Kelayakan Lahan Budidaya Air Tawar di Kecamatan Banua Lawas, Pugaan dan Kelua, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan
Date
2026Author
Samara, Farhan Habibie
Nurussalam, Wildan
Nirmala, Kukuh
Metadata
Show full item recordAbstract
Kabupaten Tabalong merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi untuk pengembangan budidaya air tawar, namun informasi mengenai tingkat kesesuaian lahan berdasarkan karakteristik kualitas air dan tanah masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesesuaian lahan budidaya air tawar di Kecamatan Banua Lawas, Pugaan, dan Kelua, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan memanfaatkan data primer yang diperoleh melalui pengukuran parameter kualitas air dan kualitas tanah pada beberapa titik pengamatan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode skoring dan pembobotan berdasarkan kriteria kesesuaian yang telah ditetapkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kondisi lingkungan antar lokasi pengamatan. Beberapa parameter yang menjadi faktor pembatas meliputi oksigen terlarut, kekeruhan, total padatan tersuspensi, alkalinitas, nitrit, dan pH. Secara umum, lokasi di Kecamatan Banua Lawas dan Kelua memiliki tingkat kesesuaian yang lebih baik dibandingkan Kecamatan Pugaan. Selain itu, ikan gabus menunjukkan tingkat kesesuaian yang lebih tinggi dibandingkan ikan patin, nila, dan betok karena memiliki toleransi yang lebih baik terhadap kondisi lingkungan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam penentuan dan pengelolaan kawasan budidaya air tawar di Kabupaten Tabalong. Tabalong Regency has considerable potential for freshwater aquaculture development; however, information regarding site suitability based on water and soil quality characteristics remains limited. This study aimed to evaluate the suitability of freshwater aquaculture sites in Banua Lawas, Pugaan, and Kelua Districts, Tabalong Regency, South Kalimantan. A quantitative descriptive approach was employed using primary data obtained through field observations and measurements of water and soil quality parameters. The collected data were analyzed using a scoring and weighting method based on predetermined suitability criteria. The results showed that environmental conditions varied among sampling locations. The main limiting factors for water quality were dissolved oxygen, turbidity, total suspended solids, alkalinity, nitrite, and pH. In general, sites located in Banua Lawas and Kelua Districts exhibited better suitability than those in Pugaan District. Snakehead fish showed a higher suitability level than pangasius, tilapia, and climbing perch due to its greater tolerance to environmental conditions. Soil characteristics in the study area generally supported freshwater aquaculture activities despite variations in texture and chemical properties among locations. These findings provide baseline information for determining and managing suitable freshwater aquaculture areas in Tabalong Regency.
Collections
- UF - Aquaculture [2294]

