| dc.contributor.advisor | Suharno | |
| dc.contributor.author | Maxentia, Onyx | |
| dc.date.accessioned | 2026-08-04T13:36:39Z | |
| dc.date.available | 2026-08-04T13:36:39Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/177078 | |
| dc.description.abstract | Usahatani paprika monokultur banyak diterapkan karena sistem budidayanya relatif sederhana dan telah lama digunakan oleh petani. Namun, sistem ini bergantung pada satu komoditas sehingga lebih rentan terhadap fluktuasi produksi yang disebabkan oleh serangan hama, penyakit, dan perubahan kondisi lingkungan. Salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah penerapan sistem tumpangsari paprika dan seledri. Penelitian ini membandingkan risiko produksi dan pendapatan usahatani antara sistem monokultur dan tumpangsari di Kelompok Tani Dewa Family, Kabupaten Bandung Barat, menggunakan data dari 16 greenhouse. Risiko produksi diukur menggunakan Koefisien Variasi (Coefficient of Variation/CV), sedangkan perbedaan produksi dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank. Pendapatan usahatani dievaluasi berdasarkan keuntungan dan R/C ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem tumpangsari menghasilkan produksi paprika yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan sistem monokultur, meskipun memiliki risiko produksi yang sedikit lebih tinggi. Meskipun demikian, sistem tumpangsari menghasilkan keuntungan yang lebih besar serta R/C ratio yang lebih tinggi, sehingga menunjukkan kinerja ekonomi yang lebih baik dan efisiensi usahatani yang lebih tinggi. | |
| dc.description.abstract | Monoculture paprika farming is widely practiced because its cultivation system is relatively simple and has long been adopted by farmers. However, this system depends on a single commodity, making it more vulnerable to production fluctuations caused by pests, diseases, and environmental changes. One alternative to address this issue is paprika and celery intercropping. This study compared production risk and farm income between monoculture and intercropping systems at the Dewa Family Farmer Group, West Bandung Regency, using data from 16 greenhouses. Production risk was measured using the Coefficient of Variation (CV), while production differences were analyzed using the Wilcoxon Signed Rank Test. Farm income was evaluated based on profit and the R/C ratio. The results showed that the intercropping system produced significantly higher paprika yields than the monoculture system, although it had slightly higher production risk. Nevertheless, intercropping generated higher profit and a better R/C ratio, indicating superior economic performance and greater farming efficiency. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Komparasi Risiko Produksi Dan Keuntungan Usahatani Paprika Pada Sistem Monokultur Dan Tumpangsari: Studi Kasus Kelompok Tani Dewa Family | id |
| dc.title.alternative | Comparison of Production Risk and Farm Income Between Paprika Monoculture and Paprika Celery Intercropping Systems at the Dewa Family Farmer Group | |
| dc.type | Skripsi | |
| dc.subject.keyword | paprika | id |
| dc.subject.keyword | pendapatan usasatani | id |
| dc.subject.keyword | risiko produksi | id |
| dc.subject.keyword | seledri | id |
| dc.subject.keyword | tumpangsari | id |
| dc.subtype | Undergraduate Theses | |