuhan spesifik, dan rasio konversi
pakan), kelimpahan bakteri usus, kolonisasi patogen pada hepatopankreas, respons
imun nonspesifik (total hemocyte count, aktivitas fagositik, respiratory burst, dan
aktivitas phenoloxidase), ekspresi gen imun (Dscam, ProPO, peroxinectin, dan
LvBigPEN), gambaran histopatologi hepatopankreas, uji agar gel precipitation test
(AGPT), serta relative percent survival (RPS) pascauji tantang dengan V.
parahaemolyticus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian adjuvan serbuk batang
pisang sebelum vaksinasi secara umum meningkatkan respons imun udang dan
menekan kolonisasi patogen pada hepatopankreas dibandingkan perlakuan tanpa
adjuvan maupun pemberian simultan. Perlakuan dengan interval empat hari (A4V)
menunjukkan ekspresi gen imun dan parameter respons imun seluler yang nyata
lebih tinggi dibandingkan seluruh perlakuan lain, mengindikasikan bahwa interval
tersebut menghasilkan sinkronisasi paling efektif antara aktivasi imun oleh adjuvan
dan pengenalan antigen vaksin. Kondisi ini juga diiringi kerusakan histologis
hepatopankreas yang lebih ringan pada A4V dibandingkan perlakuan lain, termasuk
dibandingkan perlakuan pemberian simultan (AV) yang justru menunjukkan tanda
tanda overstimulasi imun dan kerusakan jaringan sebelum uji tantang dilakukan.
Uji AGPT menunjukkan hasil negatif pada seluruh perlakuan, konsisten dengan
karakteristik sistem imun invertebrata yang tidak menghasilkan antibodi humoral
klasik, sehingga proteksi yang teramati lebih tepat dipahami sebagai hasil
mekanisme immune priming berbasis imun bawaan.
Level proteksi akhir menunjukkan interval empat hari menghasilkan nilai
RPS tertinggi sebesar 72,92±24,88%, meskipun nilai tersebut tidak berbeda nyata
secara statistik dengan perlakuan interval enam hari (A6V), yang turut berhasil
menekan kolonisasi V. parahaemolyticus di hepatopankreas hingga di bawah batas
deteksi. Sebaliknya, pada parameter kinerja pertumbuhan, perlakuan A6V justru
menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan A4V, tercermin dari bobot
akhir, laju pertumbuhan spesifik, dan rasio konversi pakan yang lebih unggul, yang
diduga berkaitan dengan efisiensi alokasi energi metabolik antara investasi respons
imun dan pertumbuhan somatik. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa kombinasi adjuvan serbuk batang pisang dan vaksin formalin
killed V. parahaemolyticus efektif meningkatkan respons imun dan ketahanan
udang vaname terhadap AHPND, dengan interval empat hari terbukti paling
optimal dalam mengaktivasi respons imun secara menyeluruh, sementara interval
enam hari menawarkan keunggulan pada aspek pertumbuhan tanpa mengorbankan
tingkat proteksi secara signifikan.
Collections
- MF - Fisheries [3362]

