| dc.contributor.advisor | Liyantono | |
| dc.contributor.advisor | Adi, Setyono Hari | |
| dc.contributor.author | Rakhma, Risqa Nurkhaida Septia | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-13T03:01:43Z | |
| dc.date.available | 2026-08-13T03:01:43Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178495 | |
| dc.description.abstract | Pengelolaan irigasi yang efisien memerlukan informasi ketersediaan dan
kebutuhan air yang akurat secara spasial-temporal. Pendekatan konvensional belum
mampu menggambarkan sebaran kekurangan air secara rinci. Oleh karena itu,
penelitian ini mengevaluasi ketersediaan dan kebutuhan air irigasi, serta neraca air di
Daerah Irigasi Barugug menggunakan pendekatan spasial terdistribusi menggunakan
informasi fase tumbuh padi sawah hasil ekstraksi data SISCROP yang diintegrasikan
secara dinamis sebagai input untuk mengestimasi koefisien tanaman (Kc) berbasis
piksel. Ketersediaan air dihitung dari debit andalan 80% (Q80) periode 2014–2024.
Kebutuhan air irigasi diestimasi berdasarkan evapotranspirasi tanaman (ETc) yang
dihitung dari evapotranspirasi acuan (ET0) menggunakan metode Penman–Monteith
dan koefisien tanaman (Kc) berbasis piksel untuk mengakomodasi variasi spasialtemporal fase pertumbuhan tanaman padi di lapangan. Curah hujan efektif (Re)
dihitung menggunakan metode Inverse Distance Weighting (IDW). Hasil
menunjukkan, Q80 tertinggi tercatat pada bulan Maret (22,3 m³/detik) dan terendah
terjadi pada Oktober (0,22 m³/detik). Analisis neraca air spasial-temporal berbasis
piksel menunjukkan dinamika defisit air pada musim kemarau, di mana pemenuhan
air terendah terjadi pada periode pertama Oktober (8,28%). Metode ini juga
menunjukkan pergeseran pola spasial defisit tahunan yang dominan di wilayah
selatan (2022), relatif merata (2023), dan menonjol di bagian utara (2024). Simulasi
penerapan AWD dengan target efisiensi sebesar 25% pada fase perkembangan
anakan dan akhir pertumbuhan padi akan menurunkan kebutuhan air per hektar padi
sawah sebesar 20% dan berpotensi menambah target lahan irigasi hingga 25% dari
total luas lahan yang mampu diirigasi Bendung Barugbug pada periode defisit.
Kombinasi AWD dengan peningkatan efisiensi jaringan sebesar 5% mampu
meningkatkan potensi luas lahan target irigasi menjadi 34%. Peningkatan
kemampuan irigasi Bendung Barugbug berpeluang menekan biaya operasional
irigasi pompa yang berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan petani | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Analisis Neraca Air Irigasi pada Daerah Irigasi Barugbug Berbasis Debit Operasional dan Pemodelan Spasial SISCROP | id |
| dc.title.alternative | Irrigation Water Balance Analysis in the Barugbug Irrigation Area Based on Operational Discharge and SISCROP Spatial Modeling | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Daerah Irigasi Barugbug | id |
| dc.subject.keyword | neraca air irigasi | id |
| dc.subject.keyword | penman-monteith | id |
| dc.subject.keyword | pemodelan spasial | id |
| dc.subject.keyword | SISCROP | id |
| dc.subtype | Theses | |