| dc.description.abstract | PT XYZ, perusahaan Indonesia yang bergerak di bidang Integrated Facility Management Service sejak 2006, menghadapi krisis likuiditas dengan cash ratio di bawah 10% dan current ratio menurun (610%?349%) pada 2020–2023. Kondisi ini mendorong perusahaan berekspansi ke segmen ritel dan residen yang memiliki perputaran piutang lebih cepat dan gross profit margin lebih tinggi. Penelitian ini
bertujuan mengidentifikasi model bisnis dengan Business Model Canvas, menganalisis faktor internal-eksternal, dan menentukan prioritas strategi menggunakan A’WOT.
Penelitian dilakukan di kantor PT XYZ, BSD Serpong. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan kuesioner untuk pembobotan AHP kepada lima responden pakar (expert sampling): tiga orang dari internal (Direktur Utama, Manajer Marketing, Manajer Operasional Pest Control) dan dua orang dari eksternal (Ketua ASPPHAMI dan CEO PESTIGO). Analisis meliputi pemetaan BMC, analisis internal VRIO dan eksternal PESTEL serta Porter's Five Forces, pembobotan faktor strategis, perumusan alternatif strategi melalui matriks TOWS, dan penentuan prioritas menggunakan A’WOT dengan Expert Choice 11.
Hasil BMC menunjukkan model bisnis saat ini sangat berorientasi B2B dan belum optimal untuk ritel dan residen. Empat faktor kunci teridentifikasi: regulasi PERMENKES No. 14/2021 (peluang, bobot 0,274), brand Termigon (kekuatan, bobot 0,070), harga murah pesaing lokal (ancaman, bobot 0,031), dan respons 1x24 jam (kelemahan, bobot 0,019). Prioritas strategi A’WOT: (1) ST 1 – diferensiasi brand Termigon (0,170); (2) WO 2 – Optimalisasi respons cepat dan efisiensi operasional (0,156); dan (3) ST 3 – ERP Termigon untuk Green Reporting (0,155). Analisis pemetaan pesaing (Strategic Group Analysis) mengelompokkan pesaing ke dalam empat kategori: pemain global (Rentokil Initial sebagai benchmark), pemain lokal besar (Pestigo, Fumida—ancaman sangat tinggi), pemain lokal menengah (ASPPHAMI), dan UMKM. Analisis AMC menunjukkan Pestigo memiliki motivasi sangat tinggi merespons strategi respons cepat, sementara Rentokil bermotivasi rendah terhadap green reporting karena perbedaan skala. Temuan baru penelitian ini adalah integrasi BMC, VRIO, PESTEL, Porter, A’WOT, dan AMC dalam konteks ekspansi B2B ke B2C di industri jasa pest control Indonesia. Implikasi manajerial pada penelitian ini adalah PT XYZ perlu
beralih dari price war ke brand war, membangun sistem respons cepat berbasis ERP dan mengimplementasikan green reporting sebagai diferensiasi. Penelitian lanjutan disarankan menguji prioritas strategi dengan SEM atau regresi logistik serta membandingkan A’WOT dengan MCDM lain. | |