DINAMIKA SPASIAL DAN TEMPORAL (2014-2023) PENELURAN PENYU HIJAU (Chelonia mydas) DI KAWASAN KONSERVASI PENYU PANTAI PANGUMBAHAN
Date
2026Author
Sukma, Mutiara Antini
Zamani, Neviaty Putri
Natih, Nyoman Metta N.
Ismet, Meutia Samira
Metadata
Show full item recordAbstract
Indonesia merupakan habitat bagi enam dari tujuh spesies penyu di dunia, salah
satunya penyu hijau (Chelonia mydas). Meskipun kajian mengenai habitat
peneluran penyu telah banyak dilakukan di berbagai wilayah Indonesia, kawasan
konservasi yang juga berfungsi sebagai destinasi wisata masih menghadapi tekanan
akibat aktivitas manusia yang berpotensi mengganggu keberlanjutan habitat
peneluran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola spasial dan temporal
peneluran, serta faktor lingkungan yang mempengaruhi habitat peneluran penyu
hijau di Kawasan Konservasi Penyu Pantai Pangumbahan. Hasil analisis spasial
menunjukkan bahwa frekuensi peneluran tertinggi terdapat pada Pos 2 dan terendah
pada Pos 6. Kondisi optimal di Pos 2, seperti kemiringan pantai yang landai, tekstur
pasir halus, vegetasi pandan yang lebat, serta stabilitas garis pantai, menjadi faktor
utama tingginya aktivitas peneluran. Kondisi ekstrem seperti pantai curam,
kedekatan dengan muara sungai, dan tingginya abrasi pada stasiun lain
menyebabkan rendahnya aktivitas peneluran. Secara temporal, peneluran penyu
hijau menunjukkan fluktuasi antar tahun (interannual variability) dan pola
musiman yang jelas. Tingkat keberhasilan peneluran umumnya berada di atas 50%
dari jumlah penyu yang mendarat, meskipun terjadi penurunan pada tahun 2021
dan 2022. Jumlah penyu bertelur mengalami puncak pada tahun-tahun tertentu
seperti 2017 dan 2019, serta penurunan signifikan pada tahun 2018 dan 2022 yang
dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti abrasi pantai, gelombang tinggi, dan
curah hujan. Pola musiman menunjukkan peningkatan aktivitas peneluran pada
bulan April hingga Oktober, dengan puncak pada September–Oktober, kemudian
menurun hingga bulan Maret. Pengamatan in situ dilakukan pada bulan September
2024 di enam area peneluran melalui observasi lapangan dengan pengumpulan data
ekologis penyu dan parameter biofisik habitat. Hasil penelitian menunjukkan
ditemukannya 54 individu penyu hijau dengan total 54 sarang. Kondisi biofisik
Pantai Pangumbahan masih mendukung aktivitas peneluran, ditunjukkan oleh suhu
sarang yang tidak melebihi 30 °C, kelembaban sarang berkisar 66–75%, kedalaman
sarang 71–73 cm, dan diameter sarang 31–33 cm. Karakteristik pantai meliputi
kemiringan 8,9°–27,5°, lebar pantai 50–80 m, serta dominasi substrat pasir halus
dengan persentase lebih dari 78%. Vegetasi pantai yang ditemukan terdiri atas
pandan laut, katang-katang, dan ketapang. Beberapa proses peneluran terhambat
oleh abrasi pantai, kedekatan dengan aliran sungai, kemiringan pantai yang curam,
serta aktivitas manusia di sekitar kawasan. Temuan ini diharapkan dapat menjadi
dasar ilmiah dalam upaya konservasi dan pengelolaan berkelanjutan habitat
peneluran penyu hijau di wilayah pesisir yang berada di bawah tekanan aktivitas
manusia dan perubahan lingkungan.
Collections
- MT - Fisheries [3255]

