Rancangan Sistem Budidaya Sayuran Daun untuk Meningkatkan Produktivitas dan Kelayakan Usaha di Kebun Wisata Pasirmukti
Date
2026Jenis/Type
Tugas AkhirSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
Azizi, Muhammad Hafidz
Wana, Hermawan
Adila, Jihan Zakia
Metadata
Show full item recordAbstract
Leafy vegetable productivity at Pasirmukti Agro-Tourism Farm consistently
declined from 2.50 kg/m² in June 2025 to 2.17 kg/m² in August 2025, indicating
systemic problems in cultivation management. This study aimed to analyze
cultivation conditions and production risks, and to design a Standard Operating
Procedure (SOP)-based cultivation system to improve productivity and business
feasibility. Methods included a mixed-methods approach, Failure Mode and Effects
Analysis (FMEA), Paired Sample T-Test, and business feasibility analysis through
profit-loss calculation and R/C Ratio. FMEA identified 22 failure modes across
seven cultivation stages, all classified as high-risk (RPN > 200), with the highest
risks attributed to undetected armyworm infestation (RPN = 504) and inaccurate
fertilizer dosage (RPN = 448). SOP implementation significantly increased
productivity (p = 0.027) with a 44,4% production increase. Financially, the
proposed system yielded a net profit of IDR 1.213.900 per period with an R/C Ratio
of 1,31 confirming economic feasibility. Produktivitas budidaya sayuran daun di Kebun Wisata Pasirmukti menurun
secara konsisten dari 2,50 kg/m² pada Juni 2025 menjadi 2,17 kg/m² pada Agustus
2025, yang mengindikasikan adanya permasalahan sistemik dalam pengelolaan
budidaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi dan risiko produksi
budidaya sayuran daun serta merancang sistem budidaya berbasis Standar
Operasional Prosedur (SOP) sebagai upaya peningkatan produktivitas dan
kelayakan usaha. Metode yang digunakan meliputi pendekatan mixed methods,
analisis risiko Failure Mode and Effects Analysis (FMEA), uji Paired Sample T-
Test, dan analisis kelayakan usaha melalui perhitungan laba rugi serta R/C Ratio.
Hasil FMEA mengidentifikasi 22 failure mode pada tujuh tahapan budidaya,
seluruhnya masuk kategori risiko tinggi (RPN > 200), dengan risiko tertinggi pada
serangan hama ulat grayak yang tidak terdeteksi dini (RPN = 504) dan
ketidaktepatan dosis pemupukan (RPN = 448). Penerapan SOP budidaya terbukti
meningkatkan produktivitas secara signifikan (p = 0,027) dengan peningkatan
produksi sebesar 44,4%. Secara finansial, sistem usulan menghasilkan laba bersih
Rp1.213.900 per periode dengan R/C Ratio 1,31 dan dapat dinyatakan layak secara
ekonomis.

