IPB University Logo

SCIENTIFIC REPOSITORY

IPB University Scientific Repository collects, disseminates, and provides persistent and reliable access to the research and scholarship of faculty, staff, and students at IPB University

AI Repository
 
Building and Categories


      View Item 
      •   IPB Repository
      • Final Assignments
      • Master Final Assignments
      • MF - Business
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Final Assignments
      • Master Final Assignments
      • MF - Business
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Pengembangan Strategi Bisnis Industri Pengolahan Kelor dalam Meningkatkan Daya Saing di Nusa Tenggara Timur

      Thumbnail
      View/Open
      Cover (944.2Kb)
      Fulltext (1.879Mb)
      Lampiran (447.5Kb)
      Lampiran (447.5Kb)
      Date
      2026
      Author
      Doko, Niken Larasati Theresia
      Jahroh, Siti
      Asikin, Zenal
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin mengarah pada gaya hidup sehat telah meningkatkan permintaan terhadap berbagai produk pangan berbahan alami, termasuk produk olahan kelor. Kondisi tersebut memberikan peluang bagi pengembangan industri pengolahan kelor sebagai komoditas pangan fungsional yang memiliki nilai tambah ekonomi dan manfaat bagi kesehatan. Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan industri ini karena didukung oleh ketersediaan bahan baku yang melimpah serta kondisi lingkungan yang sesuai untuk budidaya kelor. Di sisi lain, industri pengolahan kelor masih dihadapkan pada berbagai kendala, seperti keterbatasan akses permodalan, belum optimalnya penerapan strategi bisnis, rendahnya kapasitas manajemen usaha, terbatasnya infrastruktur distribusi, serta semakin ketatnya persaingan dengan produk sejenis, diperlukan strategi pengembangan bisnis yang mampu mengoptimalkan potensi yang dimiliki sekaligus menjawab berbagai tantangan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan bisnis industri pengolahan kelor, menyusun alternatif strategi pengembangan, serta menetapkan strategi prioritas yang paling sesuai untuk diterapkan. Penelitian dilaksanakan pada September 2025 hingga Maret 2026 dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara dan penyebaran kuesioner kepada 17 responden yang terdiri atas 5 pemilik UMKM pengolahan kelor, 10 pekerja, dan 2 perwakilan pemerintah yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Tujuan pertama penelitian adalah mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi pengembangan bisnis industri pengolahan kelor di Nusa Tenggara Timur. Analisis diawali menggunakan Porter’s Diamond Model untuk mengkaji faktor-faktor yang menentukan daya saing industri, kemudian dilanjutkan dengan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Hasil analisis menunjukkan bahwa ketersediaan bahan baku merupakan kekuatan utama yang menjadi modal penting dalam pengembangan industri pengolahan kelor. Sebaliknya, keterbatasan modal usaha masih menjadi kendala utama yang membatasi pengembangan kapasitas usaha. Dari sisi eksternal, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan sehat menjadi peluang yang paling prospektif, sedangkan semakin banyaknya produk sejenis di pasar menjadi ancaman utama yang perlu diantisipasi melalui peningkatan daya saing. Tujuan kedua penelitian adalah merumuskan alternatif strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan bisnis industri pengolahan kelor. Berdasarkan hasil analisis Matriks IE, posisi industri berada pada kuadran hold and maintain, sehingga strategi yang dinilai paling sesuai adalah penetrasi pasar dan pengembangan produk. Selanjutnya, analisis Matriks SWOT menghasilkan enam alternatif strategi, yaitu mengembangkan produk inovatif berbasis kelor yang sesuai dengan tren gaya hidup sehat, memperkuat branding sebagai produk unggulan daerah, memanfaatkan dukungan lembaga penelitian dan lembaga keuangan untuk pengembangan produk, mengoptimalkan kegiatan pemasaran melalui festival dan pameran, memperkuat diferensiasi produk, serta meningkatkan kualitas produk melalui penerapan standardisasi produksi. Strategi-strategi tersebut dirumuskan dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang yang tersedia sekaligus mengurangi dampak kelemahan dan ancaman yang dihadapi industri. Tujuan ketiga penelitian adalah menentukan strategi yang menjadi prioritas dalam pengembangan bisnis industri pengolahan kelor. Penentuan prioritas dilakukan menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) berdasarkan penilaian para ahli. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan produk inovatif berbasis kelor yang mengikuti tren gaya hidup sehat menjadi strategi dengan prioritas tertinggi, kemudian diikuti oleh penguatan branding sebagai produk unggulan daerah. Kedua strategi tersebut dinilai mampu meningkatkan nilai tambah produk, memperkuat kepercayaan konsumen, memperluas jangkauan pasar, serta meningkatkan posisi bersaing industri pengolahan kelor. Temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan industri tidak hanya ditentukan oleh peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga oleh kemampuan pelaku usaha dalam menciptakan inovasi dan membangun identitas produk yang kuat. Implikasi penelitian menunjukkan bahwa peningkatan daya saing industri pengolahan kelor di Nusa Tenggara Timur memerlukan penerapan strategi yang terintegrasi, meliputi pengembangan produk inovatif, penguatan identitas merek, peningkatan mutu melalui standardisasi produksi, serta perluasan akses pasar melalui berbagai kegiatan promosi. Keberhasilan implementasi strategi tersebut juga membutuhkan kolaborasi antara pelaku usaha, pemerintah, lembaga penelitian, dan lembaga keuangan. Sinergi antarpemangku kepentingan diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk, memperluas peluang pasar, memperkuat daya saing industri, serta mendukung pertumbuhan industri pengolahan kelor yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur.
       
