Show simple item record

dc.contributor.advisorHerawati, Dian
dc.contributor.advisorNurjanah, Siti
dc.contributor.authorPutra, Gilang Anugrah
dc.date.accessioned2026-07-30T07:09:36Z
dc.date.available2026-07-30T07:09:36Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/176530
dc.description.abstractFSSC 22000 Versi 6 merupakan salah satu skema sertifikasi sistem manajemen keamanan pangan (SMKP) yang diakui oleh Global Food Safety Initiative (GFSI). Penerapan skema sertifikasi ini meningkatkan kebutuhan untuk jasa konsultasi SMKP di industri pangan. Di Indonesia belum tersedia pedoman tata kelola yang spesifik untuk penyedia jasa konsultasi SMKP. ISO 20700:2017 Guidelines for Management Consultancy Services dapat digunakan untuk meningkatkan transparansi dan pemahaman antara klien dan penyedia layanan konsultasi manajemen. Kajian yang mengintegrasikan ISO 20700:2017 dengan pengembangan FSSC 22000 Versi 6 masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis perbandingan sebelum dan sesudah penerapan ISO 20700:2017 pada penyedia jasa konsultasi dan FSSC 22000 Versi 6 pada industri pangan; (2) menganalisis kontribusi penerapan ISO 20700:2017 terhadap implementasi FSSC 22000 Versi 6; dan (3) menyusun rekomendasi perbaikan terhadap kepatuhan penerapan ISO 20700:2017 untuk jasa konsultasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan desain evaluasi sebelum dan sesudah penerapan. Penelitian dilaksanakan pada PT XYZ sebagai penyedia jasa konsultasi serta tiga perusahaan klien industri pangan, yaitu PT A, PT B, dan PT C. Data dikumpulkan melalui kuesioner, observasi, wawancara, dan tinjauan dokumen. Pada PT XYZ, tata kelola konsultasi dievaluasi melalui kuesioner yang diisi oleh responden dari perusahaan klien. Data kuesioner diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan Importance Performance Analysis (IPA). Kondisi awal penerapan ISO 20700:2017 pada PT XYZ dinilai melalui gap analysis dan digunakan bersama hasil IPA sebagai dasar penyusunan action plan. Pada PT A, PT B, dan PT C, gap analysis dan SWOT digunakan untuk menilai kondisi awal serta menjadi dasar penyusunan action plan. Setelah penerapan action plan, dilakukan evaluasi akhir pada PT XYZ dan ketiga perusahaan klien. Hasil evaluasi selanjutnya digunakan dalam Focus Group Discussion (FGD) dan analisis fishbone untuk menyusun rekomendasi perbaikan. Evaluasi tata kelola konsultasi PT XYZ sebagai penyedia jasa konsultasi diawali dengan uji validitas dan reliabilitas terhadap kuesioner pendahuluan yang melibatkan 32 responden dan 46 butir pertanyaan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh butir pertanyaan valid dan reliabel. Analisis IPA selanjutnya dilakukan berdasarkan data dari 23 responden dan mengidentifikasi enam butir pada Kuadran I sebagai prioritas perbaikan, yaitu kejelasan peran dan tanggung jawab, pemenuhan kerangka regulasi, keterlibatan dan komitmen pemangku kepentingan, tata kelola proyek konsultasi, pengelolaan input, serta pengelolaan risiko. Setelah action plan diterapkan, tingkat kesesuaian tata kelola layanan konsultasi PT XYZ terhadap pedoman ISO 20700:2017 meningkat dari 24,24% menjadi 87,88%. Penilaian tersebut mencakup aspek prinsip, kontrak, pelaksanaan, dan penutupan proyek. Pada PT A, PT B, dan PT C sebagai perusahaan klien, penerapan action plan menunjukkan peningkatan tingkat pemenuhan sistem manajemen keamanan pangan. Tingkat pemenuhan pada PT A meningkat dari 90,82% menjadi 98,30%, PT B dari 33,65% menjadi 97,55%, dan PT C dari 30,80% menjadi 94,80%. Hasil tersebut menunjukkan peningkatan implementasi sistem manajemen keamanan pangan pada seluruh perusahaan klien setelah pelaksanaan kegiatan konsultasi. Berdasarkan hasil evaluasi pada PT XYZ serta PT A, PT B, dan PT C, dilakukan Focus Group Discussion (FGD) yang menghasilkan delapan temuan utama. Temuan tersebut kemudian dianalisis menggunakan fishbone untuk mengidentifikasi akar masalah. Berdasarkan akar masalah yang teridentifikasi, disusun tindakan perbaikan yang selanjutnya dirumuskan menjadi delapan rekomendasi untuk memperkuat kualitas konsultasi FSSC 22000 Versi 6 melalui peningkatan kesesuaian penerapan ISO 20700:2017. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan ISO 20700:2017 berkontribusi terhadap peningkatan kualitas konsultasi FSSC 22000 Versi 6 melalui tata kelola layanan yang lebih terstruktur, terdokumentasi, transparan, dan berbasis risiko pada aspek prinsip serta tahapan kontrak, pelaksanaan, dan penutupan proyek.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titlePENGUATAN KUALITAS KONSULTASI FSSC 22000 VERSI 6 MELALUI PENERAPAN ISO 20700:2017id
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordFSSC 22000 versi 6.0id
dc.subject.keywordISO 20700id
dc.subject.keywordindustri panganid
dc.subject.keywordsistem manajemen keamanan panganid
dc.subtypeTheses


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record