Keberlanjutan Agrowisata Berbasis Komunitas di Kota Bogor
Abstract
Kota Bogor berpotensi menguatkan ekonomi lokal dalam mengatasi kerentanan penghidupan petani, namun terhambat oleh tekanan urbanisasi dan laju konversi lahan yang tinggi. Pengembangan agrowisata berbasis komunitas (community-based agrotourism/CBAT) melalui desa wisata menjadi solusi strategis untuk melestarikan lahan sekaligus penguatan ekonomi, meskipun masih terdapat kritik terhadap keberlanjutannya. Penelitian ini bertujuan menganalisis keberlanjutan CBAT di Kota Bogor pada dimensi ekonomi, sosial, lingkungan, kelembagaan, budaya, dan teknologi menggunakan metode Multidimensional Scaling dengan teknik Rap-agrotourism. Sebagai kebaruan penelitian dan mitigasi risiko ekonomi, penelitian ini mendalami dimensi ekonomi melalui analisis efisiensi biaya pada setiap unit usahatani utama. Hasil penelitian ditemukan status cukup berkelanjutan dengan indeks 54.54, dengan dimensi sosial sebagai dimensi paling sensitif dalam memengaruhi indeks keberlanjutan CBAT di Kota Bogor. Evaluasi yang ditemukan berbeda terhadap penelitian terdahulu yang serupa, yang diteliti pada titik lokasi yang berbeda meskipun pada provinsi yang sama. Maka dari itu, penelitian berkontribusi terhadap teori keberlanjutan, yaitu bahwa indeks keberlanjutan bersifat kontekstual sesuai kondisi spesifik lapangan Bogor City has the potential to strengthen its local economy to help farmers overcome livelihood vulnerability. However, the city faces challenges from urbanization and high rates of agricultural land conversion. Community-based Agrotourism (CBAT) through tourism villages is a strategic solution to preserve land and boost the economy, although its sustainability is often threatened. This study aims to analyze the sustainability of CBAT in Bogor City across six dimensions: economic, social, environmental, institutional, cultural, and technological, using Multidimensional Scaling (MDS) with the Rap-Agrotourism technique. As a novelty and a way to mitigate economic risks, this research further explores the economic dimension through cost-efficiency analysis of the main farming units. The results show a fairly sustainable status with an index of 54.54. The social dimension was found to be the most sensitive factor affecting the sustainability index. These findings show differences compared to previous studies in different locations, contributing to sustainability theory by proving that sustainability indices are contextual and depend on specific field conditions.
Collections
- UF - Agribusiness [4838]

