Peranan Kemitraan terhadap Kinerja Rantai Nilai Beras di PT Padi Indonesia Maju Kabupaten Ngawi Jawa Timur
Abstract
Beras merupakan pangan pokok utama di Indonesia, namun petani masih menghadapi kendala kualitas, efisiensi, dan rendahnya posisi tawar dalam rantai nilai. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan melalui kemitraan terintegrasi dengan pelaku hilir, seperti yang dikembangkan oleh PT Padi Indonesia Maju di Kabupaten Ngawi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola dan derajat kemitraan, menganalisis rantai nilai beras, serta mengkaji peranan kemitraan terhadap kinerja rantai nilai beras di PT PIM. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara mendalam dengan responden terpilih menggunakan metode snowball sampling. Penelitian ini melalui pendekatan analisis kualitatif yang didukung oleh analisis
data kuantitatif. Hasil penelitian bahwa kemitraan PT PIM berpola inti plasma dengan kategori kemitraan prima utama dengan total skor 929,26. Tata kelola rantai nilai pada saluran mitra bersifat relational, sedangkan nonmitra bersifat modular.
Kemitraan meningkatkan pendapatan petani sebesar 39,45% lebih tinggi dibandingkan nonmitra, yang didukung oleh rantai distribusi yang lebih pendek serta margin pemasaran yang lebih efisien. Rice is the primary staple food in Indonesia, yet farmers continue to face challenges related to quality, efficiency, and low bargaining power in the value chain. This condition highlights the need for strengthening strategies through integrated partnerships with downstream actors, such as the partnership implemented by PT Padi Indonesia Maju in Ngawi Regency. This study aims to analyze the partnership pattern and level, examine the rice value chain, and evaluate the role of the partnership in the rice value chain at PT PIM. Data were collected using questionnaires and in depth interviews with selected respondents through the snowball sampling method. The study employs a qualitative approach supported by quantitative analysis. The results indicate that the partnership follows a nucleus plasma pattern and is classified as a primary partnership with a total score of 929,26. The value chain governance in the partner channel is relational, while in the nonpartner channel it is modular. The partnership increases farmers’ income by 39.45% compared to non-partners, supported by shorter distribution channels and more efficient marketing margins.
Collections
- UT - Agribusiness [4801]

