Analisis Efektivitas dan Kelayakan Bisnis Pupuk Organik di Okiagaru Indonesia Agricoop
Date
2026Jenis/Type
Tugas AkhirSubtype
Undergraduate ThesesAuthor
SHALIHA, KARIMA ZAFIRI
Manalu, Doni Sahat Tua
Metadata
Show full item recordAbstract
Limbah hortikultura yang dihasilkan Okiagaru Indonesia Agricoop belum dikelola secara optimal, sehingga potensinya sebagai bahan baku pupuk organik bernilai tambah belum terwujud. Penelitian ini bertujuan menganalisis efektivitas Pupuk Organik Padat (POP) dan Pupuk Organik Cair (POC) terhadap pertumbuhan pakcoy (Brassica rapa L.), menyusun model bisnis melalui pendekatan Business Model Canvas (BMC), serta menganalisis kelayakan finansial usaha. Metode yang digunakan meliputi Rancangan Acak Kelompok (RAK) nonfaktorial dengan
ANOVA dan uji DMRT 5%, analisis BMC, serta indikator kelayakan finansial. POP terbukti paling efektif dengan bobot tanaman tertinggi sebesar 90,50 g, sementara POC lebih responsif pada fase vegetatif awal. Model BMC menggambarkan keterkaitan sembilan elemen bisnis yang saling mendukung keberlanjutan usaha. Secara finansial, usaha dinyatakan layak dengan NPV Rp41.527.072, IRR 17,16%, Net B/C 1,64, Gross B/C 1,08, dan Payback Period 6,68 tahun. Analisis switching value menunjukkan toleransi penurunan produksi maksimal 6,59% dan kenaikan harga molase hingga 68,77%, yang menegaskan stabilitas volume produksi sebagai faktor kritis keberlangsungan usaha. Horticultural waste generated by Okiagaru Indonesia Agricoop has not been optimally managed, leaving its potential as a value-added organic fertilizer unrealized. This study aimed to analyze the effectiveness of Solid Organic Fertilizer (SOF) and Liquid Organic Fertilizer (LOF) on pakcoy (Brassica rapa L.) growth, develop a Business Model Canvas (BMC)-based business model, and assess the financial feasibility of the business. A non-factorial Randomized Complete Block Design with ANOVA and 5% DMRT, BMC analysis, and financial indicators were
employed. SOF proved most effective with the highest plant weight of 90,50 g, while LOF showed a faster response during early vegetative growth. The BMC model illustrated nine interrelated business elements supporting long-term sustainability. Financially, the business is feasible with NPV of IDR 41.527.072, IRR of 17,16%, Net B/C of 1,64, Gross B/C of 1,08, and Payback Period of 6,68 years. Switching value analysis revealed a maximum production decline tolerance of 6,59% and molasses price increase of 68,77%, confirming that production volume stability is a critical factor for business continuity

