Penerimaan dan Kesiapan Implementasi Precision Agriculture dalam Industri Kelapa Sawit
Date
2026Author
Ardimansyah
Suroso, Arif Imam
Sumarwan, Ujang
Hasanah, Nur
Metadata
Show full item recordAbstract
Industri kelapa sawit merupakan salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, namun masih menghadapi tantangan terkait efisiensi operasional, pengelolaan sumber daya, dan tuntutan keberlanjutan. Kompleksitas pengelolaan lahan, variasi kondisi agroekologis, serta keterbatasan pemanfaatan teknologi digital menyebabkan proses produksi belum sepenuhnya berbasis data. Penerapan precision agriculture dipandang sebagai pendekatan yang memungkinkan pengelolaan perkebunan secara lebih presisi melalui pemanfaatan sensor, sistem informasi, dan analitik data. Meskipun demikian, keberhasilan implementasi precision agriculture sangat bergantung pada tingkat penerimaan pengguna dan kesiapan teknologi di tingkat individu maupun organisasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerimaan dan kesiapan implementasi precision agriculture dalam industri kelapa sawit Indonesia. Secara khusus, penelitian ini menganalisis pola penerapan teknologi presisi pada perusahaan perkebunan kelapa sawit, mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan aktual precision agriculture, serta mengevaluasi tingkat kesiapan teknologi perusahaan dalam mendukung adopsi teknologi tersebut. Fokus penelitian diarahkan pada perusahaan perkebunan kelapa sawit yang beroperasi di wilayah Kalimantan dengan melibatkan responden dari tingkat manajerial dan operasional.
Pendekatan penelitian yang digunakan adalah metode campuran. Systematic literature review dilakukan untuk memetakan perkembangan kajian business analytics dan precision agriculture dalam industri kelapa sawit. Analisis deskriptif dan content analysis digunakan untuk menggambarkan praktik penerapan teknologi berdasarkan dokumen, survei dan laporan perusahaan. Pengujian faktor penerimaan teknologi dilakukan menggunakan structural equation modeling berbasis partial least squares untuk menganalisis hubungan antar konstruk yang merepresentasikan persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dukungan organisasi, karakteristik inovasi, dan risiko yang dirasakan terhadap penggunaan aktual precision agriculture. Tingkat kesiapan teknologi dianalisis melalui pendekatan technology readiness, yang mencerminkan dimensi optimisme, inovasi, ketidaknyamanan, dan rasa tidak aman terhadap teknologi.
Hasil content analysis terhadap dokumen dan laporan perusahaan menunjukkan bahwa penerapan precision agriculture berada pada tahap berkembang dengan tingkat adopsi yang belum merata. Sebagian perusahaan telah mengintegrasikan teknologi presisi ke dalam aktivitas pemantauan lahan, pengelolaan data, dan pengambilan keputusan operasional, sementara perusahaan lain masih mengadopsinya secara terbatas dan bersifat parsial. Pola ini mencerminkan perbedaan orientasi manajerial, kapasitas organisasi, serta tingkat integrasi teknologi dalam proses kerja harian.
Penggunaan systematic literature review menunjukkan bahwa pengembangan business analytics dalam mendukung precision agriculture bergerak dari analitik deskriptif menuju analitik prediktif dan preskriptif. Analitik deskriptif digunakan untuk pemantauan kondisi tanaman dan lahan, analitik prediktif diarahkan pada proyeksi produksi dan risiko, sedangkan analitik preskriptif difokuskan pada rekomendasi operasional. Meskipun pendekatan analitik telah berkembang, penerapannya di tingkat perusahaan masih dibatasi oleh kualitas data yang belum seragam, keterbatasan infrastruktur, dan perbedaan kapasitas analitik antar pelaku usaha.
Analisis empiris menggunakan structural equation modeling berbasis partial least squares menunjukkan bahwa penggunaan aktual precision agriculture dipengaruhi oleh persepsi manfaat, kemudahan penggunaan yang didukung fasilitas organisasi, keunggulan relatif teknologi, ekspektasi kinerja, serta kondisi pendukung di lingkungan perusahaan. Sebaliknya, persepsi risiko dan kompleksitas teknologi menunjukkan kecenderungan menahan intensitas penggunaan. Faktor sosial dan sikap personal tidak muncul sebagai penentu utama, yang menunjukkan bahwa keputusan adopsi lebih banyak didasarkan pada pertimbangan operasional dan kesiapan organisasi.
Analisis kesiapan teknologi menggunakan pendekatan technology readiness menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kecenderungan optimisme dan orientasi inovatif terhadap teknologi digital, yang berjalan berdampingan dengan ketidaknyamanan dan kekhawatiran terkait keandalan sistem serta dampaknya terhadap pekerjaan. Pola ini menunjukkan tingkat kesiapan teknologi yang berada pada level menengah, yang memungkinkan transformasi digital dimulai namun belum sepenuhnya didukung oleh integrasi sistem dan pemanfaatan teknologi yang konsisten. Implikasi penelitian mengarah pada perlunya penguatan dukungan organisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengelolaan risiko teknologi yang lebih terstruktur guna mendorong implementasi precision agriculture yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Collections
- MT - Business [4109]
