| dc.contributor.advisor | Susetyo, Budi | |
| dc.contributor.advisor | Fitrianto, Anwar | |
| dc.contributor.author | Azizah, Siti Nur | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-20T03:28:12Z | |
| dc.date.available | 2026-07-20T03:28:12Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/175085 | |
| dc.description.abstract | Data longitudinal memiliki karakteristik berupa heterogenitas antarunit dan
ketergantungan temporal antarpengukuran, sehingga memerlukan metode yang
mampu mengakomodasi kedua aspek tersebut secara simultan. Linear Mixed Model
(LMM) merupakan salah satu pendekatan yang banyak digunakan karena mampu
memodelkan variasi antarunit melalui efek acak. Namun, pendekatan ini tetap
berada dalam kerangka parametrik sehingga kurang fleksibel dalam menangkap
hubungan nonlinier dan interaksi kompleks antar peubah. Mixed Effects Random
Forest (MERF) dikembangkan dengan menggabungkan fleksibilitas Random
Forest dalam memodelkan hubungan nonlinier dan struktur efek acak pada data
hierarki. MERF pada awalnya dikembangkan untuk data berklaster dan belum
secara eksplisit memodelkan korelasi antarpengukuran berulang. Selanjutnya
dikembangkan Stochastic MERF (sMERF) yang mengintegrasikan proses stokastik
untuk mengakomodasi korelasi antarwaktu pada data longitudinal. Selain struktur
korelasi antarwaktu melalui proses stokastik, keterkaitan temporal antarpengukuran
juga dapat direpresentasikan melalui lagged response. Lagged response merupakan
nilai peubah respons pada waktu sebelumnya yang digunakan sebagai prediktor
untuk merepresentasikan informasi historis. Kajian yang mengevaluasi dan
membandingkan kinerja LMM, MERF, dan sMERF dengan mempertimbangkan
penggunaan lagged response masih relatif terbatas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi performa prediksi LMM, MERF,
dan sMERF dengan dan tanpa lagged response pada data longitudinal melalui studi
simulasi dan studi empiris dan mengidentifikasi peubah kontekstual sekolah yang
berperan penting dalam memprediksi capaian numerasi siswa SMA. Studi simulasi
dilakukan menggunakan 80 skenario yang dibentuk melalui kombinasi tingkat
ketergantungan waktu, heterogenitas individu, galat, dan proses stokastik. Setiap
skenario direplikasi sebanyak 100 kali sehingga menghasilkan 8000 dataset
simulasi. Evaluasi model dilakukan menggunakan Root Mean Square Error
(RMSE) dan koefisien determinasi (??2). Pada studi empiris, model diterapkan pada
data numerasi siswa SMA di Provinsi Jawa Barat. Numerasi dipilih karena
merupakan salah satu indikator penting dalam evaluasi mutu pendidikan dan masih
menunjukkan capaian yang relatif rendah baik pada tingkat nasional maupun
internasional. Kinerja model pada data empiris dievaluasi menggunakan RMSE,
Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage Error (MAPE), dan ??2.
Hasil studi simulasi menunjukkan bahwa penggunaan lagged response secara
konsisten meningkatkan performa prediksi pada seluruh metode dan kondisi yang
dievaluasi. Pada hampir seluruh skenario simulasi, model dengan lagged response
menghasilkan RMSE yang lebih rendah dan ??2 yang lebih tinggi dibandingkan
dengan model tanpa lagged response. Temuan ini didukung oleh analisis ragam dan
bootstrap comparison sampling yang menunjukkan bahwa model dengan lagged
response secara signifikan memberikan performa prediksi yang lebih baik
dibandingkan dengan model tanpa lagged response. Hasil tersebut
mengindikasikan bahwa informasi historis merupakan komponen penting dalam
memprediksi respons longitudinal karena mampu menangkap ketergantungan
temporal antarpengukuran. Di antara metode yang dibandingkan, MERF dengan
lagged response menunjukkan performa paling baik pada sebagian besar skenario
simulasi, ditunjukkan oleh frekuensi keunggulan tertinggi dan rataan peringkat
terbaik. Sementara itu, keunggulan sMERF tidak muncul secara universal pada
seluruh kondisi simulasi. Perbaikan performa sMERF mulai terlihat pada kondisi
dengan ketergantungan temporal dan sinyal stokastik yang lebih kuat, namun belum
mampu mengungguli MERF secara konsisten. Hasil ini menunjukkan bahwa
peningkatan kompleksitas model melalui penambahan proses stokastik tidak selalu
menghasilkan peningkatan akurasi prediksi, melainkan bergantung pada
karakteristik data yang dianalisis.
Pada studi empiris, model berbasis machine learning secara umum
menghasilkan performa prediksi yang lebih baik dibandingkan dengan LMM, baik
pada kondisi dengan maupun tanpa lagged response. Penambahan lagged response
juga meningkatkan akurasi prediksi pada seluruh metode yang dievaluasi. MERF
dengan lagged response menghasilkan performa terbaik dengan nilai MAPE
sebesar 5,11% dan ??2 sebesar 75,86%. Meskipun demikian, hasil bootstrap
menunjukkan bahwa rentang performa MERF dan sMERF cenderung berhimpit,
yang mengindikasikan bahwa kedua metode memberikan tingkat akurasi yang
relatif serupa. Konsistensi hasil antara studi simulasi dan studi empiris memperkuat
temuan bahwa pemanfaatan informasi historis memberikan kontribusi yang lebih
besar terhadap peningkatan akurasi prediksi.
