Perencanaan Bisnis Pupuk Organik Cair dari Limbah Sayuran pada Hidroponik Nusantara
Abstract
POC Nusantara diproduksi melalui fermentasi selama 20 hari yang mencakup
pencacahan limbah sayuran, pencampuran dengan EM4 dan molase, fermentasi,
hingga pengemasan. Produksi dilakukan satu kali per bulan dengan kapasitas 500
liter yang ditetapkan berdasarkan target pangsa pasar sebesar 6,88% dari kebutuhan
POC di Kabupaten Bogor serta disesuaikan dengan kemampuan operasional usaha
skala kecil. Produk yang dihasilkan berupa pupuk organik cair yang praktis, ramah
lingkungan, dan memiliki harga terjangkau. Analisis pasar menunjukkan potensi
yang menjanjikan, khususnya di wilayah Jabodetabek, dengan mayoritas responden
berusia 31-41 tahun dan berprofesi sebagai petani. Sebanyak 96,7% responden
merasakan peningkatan bunga dan buah, serta 63,3% tidak mengalami kendala
dalam penggunaan POC. Perencanaan usaha menggunakan pendekatan business
model canvas (BMC) yang menghasilkan sembilan elemen bisnis terintegrasi,
dengan distribusi dilakukan secara offline dan online. Proyeksi keuangan
menunjukkan bahwa usaha POC Nusantara layak dan menguntungkan pada tahun
ke-2 hingga ke-5 dengan nilai R/C ratio > 1. Keuntungan usaha meningkat hingga
Rp66.250.000 pada tahun ke-4 dan ke-5, serta mencapai titik impas (BEP) pada
penjualan 494 unit atau Rp7.410.000 per bulan. POC Nusantara is produced through a 20-day fermentation process consisting
of vegetable waste chopping, mixing with EM4 and molasses, fermentation, and
packaging. Production is carried out once a month with a capacity of 500 liters,
determined based on a 6.88% market share target of POC demand in Bogor
Regency and adjusted to the operational capacity of a small-scale business. The
product is a practical, environmentally friendly, and affordable liquid organic
fertilizer. Market analysis indicated promising potential, particularly in the Greater
Jakarta area, with most respondents aged 31-41 years and working as farmers. A
total of 96.7% of respondents experienced increased flowering and fruiting, while
63.3% reported no difficulties in using the product. Business planning was
conducted using the business model canvas (BMC) approach, resulting in nine
integrated business elements with both offline and online distribution channels.
Financial projections showed that the POC Nusantara business is feasible and
profitable from the second to the fifth year, with an R/C ratio > 1. Profit increased
up to Rp66.250.000 in the fourth and fifth years, while the business reached the
break-even point (BEP) at sales of 494 units or Rp7.410.000 per month.