      Changes in consumer consumption patterns toward healthier lifestyles increased the demand for natural food products, including moringa-based processed products. This condition created opportunities for the development of the moringa processing industry as a functional food commodity with economic value and health benefits. East Nusa Tenggara possessed considerable potential for developing this industry due to its abundant raw material availability and favorable environmental conditions for moringa cultivation. However, the moringa processing industry still faced several challenges, including limited access to capital, inadequate implementation of business strategies, weak managerial capacity, insufficient distribution infrastructure, and increasing competition from similar products. Therefore, an appropriate business development strategy was required to optimize existing potential while addressing these challenges. This study aimed to identify the internal and external factors affecting the business development of the moringa processing industry, formulate alternative business development strategies, and determine the most appropriate priority strategy for implementation. The study was conducted from September 2025 to March 2026 using a qualitative descriptive approach. Primary data were collected through interviews and questionnaires involving 17 respondents, consisting of 5 MSME owners, 10 workers, and 2 government representatives selected through purposive sampling. The first objective of this study was to identify the internal and external factors influencing the business development of the moringa processing industry in East Nusa Tenggara. The analysis was initiated using Porter’s Diamond Model to examine the determinants of industrial competitiveness and was subsequently followed by the Internal Factor Evaluation (IFE) and External Factor Evaluation (EFE) matrices. The findings indicated that the availability of raw materials represented the industry's primary strength, providing a solid foundation for business development. In contrast, limited access to capital remained the main weakness, restricting business expansion. From the external perspective, the growing public awareness of healthy food consumption emerged as the most significant opportunity, whereas increasing competition from similar products constituted the major threat that needed to be anticipated. The second objective was to formulate alternative business development strategies for the moringa processing industry. Based on the Internal–External (IE) Matrix, the industry was positioned in the hold and maintain cell, indicating that market penetration and product development were the most appropriate strategic directions. Furthermore, the SWOT Matrix generated six alternative strategies: developing innovative moringa-based products aligned with healthy lifestyle trends, strengthening product branding as a regional flagship product, utilizing financial support through research institutions and financial institutions for product development, optimizing marketing through festivals and exhibitions, strengthening product differentiation, and improving product quality through production standardization. These strategies were formulated by maximizing the industry's strengths and opportunities while minimizing the effects of its weaknesses and external threats. The third objective was to determine the priority strategy for business development. The priority ranking was established using the Analytic Hierarchy Process (AHP) based on expert judgments. The results demonstrated that developing innovative moringa-based products aligned with healthy lifestyle trends was identified as the highest-priority strategy, followed by strengthening product branding as a regional flagship product. These strategies were considered capable of increasing product value, enhancing consumer confidence, expanding market reach, and strengthening the competitive position of the moringa processing industry. The findings also indicated that successful business development depended not only on increasing production capacity but also on the ability of business actors to create product innovation and establish a strong brand identity. The strategic implications of this study suggested that improving the competitiveness of the moringa processing industry in East Nusa Tenggara required an integrated strategy encompassing product innovation, brand strengthening, quality improvement through production standardization, and market expansion through promotional activities. Successful implementation of these strategies also required collaboration among business actors, government agencies, research institutions, and financial institutions. Such collaboration was expected to increase product value, expand market opportunities, strengthen industrial competitiveness, and support the sustainable growth of the moringa processing industry in East Nusa Tenggara.
       
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/178050
      Collections
      • MF - Business [4185]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository