Daya Saing Pinang Indonesia Di Negara Tujuan Ekspor Utama
Abstract
Indonesia merupakan negara pemasok pinang utama dunia. Namun, dalam
beberapa tahun terakhir, pangsa pasar ekspor pinang Indonesia mulai mengalami
penurunan akibat meningkatnya persaingan dari negara-negara kompetitor. Oleh
karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya saing dan posisi
perdagangan pinang Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Revealed
Comparative Advantage (RCA), Dynamic Revealed Comparative Advantage
(DRCA), dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) untuk mengetahui daya saing
dan posisi perdagangan pinang Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
Indonesia memiliki daya saing komparatif yang kuat di empat pasar utama.
Analisis DRCA periode 2021-2024 mengidentifikasi tiga pasar (China, India,
Pakistan) sebagai Falling Star, sementara Iran sebagai Leading Retreat. Nilai
Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) rata-rata 0,99, yang mengonfirmasi posisi
Indonesia sebagai eksportir murni pada tahap kematangan. Implikasi dari temuan
ini adalah perlunya diversifikasi pasar, peningkatan standar mutu diplomasi
dagang untuk mengatasi hambatan-hambatan non-tarif. Indonesia is the world's leading betel nut supplier. However, in recent years,
Indonesia's betel nut export market share has begun to decline due to increased
competition from competing countries. Therefore, this study aims to analyze the
competitiveness and trade position of Indonesia's betel nut. This study uses the
Revealed Comparative Advantage (RCA), Dynamic Revealed Comparative
Advantage (DRCA), and Trade Specialization Index (ISP) methods to determine
the competitiveness and trade position of Indonesia's betel nut. The results show
that Indonesia has strong comparative competitiveness in four main markets. The
DRCA analysis for the 2021-2024 period identified three markets (China, India,
and Pakistan) as Falling Stars, while Iran was identified as a Leading Retreat. The
average Trade Specialization Index (ISP) value was 0.99, confirming Indonesia's
position as a net exporter at the maturity stage. The implications of these findings
are the need for market diversification and improved trade diplomacy standards to
address non-tariff barriers.
Collections
- UT - Agribusiness [4792]

