Show simple item record

dc.contributor.advisorAchsani, Noer Azam
dc.contributor.advisorSari, Linda Karlina
dc.contributor.authorRiantas, Yahya
dc.date.accessioned2026-05-21T01:58:27Z
dc.date.available2026-05-21T01:58:27Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173127
dc.description.abstractSistem perbankan Indonesia mendominasi sektor keuangan nasional dengan porsi sekitar 77% dari total aset, menjadikannya pilar utama stabilitas ekonomi dan transmisi kebijakan moneter. Industri perbankan terbagi ke dalam dua kelompok struktural: bank nasional yang beroperasi secara luas dengan diversifikasi tinggi, serta Bank Pembangunan Daerah (BPD) yang terbatas secara wilayah namun unggul dalam relationship banking dan pelayanan sektor publik lokal. Pandemi COVID-19 memicu guncangan simultan terhadap profitabilitas, likuiditas, dan kualitas aset perbankan secara struktural. Meskipun otoritas merespons dengan kebijakan countercyclical yang masif, kajian empiris yang secara eksplisit membandingkan stabilitas bank nasional dan BPD dalam kerangka tiga fase pandemi menggunakan pendekatan panel dinamis dengan dua proksi stabilitas yang komplementer masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan: memetakan tren global stabilitas keuangan perbankan; mengukur dan membandingkan stabilitas kedua kelompok bank selama 2015–2025; mengidentifikasi determinan stabilitas serta heterogenitasnya antar kelompok; dan merumuskan implikasi kebijakan berbasis bukti empiris. Penelitian menggunakan data panel dari 93 bank umum, 67 bank nasional dan 26 BPD, selama sebelas tahun, bersumber dari laporan keuangan yang diaudit dan dipublikasikan kepada OJK, Bank Indonesia, dan BPS. Variabel dependen mencakup Z-score sebagai ukuran ketahanan solvabilitas aktual yang bersifat backward-looking, dan CKPN yang dinormalisasi terhadap total kredit sebagai proksi kehati-hatian manajemen risiko kredit yang bersifat forward-looking di bawah kerangka PSAK 71. Variabel independen meliputi faktor mikroprudensial, makroprudensial, dan makroekonomi, dilengkapi dua variabel dummy temporal. Analisis ekonometrika dilakukan secara bertahap: model statis melalui Chow Test dan Hausman Test menghasilkan terpilihnya Random Effects Model, namun evaluasi asumsi klasik mendeteksi heteroskedastisitas dan autokorelasi yang signifikan sehingga estimasi dilanjutkan ke Generalized Method of Moments (GMM) dinamis. Validitas model dikonfirmasi melalui uji AR(2) dan Hansen J-test. Untuk robustness check berdasarkan kategori KBMI, sub-sampel yang lebih homogen memenuhi seluruh asumsi klasik sehingga Random Effects Model statis dinyatakan memadai. Hasil analisis bibliometrik mengungkapkan kesenjangan utama berupa minimnya studi komparatif bank nasional dan daerah di negara berkembang yang mengintegrasikan dimensi solvabilitas aktual dan kehati-hatian antisipatif secara simultan dalam kerangka panel dinamis. Temuan regresi menunjukkan bahwa stabilitas perbankan Indonesia bersifat sangat persisten dan path-dependent. Variabel pandemi dan pasca-pandemi keduanya berpengaruh negatif signifikan terhadap Z-score bank nasional dengan magnitude yang setara, mengkonfirmasi scar effect yang belum pulih sepenuhnya. Sebaliknya, BPD menunjukkan resiliensi yang luar biasa, kedua variabel dummy tidak signifikan pada model bank daerah, berkat konsentrasi portofolio pada kredit ASN dan proyek pemerintah daerah yang terlindungi secara alamiah. Determinan stabilitas menunjukkan heterogenitas yang fundamental. Ukuran bank berpengaruh negatif pada bank nasional, namun tidak berpengaruh pada BPD. Kecukupan modal meningkatkan stabilitas di seluruh kelompok dengan dampak yang jauh lebih besar pada BPD, sementara berpengaruh negatif terhadap CKPN mengindikasikan substitusi fungsional antara modal dan cadangan. Efisiensi operasional merupakan determinan universal yang paling konsisten, dengan kerentanan BPD yang jauh lebih besar. Kebijakan Modal Inti Minimum OJK secara konsisten meningkatkan stabilitas di seluruh kelompok. Giro Wajib Minimum berdampak negatif signifikan hanya terhadap CKPN BPD, mengkonfirmasi asimetri dampak instrumen likuiditas pada bank kecil. Suku bunga kebijakan menghasilkan dampak asimetris: menguntungkan BPD sebagai net lender namun menekan pembentukan cadangan bank nasional. Perbandingan dua proksi mengungkapkan bahwa Z-score dan CKPN sering memberikan gambaran yang berbeda arah, mencerminkan perbedaan dimensi temporal, aktual versus antisipatif, yang justru saling melengkapi. Implikasi kebijakan menegaskan perlunya pendekatan tersegmentasi: pengawasan berbasis risiko yang lebih ketat untuk bank sistemik, akselerasi digitalisasi BPD, kebijakan GWM yang terdiferensiasi, serta exit strategy yang gradual dari relaksasi pasca-pandemi dengan pemantauan ketat terhadap pemulihan stabilitas bank nasional.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleAnalisis Stabilitas Keuangan Perbankan di Indonesiaid
dc.title.alternativeAnalysis of Banking Financial Stability in Indonesia
dc.typeTesis
dc.subject.keywordBank Nasionalid
dc.subject.keywordBPDid
dc.subject.keywordPandemi Covid-19id
dc.subject.keywordstabilitas keuanganid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record