Profil Whole-Genome Sequencing pada Salmonella Resisten Ampisilin Asal Air Irigasi Pertanian
Date
2026Author
Jinan, Shausan Fairuz
Rahayu, Winiati Pudji
Nurjanah, Siti
Metadata
Show full item recordAbstract
Air irigasi merupakan sumber utama kontaminasi mikroorganisme patogen
pada produk pertanian. Salah satu mikroorganisme patogen yang sering terdeteksi
pada pangan dan lingkungannya adalah Salmonella spp.. Keberadaan Salmonella
spp. yang resisten terhadap antibiotik menjadi ancaman serius bagi kesehatan
global, terutama pada produk sayuran segar.
Penelitian sebelumnya (Ardianti 2025) telah mengidentifikasi gen resistensi
(blaTEM dan blaSHV) pada sembilan isolat Salmonella spp. dan satu isolat Klebsiella
spp. yang berasal dari air irigasi pertanian tanaman selada menggunakan PCR
standar. Penelitian ini merupakan studi lanjutan yang berfokus pada karakterisasi
resistensi ampisilin pada isolat Salmonella spp. dari air irigasi pertanian dari
tanaman selada. Studi ini bertujuan mengeksplorasi dan menganalisis isolat
Salmonella spp. resisten ampisilin melalui pendekatan fenotipik dan genotipik
berbasis next-generation sequencing (NGS) melalui whole-genome sequencing
(WGS) yang dilakukan dalam empat tahapan penelitian.
Tahap pertama dilakukan uji fenotipik terhadap ampisilin menggunakan
metode Kirby–Bauer pada sembilan isolat terduga Salmonella spp., satu isolat
Klebsiella spp., serta kontrol (Salmonella Typhimurium ATCC 14028 sebagai
kontrol sensitif dan Salmonella BCID 1.3 sebagai kontrol resisten). Hasil pengujian
menunjukkan bahwa dari sembilan isolat terduga Salmonella, terdapat 1 isolat
sensitif (11,1%), 4 isolat resisten (44,4%), dan 4 isolat heteroresisten (44,4%).
Kontrol Salmonella Typhimurium ATCC 14028 menunjukkan pola sensitif,
sedangkan Salmonella BCID 1.3 menunjukkan pola resisten, dan isolat Klebsiella
menunjukkan pola heteroresisten. Selanjutnya, seluruh isolat yang menunjukkan
pola heteroresisten diinkubasi kembali dengan perpanjangan waktu hingga 48 jam.
Setelah inkubasi 48 jam, isolat-isolat tersebut menunjukkan perubahan menjadi
pola resistensi penuh. Dengan demikian, empat isolat terduga Salmonella dan
Klebsiella yang sebelumnya heteroresisten berpotensi menjadi resisten terhadap
ampisilin.
Pada tahap kedua dilakukan uji konfirmasi terhadap sembilan isolat terduga
Salmonella spp. menggunakan real-time PCR dengan target gen invA. Isolat
Salmonella Typhimurium ATCC 14028 dan Salmonella BCID 1.3 digunakan
sebagai kontrol positif, sedangkan isolat Klebsiella digunakan sebagai kontrol
negatif. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari sembilan isolat terduga
Salmonella, dua isolat (H.2.1 dan H.2.2) terkonfirmasi sebagai Salmonella dengan
nilai Cq masing-masing 17,80 dan 18,32, sedangkan isolat lainnya menunjukkan
hasil negatif serupa dengan kontrol negatif (Klebsiella). Kedua isolat terkonfirmasi
tersebut (H.2.1 dan H.2.2) juga menunjukkan pola resisten terhadap ampisilin pada
uji Kirby–Bauer yang mengindikasikan adanya Salmonella resisten antibiotik betalaktam dalam air irigasi.
