Kajian Pengendalian Mutu Minyak Kelapa Sawit (CPC) Pada Industri Pengolahan Kelapa Sawit (Studi Kamus PT. Perkebunan Mitra Ogan, Provinsi Sumatera Selatan)
Abstract
Kelapa sawit sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia karena
kontribusinya terhadap perolehan devisa, peluang pengembangan pasar serta
penyerapan tenaga kerja. Kini Indonesia menjadi eksportir minyak kelapa sawit
(Crude Palm Oil – CPO) nomor satu di dunia. Namun, mutu CPO dari Indonesia
sering kali dipandang memiliki mutu yang lebih rendah bila dibandingkan dengan
mutu CPO dari Malaysia. Dalam rangka meningkatkan daya saing produk CPO
dari Indonesia di masa mendatang, kepedulian produsen CPO terhadap mutu
produk CPO harus menjadi perhatian utama, karena hampir sebagian besar produk
CPO di Indonesia diekspor dan sebagian lagi digunakan didalam negeri.
PT. Perkebunan (PTP) Mitra Ogan merupakan salah satu perusahaan
perkebunan besar kelapa sawit yang memiliki unit bisnis mulai dari perkebunan
kelapa sawit sampai dengan pabrik pengolahan kelapa sawit dengan produk
utamanya adalah CPO dan inti sawit (kernel). Kegiatan pengendalian mutu yang
dilakukan oleh PTP Mitra Ogan untuk menghasilkan produk CPO mengacu pada
parameter mutu, yaitu kadar Asam Lemak Bebas (ALB), kadar air dan kadar
kotoran. Namun, produk CPO yang diproduksi oleh PTP Mitra Ogan sering kali
tidak sesuai dengan persyaratan mutu yang diinginkan oleh
pembeli/pelanggannya, yang tentu saja akan menyebabkan kerugian bagi
perusahaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian untuk mengetahui kebijakan
PTP Mitra Ogan dalam upaya meningkatkan mutu CPO di sepanjang rantai nilai
industri pengolahan kelapa sawit, menganalisis efektivitas penerapan manajemen
pengendalian mutu di PTP Mitra Ogan untuk mencapai standar mutu CPO yang
diinginkan pembeli/pelanggan, mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi mutu CPO pada rantai nilai industri pengolahan kelapa sawit PTP
Mitra Ogan dan merumuskan strategi peningkatan dan pengendalian mutu CPO
yang dilakukan PTP Mitra Ogan untuk mencapai standar mutu CPO yang
ditetapkan oleh pembeli/pelanggan.
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian yaitu studi kasus.
Analisis yang digunakan yaitu, identifikasi rantai nilai industri kelapa sawit,
analisis pengendalian mutu CPO menggunakan Statistical Process Control (SPC)
dan identifikasi faktor-faktor penyebab masalah menggunakan diagram sebab
akibat dan penyusunan strategi peningkatan dan pengendalian mutu CPO.
Rantai nilai industri kelapa sawit di PTP Mitra Ogan, meliputi pemasok
bibit, pupuk dan alat serta mesin pertanian, produsen TBS sebagai pemasok bahan
baku pabrik PTP Mitra Ogan yang terdiri atas perkebunan perusahaan (inti),
perkebunan petani kelapa sawit plasma dan pihak ketiga, jasa pengangkutan
Tandan Buah Segar (TBS), pabrik kelapa sawit yang mengolah TBS menjadi
Crude Palm Oil (CPO) dan kernel, pemasaran CPO dan kernel, jasa pengangkutan
CPO dan kernel kepada pembeli/pelanggan produk CPO dan kernel milik PTP
Mitra Ogan. Pelaksanaan pengendalian mutu CPO secara menyeluruh belum
diterapkan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh perusahaan, baik
pengendalian mutu TBS di kebun, mutu CPO di PKS maupun pada sistem
pengangkutan TBS dari kebun menuju PKS.
Berdasarkan analisis pengendalian mutu CPO, disimpulkan bahwa
pengendalian mutu kadar ALB produk CPO milik PTP Mitra Ogan belum efektif
dan belum mampu memenuhi standar mutu kadar ALB yang ditetapkan oleh
pembeli/pelanggan sebesar 5%. Sedangkan pengendalian mutu kadar air dan
kadar kotoran produk CPO milik PTP Mitra Ogan telah efektif dan mampu dalam
memenuhi standar mutu kadar air dan kadar kotoran yang ditetapkan oleh
pembeli/pelanggan masing-masing sebesar 0,25%.
Berdasarkan identifikasi faktor-faktor penyebab masalah, yaitu kadar ALB
berada diatas standar mutu yang ditetapkan oleh pembeli/pelanggan, diketahui
penyebabnya, yaitu (1) faktor manajemen, (2) faktor manusia, (3) faktor mesin,
(4) faktor metode dan (5) faktor material.
Strategi peningkatan dan pengendalian mutu CPO yang harus dilakukan
sesuai dengan urutan prioritasnya yaitu : (1) Material, melalui perbaikan mutu
bahan baku yang diterima oleh PKS dengan mengurangi jumlah buah restan.
Perbaikan dilakukan dengan cara pembuatan kontrak kerja sama pengangkutan
TBS dengan pihak ketiga dengan aturan yang jelas dan konsisten dijalankan oleh
kedua belah pihak, perbaikan pada main road dan collection road, penambahan
kendaraan traktor atau mobil 4WD serta alat komunikasi, pengkajian kembali
kriteria kematangan buah dan pemberian pelatihan kepada pemanen/pembrondol,
mandor panen dan kerani TPH serta petugas laboratorium, (2) Manusia, melalui
peningkatan mutu SDM, (3) Manajemen, melalui penguatan komitmen dalam
upaya memenuhi visi dan misi yang ditetapkan. Komitmen untuk memberikan
sarana dan prasarana pendukung untuk mewujudkan target-target yang telah
ditetapkan, seperti kesejahteraan karyawan, pelatihan-pelatihan kerja, perbaikan
jalan produksi, peralatan pendukung panen dan transportasi seperti traktor, mesin
grader, mobil untuk langsir TBS, kemudian investasi mesin-mesin pengolah TBS
serta mesin-mesin pendukung di PKS yang baru atau dengan kondisi yang prima,
(4) Mesin, melalui revitalisasi mesin-mesin pengolah di pabrik. Perbaikan mesinmesin
rusak serta peremajaan mesin-mesin pengolah yang sudah tua, terutama
mesin screw press yang sering mengalami kerusakan, harus diganti, penambahan
jumlah lori dan perbaikan jalur rel lori dan (5) Metode, melalui penjadwalan
evaluasi mingguan secara rutin dan konsisten serta peningkatan teknologi
pengolahan minyak yang bercampur lumpur sehinggan kegiatan pengolahan
kembali minyak-minyak yang bercampur lumpur dan juga pada kolam fat pit
dapat dikurangi. Dari hasil penelitian perlu dilakukan penelitian lebih lanjut
mengenai biaya mutu untuk mengetahui biaya yang harus diinvestasikan untuk
mutu produk CPO milik PTP Mitra Ogan dan analisis Total Productive
Maintenance (TPM) untuk mengetahui performance dan realibility mesin-mesin
pengolah pabrik
Collections
- MT - Business [4125]

