| dc.contributor.advisor | Yandra | |
| dc.contributor.advisor | Handayati, Yuanita | |
| dc.contributor.advisor | Kailaku, Sari Intan | |
| dc.contributor.author | Habiba, Balqis Iklil | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-26T06:34:49Z | |
| dc.date.available | 2026-02-26T06:34:49Z | |
| dc.date.issued | 2026 | |
| dc.identifier.uri | http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/172773 | |
| dc.description.abstract | Manggis adalah salah satu komoditas ekspor andalan Indonesia, namun
rendahnya penyerapan pasar ekspor yang hanya mencapai 15% dari total produksi
dikarenakan oleh masalah kualitas fisik dan lemahnya sistem pelacakan digital.
Teknologi blockchain muncul sebagai solusi untuk memastikan transparansi dari
hulu ke hilir, namun ada kesenjangan signifikan antara visi digitalisasi dan kesiapan
operasional serta pemahaman digital para pelaku di lapangan. Penelitian ini
bertujuan untuk mengenali faktor-faktor pendorong dan penghalang, mengevaluasi
tingkat kesiapan para aktor, serta merancang strategi adopsi blockchain yang efisien.
Penelitian dilakukan di Kecamatan Leuwiliang dan Leuwisadeng, Jawa Barat.
Informasi diperoleh melalui wawancara, Focus Group Discussion (FGD), serta data
yang dianalisis dengan metode Technology Readiness Index (TRI), Unified Theory
of Acceptance and Use of Technology (UTAUT), dan Anayltic Network Process
(ANP). Temuan penelitian menyebutkan bahwa hambatan paling banyak
ditemukan adalah adanya keterbatasan sumber daya sedangkan manfaat yang paling
dirasakan adalah transparansi data. Hasil penilaian kesiapan menunjukkan bahwa
tingkat kesiapan aktor berada pada level sedang (3,32). Hasil model UTAUT
menunjukkan nilai koefisien regresi sebesar 0,789, dengan variabel social influence
(pengaruh sosial) sebagai pendorong yang paling signifikan, hal ini menunjukkan
fenomena sosial yang unik di lapangan: petani dan pedagang tetap memiliki
keinginan adopsi yang tinggi meskipun menghadapi tingkat ketidaknyamanan
(0,85) dan ketidakamanan (0,76) terhadap teknologi. Minat ini muncul bukan
disebabkan oleh keterampilan teknis mandiri, melainkan karena adanya
kepercayaan sosial terhadap saran penyuluh dan ketua kelompok tani. Situasi ini
diperkuat oleh tidak signifikannya variabel effort expectancy yang menunjukkan
bahwa aktor telah menyadari kompleksitas blockchain namun tidak memandangnya
sebagai halangan utama selama ada jaminan dukungan dari komunitas. Berdasarkan
analisis tersebut, penyusunan strategi menggunakan metode ANP menempatkan
peningkatan kapasitas organisasi dan sumber daya sebagai prioritas utama dengan
bobot 0,24.
Kata kunci: Adopsi Blockchain, ANP, Technology Readiness Index, UTAUT | |
| dc.description.abstract | Mangosteen is one of Indonesia's main export commodities, but has low
export market absorption, which only reaches 15% of total production, due to
physical quality issues and a weak digital tracking system. Blockchain technology
has emerged as a solution to ensure transparency from upstream to downstream,
but there is a significant gap between the vision of digitalization and the operational
readiness and digital understanding of actors in the field. This study aims to identify
the driving and inhibiting factors of blockchain technology adoption for enhancing
mangosteen supply chain traceability, evaluate the readiness level of the actors,
and design an efficient blockchain adoption strategy. The research was conducted
in Leuwiliang and Leuwisadeng subdistricts, West Java. Information was obtained
through interviews, Focus Group Discussions (FGD), and primary data analyzed
using the Technology Readiness Index (TRI), Unified Theory of Acceptance and
Use of Technology (UTAUT), and Analytic Network Process (ANP) methods. The
research findings indicate that the actors' readiness level is moderate (3.32). The
UTAUT model shows a regression coefficient value of 0.789, with the social
influence variable as the most significant driver. This indicates a unique social
phenomenon in the field: farmers and traders still have a high desire for adoption
despite facing levels of discomfort (0.85) and insecurity (0.76) towards the
technology. This interest arises not because of independent technical skills, but
because of social trust in the advice of extension workers and farmer group leaders.
This situation is reinforced by the insignificance of the effort expectancy variable,
which shows that actors are aware of the complexity of blockchain but do not view
it as a major obstacle as long as there is guaranteed support from the community.
Based on this analysis, the strategy formulation using the ANP method prioritizes
organizational capacity and resource enhancement with a weight of 0.24.
Keywords: Analytic Network Process, Blockchain Adoption, Technology Readiness
Index, UTAUT | |
| dc.description.sponsorship | | |
| dc.language.iso | id | |
| dc.publisher | IPB University | id |
| dc.title | Strategi Adopsi Teknologi Blockchain Untuk Peningkatan Ketertelusuran Rantai Pasok Manggis | id |
| dc.title.alternative | | |
| dc.type | Tesis | |
| dc.subject.keyword | Analytic Network Process (ANP) | id |
| dc.subject.keyword | Adopsi Blockchain | id |
| dc.subject.keyword | Technology Readiness Index | id |
| dc.subject.keyword | UTAUT | id |