Show simple item record

dc.contributor.advisorZamani, Neviaty Putri
dc.contributor.advisorNatih, Nyoman Metta N.
dc.contributor.advisorIsmet, Meutia Samira
dc.contributor.authorSukma, Mutiara Antini
dc.date.accessioned2026-05-19T03:41:05Z
dc.date.available2026-05-19T03:41:05Z
dc.date.issued2026
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/173102
dc.description.abstractIndonesia merupakan habitat bagi enam dari tujuh spesies penyu di dunia, salah satunya penyu hijau (Chelonia mydas). Meskipun kajian mengenai habitat peneluran penyu telah banyak dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, kawasan konservasi yang juga berfungsi sebagai destinasi wisata masih menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu keberlanjutan habitat peneluran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial dan temporal peneluran, serta faktor lingkungan yang mempengaruhi habitat peneluran penyu hijau di Kawasan Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan. Hasil analisis spasial menunjukkan bahwa frekuensi peneluran tertinggi terdapat pada Pos 2 dan terendah pada Pos 6. Kondisi optimal di Pos 2, seperti kemiringan pantai yang landai, tekstur pasir halus, vegetasi pandan yang lebat, serta stabilitas garis pantai, menjadi faktor utama tingginya aktivitas peneluran. Kondisi ekstrem seperti pantai curam, kedekatan dengan muara sungai, dan tingginya abrasi pada stasiun lain menyebabkan rendahnya aktivitas peneluran. Secara temporal, peneluran penyu hijau menunjukkan fluktuasi antar tahun (interannual variability) dan pola musiman yang jelas. Tingkat keberhasilan peneluran umumnya berada di atas 50% dari jumlah penyu yang mendarat, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2021 dan 2022. Jumlah penyu bertelur mengalami puncak pada tahun-tahun tertentu seperti 2017 dan 2019, serta penurunan signifikan pada tahun 2018 dan 2022 yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti abrasi pantai, gelombang tinggi, dan curah hujan. Pola musiman menunjukkan peningkatan aktivitas peneluran pada bulan April hingga Oktober, dengan puncak pada September–Oktober, kemudian menurun hingga bulan Maret. Pengamatan in situ dilakukan pada bulan September 2024 di enam area peneluran melalui observasi lapangan dengan pengumpulan data ekologis penyu dan parameter biofisik habitat. Hasil penelitian menunjukkan ditemukannya 54 individu penyu hijau dengan total 54 sarang. Kondisi biofisik Pantai Pangumbahan masih mendukung aktivitas peneluran, ditunjukkan oleh suhu sarang yang tidak melebihi 30 °C, kelembaban sarang berkisar 66–75%, kedalaman sarang 71–73 cm, dan diameter sarang 31–33 cm. Karakteristik pantai meliputi kemiringan 8,9°–27,5°, lebar pantai 50–80 m, serta dominasi substrat pasir halus dengan persentase lebih dari 78%. Vegetasi pantai yang ditemukan terdiri atas pandan laut, katang-katang, dan ketapang. Beberapa proses peneluran terhambat oleh abrasi pantai, kedekatan dengan aliran sungai, kemiringan pantai yang curam, serta aktivitas manusia di sekitar kawasan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam upaya konservasi dan pengelolaan berkelanjutan habitat peneluran penyu hijau di wilayah pesisir yang berada di bawah tekanan aktivitas manusia dan perubahan lingkungan.
dc.description.sponsorship
dc.language.isoid
dc.publisherIPB Universityid
dc.titleDINAMIKA SPASIAL DAN TEMPORAL (2014-2023) PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI KAWASAN KONSERVASI PENYU PANTAI PANGUMBAHANid
dc.title.alternative
dc.typeTesis
dc.subject.keywordChelonia mydasid
dc.subject.keywordpeneluran penyuid
dc.subject.keywordkarakteristik habitatid
dc.subject.keywordkondisi biofisikid
dc.subject.keywordtropisid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record