Analisis kepentingan peubah menunjukkan bahwa capaian numerasi pada
periode sebelumnya merupakan prediktor yang paling dominan dalam menjelaskan
capaian numerasi pada periode berikutnya. Selain faktor historis tersebut, sejumlah
indikator lingkungan sekolah yang berkaitan dengan kesetaraan budaya, toleransi,
dan inklusivitas juga teridentifikasi sebagai peubah penting dalam prediksi
numerasi. Temuan ini menunjukkan bahwa capaian numerasi tidak hanya
dipengaruhi oleh performa akademik sebelumnya, tetapi juga oleh kondisi sosial
dan iklim sekolah yang mendukung proses pembelajaran.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lagged
response merupakan komponen penting dalam prediksi data longitudinal. MERF
cenderung memberikan performa yang paling konsisten pada berbagai kondisi yang
dievaluasi, sedangkan pada simulasi yang dilakukan dalam penelitian ini,
keunggulan sMERF mulai muncul pada kondisi dengan ketergantungan temporal
dan sinyal stokastik yang lebih kuat. | |
| dc.description.abstract | Longitudinal data are characterized by heterogeneity across units and
temporal dependence among measurements, thus requiring a method that can
accommodate both aspects simultaneously. The Linear Mixed Model (LMM) is a
widely used approach because it can model variation across units through random
effects. However, this approach remains within a parametric framework, making it
less flexible in capturing nonlinear relationships and complex interactions among
variables. Mixed Effects Random Forest (MERF) was developed by combining the
flexibility of Random Forest in modeling nonlinear relationships with the random
effects structure in hierarchical data. MERF was initially developed for clustered
data and did not explicitly model temporal correlations among repeated
measurements. Subsequently, Stochastic MERF (sMERF) was developed, which
integrates stochastic processes to accommodate temporal correlations in
longitudinal data. In addition to temporal correlation structures via stochastic
processes, temporal relationships between measurements can also be represented
through lagged responses. A lagged response is the value of the response variable
from a previous time step used as a predictor to represent historical information.
Studies evaluating and comparing the performance of LMM, MERF, and sMERF
while considering the use of lagged responses remain relatively limited.
This study aims to evaluate the predictive performance of LMM, MERF, and
sMERF with and without lagged response variables on longitudinal data through
simulation and empirical studies and to identify school-level contextual variables
that play a significant role in predicting high school students’ numeracy
achievement. The simulation study was conducted using 80 scenarios generated by
combining levels of temporal dependency, individual heterogeneity, error, and
stochastic processes. Each scenario was replicated 100 times, resulting in 8000
simulated datasets. Model evaluation was performed using Root Mean Square Error
(RMSE) and the coefficient of determination (??2). In the empirical study, the model
was applied to high school students’ numeracy data in West Java Province.
Numeracy was chosen because it is a key indicator in educational quality
assessment and continues to show relatively low achievement at both the national
and international levels. The model’s performance on the empirical data was
evaluated using RMSE, Mean Absolute Error (MAE), Mean Absolute Percentage
Error (MAPE), and ??2.
The results of the simulation study show that the use of a lagged response
consistently improves predictive performance across all evaluated methods and
conditions. In nearly all simulation scenarios, models with a lagged response
produced lower RMSE and higher ??2 values compared to models without a lagged
response. These findings are supported by analysis of variance and bootstrap
comparison sampling, which show that models with lagged response significantly
provide better predictive performance than models without lagged response. These
results indicate that historical information is a crucial component in predicting
longitudinal responses because it captures the temporal dependence among
measurements. Among the compared methods, MERF with a lagged response
demonstrated the best performance in most simulation scenarios, as evidenced by
the highest win rate and the best average ranking. Meanwhile, the advantages of
sMERF were not universally evident across all simulation conditions.
Improvements in sMERF’s performance began to emerge under conditions with
stronger temporal dependencies and stochastic signals; however, it was not yet able
to consistently outperform MERF. These results indicate that increasing model
complexity by adding stochastic processes does not always lead to improved
prediction accuracy; rather, it depends on the characteristics of the data being
analyzed.
In the empirical study, machine learning-based models generally produced
better prediction performance than LMMs, both under conditions with and without
a lagged response. The inclusion of a lagged response also improved predictive
accuracy across all evaluated methods. MERF with a lagged response delivered the
best performance, with an MAPE of 5.11% and an ??2 of 75.86%. Nevertheless,
bootstrap results show that the performance ranges of MERF and sMERF tend to
overlap, indicating that both methods provide relatively similar levels of accuracy.
The consistency of results between the simulation and empirical studies reinforces
the finding that the use of historical information contributes more significantly to
improving prediction accuracy.
An analysis of the variables’ significance indicates that numeracy
achievement in the previous period is the most dominant predictor of numeracy
achievement in the subsequent period. In addition to this historical factor, several
school environment indicators related to cultural equity, tolerance, and inclusivity
were also identified as important variables in predicting numeracy. These findings
suggest that numeracy achievement is influenced not only by prior academic
performance but also by social conditions and a school climate that supports the
learning process.
Overall, the results of this study indicate that the use of lagged responses is a
key component in predicting longitudinal data. MERF tends to deliver the most
consistent performance across the various conditions evaluated, whereas in the
simulations conducted in this study, the advantages of sMERF begin to emerge
under conditions with stronger temporal dependencies and stochastic signals. | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Kinerja Model Random Forest dengan dan tanpa Lagged Response pada Data Longitudinal untuk Prediksi Kemampuan Numerasi Siswa SMA | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | capaian numerasi | id |
| dc.subject.keyword | data longitudinal | id |
| dc.subject.keyword | lagged response | id |
| dc.subject.keyword | MERF | id |
| dc.subject.keyword | sMERF | id |
| dc.subtype | Theses | |