PENGEMBANGAN MODEL BISNIS BERBASIS ETNIS UNTUK KEBERLANGSUNGAN USAHA WARUNG MADURA
Date
2026Author
Khalisha, Namyra Mumtaz
Asnawi, Yudha Heryawan
Suhendi
Metadata
Show full item recordAbstract
Transformasi industri ritel Indonesia ditandai oleh semakin kuatnya posisi ritel modern yang didukung sistem operasional terstruktur, standardisasi layanan, dan jaringan distribusi luas. Kondisi ini menjadi tantangan bagi ritel tradisional yang umumnya memiliki keterbatasan modal, skala usaha kecil, pengelolaan
sederhana, dan daya tawar yang lemah terhadap pemasok. Di tengah tekanan tersebut, warung madura tetap bertahan sebagai ritel tradisional yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Keberlangsungannya tidak hanya ditopang oleh harga dan kelengkapan produk, tetapi juga oleh karakter usaha berbasis keluarga, fleksibilitas operasional, kedekatan sosial dengan pelanggan, dan jaringan etnis.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis unique value proposition, memetakan pola rantai pasok, serta merumuskan rekomendasi pengembangan model bisnis untuk keberlangsungan warung madura. Penelitian dilakukan di Kota dan Kabupaten Bogor dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan pemilik atau pengelola warung madura, sembilan konsumen, satu praktisi industri FMCG, dan observasi lapangan. Data dianalisis menggunakan analisis deskriptif, analisis tematik, analisis komparatif, Value Proposition Canvas, dan pemetaan rantai pasok. Keabsahan data diperkuat melalui triangulasi teori, data, dan metodologis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa warung madura merupakan usaha ritel kecil yang terbentuk dari perpaduan kewirausahaan migran, usaha keluarga, dan jaringan sosial berbasis etnis. Unique value propositionnya mencakup aksesibilitas mikro, fleksibilitas waktu, kepraktisan layanan, fleksibilitas pembelian, fleksibilitas pembayaran, dan kedekatan sosial dengan pelanggan. Rantai pasok warung madura bersifat pragmatis, adaptif, dan multisumber, dengan grosir tradisional sebagai aktor utama pengadaan. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa harga kompetitif warung madura tidak disebabkan oleh rantai pasok yang lebih pendek, tetapi oleh fleksibilitas membandingkan harga pemasok, biaya operasional rendah, tenaga kerja keluarga, dan orientasi margin kecil dengan perputaran barang cepat.
Berdasarkan temuan tersebut, pengembangan model bisnis warung madura diarahkan pada empat area penguatan, yaitu optimalisasi pengadaan dan stabilitas pasokan, penguatan kapabilitas operasional dan tata kelola internal, peningkatan layanan pelanggan yang responsif terhadap kebutuhan lokal, serta pengembangan pembiayaan modal kerja berbasis relasi sosial. Implikasi manajerial penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan warung madura perlu dilakukan secara bertahap tanpa menghilangkan karakter informal, fleksibel, dan relasional yang menjadi sumber keunggulannya. Penguatan pencatatan sederhana, pengelolaan stok, standar pelayanan minimum, kerja sama pengadaan, dan struktur pembiayaan yang lebih jelas dapat membantu warung madura menjadi lebih efisien, stabil, dan berkelanjutan. The transformation of Indonesia's retail industry has been marked by the strengthening position of modern retail, supported by structured operations,
standardized services, and extensive distribution networks. This condition presents challenges for traditional retailers, which often face limited capital, small-scale operations, basic management practices, and weak bargaining power with suppliers. Amid these pressures, warung madura continues to survive as a traditional retail business closely embedded in community life. Its continuity is supported not only by price and product completeness, but also by its family-based character, operational flexibility, social closeness with customers, and ethnic networks.
This study aims to analyze the unique value proposition, map the supply chain pattern, and formulate a business model development for the continuity of warung madura. The study was conducted in Bogor City and Bogor Regency using a qualitative approach. Primary data were collected through in-depth interviews with eight Warung Madura owners or managers, nine consumers, one FMCG industry practitioner, and field observation. The data were analyzed using descriptive analysis, thematic analysis, comparative analysis, the Value Proposition Canvas, and supply chain mapping. Data validity was strengthened through theoretical, data, and methodological triangulation.
The findings show that warung madura is a small retail business shaped by migrant entrepreneurship, family business practices, and ethnic-based social networks. Its unique value proposition includes micro-level accessibility, time flexibility, practical service, small-quantity purchases, payment flexibility, and social closeness with customers. Its supply chain is pragmatic, adaptive, and multisourced, with traditional wholesalers serving as the main procurement actors. Finding of this study shows that warung madura's price competitiveness is not mainly due to a shorter supply chain, but to merchants' flexibility in comparing supplier prices, low operating costs, family labor, and a small-margin orientation with high product turnover.
Based on these findings, the business model development of warung madura is directed toward strengthening procurement and supply stability, operational capability and internal governance, locally responsive customer service, and relationship-based working capital financing. The managerial implications indicate that warung madura should be developed gradually, without eliminating its informal, flexible, and relational character, which is its main source of advantage. Strengthening simple recordkeeping, inventory management, minimum service standards, procurement cooperation, and clearer financing structures can help warung madura become more efficient, stable, and sustainable.
Collections
- MF - Business [4149]