Tahap ketiga meliputi sekuensing NGS pada isolat Salmonella spp. H.2.1 dan
H.2.2 yang dirakit secara de novo menjadi contig menggunakan Galaxy. Kedua
isolat menunjukkan persentase GC sebesar 52% dengan ukuran genom sekitar 4,7–
4,8 Mbp serta kelengkapan tinggi (BUSCO 98,4–100%). Namun, isolat H.2.2
memiliki tingkat fragmentasi lebih tinggi (163 kontig; N50 58.287 bp)
dibandingkan H.2.1 (57 kontig; N50 175.037 bp), sehingga kualitas perakitannya
relatif lebih rendah. Pada kontrol positif, Salmonella Typhimurium ATCC 14028
dan Salmonella BCID 1.3 memiliki persentase GC 51,79–52,17% dengan ukuran
genom sekitar 4,8 Mbp dan kelengkapan tinggi (BUSCO 98,4–100%); meskipun
demikian, ATCC 14028 menunjukkan fragmentasi lebih tinggi (160 kontig; N50
67.266 bp) dibandingkan BCID 1.3 (56 kontig; N50 291.078 bp). Sebagai
pembanding, kontrol negatif Klebsiella H.9.2 memiliki persentase GC lebih tinggi
(57,79%) dan ukuran genom lebih besar (5,37 Mbp), serta kualitas perakitan lebih
baik (45 kontig; N50 600.631 bp; BUSCO 100%). Secara keseluruhan, karakteristik
genom isolat Salmonella (sampel dan kontrol positif) konsisten dan berbeda jelas
dari Klebsiella, sehingga mendukung data untuk analisis WGS.
Pada tahap keempat dilakukan analisis hubungan kekerabatan antar isolat
dianalisis melalui pohon filogenetik, gen resistensi, gen virulensi, dan keberadaan
plasmid. Hubungan kekerabatan antar isolat dianalisis menggunakan perangkat
lunak MEGA versi 12 melalui konstruksi pohon filogenetik. Hasil analisis
filogenetik menunjukkan isolat H.2.1 dan H.2.2 sebagai Salmonella Paratyphi B,
BCID 1.3 sebagai S. Schwarzengrund, ATCC 14028 sebagai S. Typhimurium, dan
Klebsiella H.9.2 sebagai Klebsiella quasipneumoniae. Penentuan serotipe
Salmonella dilakukan menggunakan SeqSero2. Hasil ini konsisten antara pohon
filogenetik dengan SeqSero2 untuk isolat Salmonella.
Identifikasi gen resistensi antibiotik dilakukan menggunakan AMRFinderPlus
v3.12.8 dengan coverage dan identity >99%. Hasilnya menunjukkan bahwa isolat
S. Paratyphi B var. Java H.2.1 dan H.2.2 membawa gen blaTEM-135 (ampisilin) dan
fosA4 (fosfomisin), dan memiliki plasmid tipe IncI1 yang berpotensi resistensi
ampisilin yang dapat ditransfer secara horizontal. Isolat Salmonella BCID 1.3
memiliki keragaman gen resistensi yang lebih luas (beta-laktam, kuinolon,
aminoglikosida, makrolida, dan sulfonamida) sehingga tergolong multi-drug
resistant (MDR). S. Typhimurium ATCC 14028 tidak membawa gen resistensi,
namun memiliki plasmid (IncFII dan IncFIB). Adapun isolat Klebsiella
quasipneumoniae H.9.2 hanya memiliki gen blaOKP-B-8 yang berkontribusi terhadap
resistensi beta-laktam (ampisilin).
Identifikasi gen virulensi dilakukan menggunakan ABRicate v1.0.1 dengan
basis data VFDB. Hasilnya menunjukkan bahwa seluruh isolat Salmonella
memiliki gen adhesi (fimD dan fimH) untuk melekat ke sel inang, gen SPI-1 (invasi
awal) dan SPI-2 (survival dan replikasi intraseluler), serta gen terkait dengan
penekanan inflamasi, ketahanan terhadap kondisi nutrisi terbatas, dan potensi
infeksi sistemik. Gen pembentuk biofilm hanya ditemukan pada isolat H.2.2 dan
BCID 1.3, sementara itu isolat Klebsiella quasipneumoniae memiliki jumlah gen
virulensi yang lebih sedikit, namun tetap menunjukkan potensi sebagai patogen.
Temuan ini menunjukkan adanya risiko kontaminasi Salmonella dari air irigasi
yang membawa gen virulensi dan resistensi ampisilin, terutama pada sayuran
seperti selada.
Collections
- MT - Agriculture Technology [2462]

