Evaluasi Spasial Alih Fungsi Lahan Sawah Kota Sukabumi Tahun 2019-2025 dengan Metode Analisis Multitemporal dan Kombinasi Citra Satelit
Abstract
Lahan sawah di Kota Sukabumi menyusut dari 1.365 hektar (2019) menjadi 1.272
hektar (2025), sementara realisasi kawasan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan
(LP2B) dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) 2022-2042 baru mencapai
11,13% dari target 425 hektar. Penelitian ini bertujuan memetakan dinamika perubahan
lahan sawah periode 2019-2025 serta mengevaluasi dampaknya terhadap kawasan
LP2B. Metode yang diterapkan adalah klasifikasi multitemporal berbasis Random
Forest menggunakan fusi citra Sentinel-1, Sentinel-2, GLO-30, dan FABDEM pada
platform Google Earth Engine, divalidasi melalui confusion matrix, ground check
lapangan, dan validasi eksternal lintas wilayah di Denpasar. Model menghasilkan
Overall Accuracy 97,5% dan Koefisien Kappa 0,962, meskipun validasi eksternal
menunjukkan penurunan akurasi menjadi 69,0% akibat keterbatasan representasi
sampel training pada satu domain geografis. Alih fungsi permanen teridentifikasi seluas
57,28 hektar, alih fungsi reversibel 22,5 hektar, dan lahan tidak aktif berisiko laten 61,30
hektar. Pengujian kombinasi citra mengungkap temuan bahwa data Sentinel-1 tunggal
justru lebih unggul (79,58%) untuk deteksi perubahan dibanding kombinasi multisensor.
Prototipe Early Warning System berbasis Google Earth Engine dikembangkan dengan
interval 4 bulan (73,75%, optimal untuk petak kecil) dan 6 bulan (76,25%, akurasi
keseluruhan terbaik) sebagai instrumen operasional deteksi dini mendukung penguatan
kebijakan LP2B. Paddy fields in Kota Sukabumi shrank from 1,365 hectares (2019) to 1,272
hectares (2025), while realization of the Sustainable Food Agricultural Land (LP2B)
zone under the 2022-2042 Spatial Plan (RTRW) has reached only 11.13% of the 425-
hectare target. This study aims to map paddy field change dynamics for 2019-2025 and
evaluate their impact on LP2B areas. A multi-temporal Random Forest classification
was applied, fusing Sentinel-1, Sentinel-2, GLO-30, and FABDEM imagery on Google
Earth Engine, validated through a confusion matrix, field ground checks, and external
cross-regional validation in Denpasar. The model achieved 97.5% Overall Accuracy and
a Kappa Coefficient of 0.962, although external validation showed a decline to 69.0%
accuracy, indicating limited generalization from single-domain training samples.
Permanent conversion was identified across 57.28 hectares, reversible conversion across
22.5 hectares, and 61.30 hectares of inactive paddy fields carrying latent conversion risk.
Image-combination testing revealed that single Sentinel-1 data (S1_Only) outperformed
multi-sensor combinations (79.58%) for change detection, unlike its role in static
classification. An Google Earth Engine based Early Warning System prototype was
developed with 4-month (73.75%, optimal for small plots) and 6-month (76.25%, best
overall accuracy) monitoring intervals as an operational instrument for early detection
to strengthen LP2B policy implementation.

