Pengelolaan Kawasan Pesisir yang Terdampak Banjir dan Penilaian Kerugian Ekonomi di Medan Belawan, Kota Medan
Date
2026Author
Naipospos, Hafiza Fikri
Taryono
Zairion
Kurniawan, Fery
Metadata
Show full item recordAbstract
Banjir pesisir di Kecamatan Medan Belawan merupakan fenomena berulang
yang dipengaruhi oleh interaksi dinamika pasang surut, debit Sungai Belawan,
topografi dataran rendah, serta penurunan muka tanah yang progresif. Karakter
kejadian yang periodik dan semakin meluas menimbulkan tekanan ekonomi yang
signifikan terhadap masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis
dinamika spasial–temporal banjir pesisir, (2) mengestimasi nilai kerugian ekonomi
akibat banjir pada tiga sektor utama, dan (3) merumuskan strategi adaptasi berbasis
struktur kerugian dan pola paparan genangan.
Analisis spasial–temporal dilakukan menggunakan pemodelan hidrodinamika
HEC-RAS 1D steady flow untuk mensimulasikan interaksi antara pasang maksimum
dan debit sungai. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa luas genangan pada tahun
2025 mencapai 2.266 ha dengan kecenderungan peningkatan akibat kenaikan muka
laut sebesar 4,42 mm/tahun dan penurunan muka tanah sebesar 1–5 cm/tahun. Pola
temporal menunjukkan frekuensi banjir sekitar dua kali per bulan pada fase pasang
purnama, dengan durasi genangan 4–12 jam. Karakter genangan yang berulang dan
dapat diprediksi menunjukkan dominasi fenomena high tide flooding dan compound
flooding pada wilayah muara dan dataran rendah pesisir.
Estimasi nilai kerugian ekonomi dilakukan menggunakan pendekatan
Environmental Damage Assessment (EDA) dengan menggabungkan kerusakan
langsung (direct damage) dan kerugian tidak langsung (indirect loss) pada sektor
rumah tangga, unit bisnis, dan fasilitas umum. Total kerugian akibat banjir pesisir Juli
2025 diestimasi sebesar Rp6.048.478.626 per bulan. Struktur kerugian menunjukkan
dominasi sektor rumah tangga sebesar 78,55%, diikuti fasilitas umum sebesar 16,63%
dan unit bisnis sebesar 4,82%. Analisis spasial menunjukkan intensitas kerugian rata-
rata sebesar Rp6,1 juta per hektare per bulan, dengan intensitas tertinggi di Kelurahan
Belawan Bahagia sebesar Rp16,6 juta/ha/bulan. Temuan ini menunjukkan bahwa
tekanan ekonomi tidak hanya dipengaruhi oleh luas genangan, tetapi oleh kepadatan
aset dan intensitas aktivitas sosial-ekonomi pada ruang yang sama.
Sintesis antara pola genangan dan struktur kerugian menunjukkan bahwa
adaptasi yang paling efektif untuk menurunkan total kerugian ekonomi perlu
memprioritaskan perlindungan aset rumah tangga pada zona dengan intensitas kerugian
tinggi. Strategi adaptasi difokuskan pada pengurangan kerusakan aset non-produktif
dan perlindungan aset produktif melalui pendekatan mikro berbasis rumah tangga,
penguatan kontinuitas operasional usaha kecil, serta perlindungan fungsi layanan publik. Rekomendasi adaptasi dikembangkan melalui integrasi pendekatan grey
solution dan green solution yang berbasis pada hasil analisis spasial paparan genangan
dan distribusi kerugian ekonomi.
Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis melalui integrasi pemodelan
hidrodinamika estuari, estimasi nilai kerugian ekonomi berbasis sektor, dan perumusan
adaptasi berbasis struktur kerugian dalam satu kerangka analisis terpadu. Penelitian ini
membatasi estimasi nilai kerugian pada tiga sektor utama dan satu periode kejadian
banjir, sehingga nilai kerugian yang diperoleh merepresentasikan kerugian langsung
jangka pendek dan belum mencakup sektor perikanan, jasa ekosistem, serta dampak
makroekonomi jangka panjang. Temuan penelitian ini dapat menjadi dasar penentuan
prioritas adaptasi berbasis bukti dalam perencanaan wilayah pesisir perkotaan yang
menghadapi peningkatan risiko akibat kenaikan muka laut dan penurunan muka tanah
Collections
- MT - Fisheries [3252]

