Risiko Paparan Formaldehida melalui Konsumsi Pangan Segar di Indonesia secara Deterministik dan Probabilistik
Date
2026Author
Rahmatullah, Mas Andang
Kusnandar, Feri
Aryani, Diah Chandra
Metadata
Show full item recordAbstract
Formaldehida merupakan senyawa aldehida sederhana yang dapat terbentuk secara alami pada pangan segar melalui proses metabolisme maupun dekomposisi enzimatik. Namun demikian, formaldehida sering disalahgunakan dalam bentuk formalin sebagai bahan pengawet ilegal. Kondisi ini menimbulkan tantangan dalam pengawasan keamanan pangan karena metode pengujian yang umum digunakan belum mampu membedakan formaldehida alami dengan penambahan formalin. Selain itu, Indonesia belum memiliki data yang komprehensif mengenai kadar formaldehida pada berbagai pangan segar sebagai dasar interpretasi hasil pengujian dan pengambilan keputusan dalam pengawasan.
Selain menimbulkan tantangan dalam pengawasan, formaldehida pada pangan segar juga berpotensi menjadi sumber paparan bagi masyarakat. Namun, informasi mengenai tingkat paparan dan risiko kesehatannya pada tingkat nasional masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi formaldehida pada pangan segar asal tumbuhan (PSAT) dan hewan (PSAH) di Indonesia, menganalisis tingkat paparan berdasarkan konsumsi nasional, serta melakukan karakterisasi risiko secara deterministik dan probabilistik.
Sebanyak 264 sampel yang terdiri atas 24 komoditas PSAT dan 21 komoditas PSAH dianalisis menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis dengan reagen asam kromotropat. Pada PSAH dilakukan juga analisis total volatile base nitrogen (TVB-N) untuk mendukung interpretasi formaldehida. Perhitungan paparan dan karakterisasi risiko dilakukan dengan data konsumsi nasional dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2024 untuk pendekatan deterministik serta Survei Konsumsi Makanan Individu (SKMI) 2014 untuk pendekatan probabilistik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar formaldehida pada PSAT berkisar dari di bawah batas deteksi (LOD) hingga 155,00 mg/kg, sedangkan pada PSAH berkisar <LOD hingga 4,08 mg/kg. Analisis TVB-N menunjukkan bahwa formaldehida pada PSAH lebih konsisten dengan proses metabolisme dan degradasi alami dibandingkan indikasi penambahan formalin. Penilaian secara deterministik menghasilkan estimated daily intake sebesar 0,00328 mg/kg BB/hari pada tingkat nasional, sedangkan pada tingkat provinsi berkisar dari 0,002078 hingga 0,008762 mg/kg BB/hari. Analisis probabilistik menunjukkan rata-rata paparan 0,0057 ± 0,0186 mg/kg BB/hari pada seluruh kelompok usia. Nilai paparan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan nilai tolerable daily intake sebesar 0,15 mg/kg BB/hari.
Karakterisasi risiko nonkanker menunjukkan bahwa seluruh nilai hazard quotient berada di bawah 1, yang mengindikasikan bahwa paparan formaldehida melalui konsumsi pangan segar tidak menimbulkan risiko kesehatan non kanker yang signifikan. Sementara itu, nilai cancer risk berada pada rentang yang dapat diterima hingga sedikit melebihi batas atas rentang referensi di beberapa kelompok daerah dan usia. Namun demikian, estimasi tersebut didasarkan pada pendekatan konservatif tanpa mempertimbangkan potensi penurunan kadar formaldehida selama proses pengolahan pangan, sehingga risiko aktual dapat lebih rendah. Formaldehyde is a simple aldehyde compound that can occur naturally in fresh foods through metabolic pathways and enzymatic degradation processes. However, formaldehyde is also frequently misused in the form of formalin as an illegal preservative. This situation poses a challenge to food safety surveillance because commonly used analytical methods are unable to distinguish naturally occurring formaldehyde from formalin intentionally added to food. In addition, Indonesia currently lacks comprehensive data on formaldehyde levels in various fresh foods that could serve as a scientific basis for interpreting analytical results and supporting surveillance-related decision-making.
Besides posing challenges to food safety surveillance, formaldehyde in fresh foods may also contribute to dietary exposure among population. However, information regarding exposure levels and associated health risks at the national level remains limited. Therefore, this study aimed to determine the concentrations of formaldehyde in fresh foods of plant origin (FFPO) and animal origin (FFAO) in Indonesia, estimate dietary exposure based on national consumption, conduct deterministic and probabilistic risk characterization.
A total of 264 samples representing 24 FFPO commodities and 21 FFAO commodities were analyzed using a UV–Vis spectrophotometric method with chromotropic acid reagent. For FFAO, total volatile base nitrogen (TVB-N) analysis was also conducted to support the interpretation of formaldehyde occurrence. Exposure assessment and risk characterization were performed using national food consumption data from 2024 National Socio-Economic Survey for deterministic approach and Individual Food Consumption Survey for probabilistic approach.
Formaldehyde concentrations in FFPO ranged from below limit of detection (LOD) to 155.00 mg/kg, while in FFAO ranged from <LOD to 4.08 mg/kg. TVB-N analysis indicated that occurrence of formaldehyde in FFAO was more consistent with natural metabolic and degradation processes than illegal addition of formalin. Deterministic exposure assessment estimated a national estimated daily intake (EDI) of 0.00328 mg/kg bw/day, while provincial exposure levels ranged from 0.002078 to 0.008762 mg/kg bw/day. Probabilistic assessment yielded a mean exposure of 0.0057 ± 0.0186 mg/kg bw/day across all age groups. These exposure levels were substantially lower than the tolerable daily intake of 0.15 mg/kg bw/day.
Non-carcinogenic risk characterization showed that all hazard quotient values were below 1, indicating that formaldehyde exposure through fresh food consumption is unlikely to pose significant non-carcinogenic risks. Meanwhile, cancer risk estimates were generally within acceptable risk range, although slightly exceeding upper reference limit in certain age and regional groups. Nevertheless, these estimates were based on a conservative assessment approach that did not account for potential reductions during food preparation and processing. Therefore, the actual risk is likely to be lower than the estimated values.
Collections
- MF - Agriculture Technology [2475]

