Karakteristik Fisik Dan Kimia Lemak Kakao Hasil Olahan Biji Kakao Dari Sulawesi Tengah
Date
2026Author
Tantotosi, Esti
Budijanto, Slamet
Sitanggang, Azis Boing
Metadata
Show full item recordAbstract
Dalam industri pangan, lemak kakao merupakan salah satu bahan baku utama
yang bernilai tinggi karena sifat lemak kakao yang unik yaitu yaitu padat pada suhu
ruang dan meleleh cepat mendekati suhu tubuh. Sifat ini dipengaruhi oleh
komposisi asam lemak & distribusinya dalam membentuk molekul trigliserida.
Sekitar 80–90% trigliserida lemak kakao adalah senyawa POS, SOS, dan POP yang
tergolong dalam kelompok trigliserida SUS. Senyawa trigliserida masing-masing
memiliki titik leleh berbeda-beda. Oleh karena itu, variasi komposisi trigliserida
dapat mempengaruhi sifat fisik lemak kakao antara lain titik leleh dan SFC. Salah
satu faktor yang mempengaruhi karakteristik lemak kakao adalah faktor perbedaan
origin atau asal. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, kondisi lingkungan
tumbuh kakao seperti suhu, curah hujan, kelembaban dan ketinggian memengaruhi
biosintesis asam lemak melalui regulasi enzim desaturase. Lemak kakao yang
berasal dari daerah tropis atau iklim panas bersifat lebih keras atau tahan panas
dibandingkan lemak dari daerah dingin.
Sulawesi Tengah sebagai provinsi dengan areal perkebunan kakao terluas di
Indonesia memiliki potensi besar sebagai pemasok lemak kakao, namun variasi
lingkungan antar kabupaten diduga menghasilkan karakteristik lemak yang
berbeda. Selain itu, proses pengolahan juga mempengaruhi karakteristik lemak
kakao khususnya variasi suhu pada tahap pengempaan. Penelitian skala
laboratorium menemukan bahwa suhu yang tinggi meningkatkan rendemen, tapi
sebaliknya mutu lemak menurun dan tidak memenuhi standar.
Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh perbedaan asal biji kakao dan
suhu pengempaan terhadap karakteristik lemak kakao melalui pengukuran kadar
air, kadar asam lemak bebas, titik leleh slip, profil asam lemak, profil trigliserida
dan SFC. Sampel biji kakao berasal dari perkebunan di 8 kabupaten di wilayah
provinsi Sulawesi Tengah. Pengolahan biji kakao menjadi lemak kakao dilakukan
langsung pada pabrik pengolahan kakao di Sulawesi Tengah. Variasi suhu pada
tahap pengempaan yaitu 40, 60 dan 80 °C. Data yang diperoleh dari masing-masing
perlakuan dianalisis dengan sidik ragam satu arah (one way-ANOVA), dilanjutkan
dengan uji beda Tukey pada taraf 5% untuk mengetahui perbedaan antar perlakuan.
Selanjutnya, dilakukan penentuan klaster geografis dan visualisasi data dengan
Principal Component Analysis (PCA).
Berdasarkan hasil penelitian, perbedaan asal biji kakao berpengaruh
signifikan terhadap karakteristik fisik dan kimia lemak kakao. Kadar air lemak
kakao berkisar antara 0,14–0,25%, sedangkan standar SNI maksimal 0,2%. Kadar
asam lemak bebas (ALB) lemak kakao berada pada kisaran 0,59 hingga 2,87%
(asam oleat). Asam lemak utama yang diperoleh yaitu asam palmitat berkisar
24.08–27.42%, stearat 27.78–35.37%, oleat 32.48–40.45%, linoleat 2,12-3,81%
dan arakidat 1.08-1.58%. Trigliserida utama yaitu POP (14,87–18,55%), POS
(40,91–43,37%) dan SOS (27,28–31,42%). Jumlah kelompok trigliserida SUS,
SUU dan SSS (PPS) masing-masing dalam kisaran antara 89,05–92,20 %, 3,75–
7,83 % dan 0–0,93%. Secara keseluruhan total SUS lemak kakao dari setiap
kabupaten tergolong tinggi.
Titik leleh lemak kakao berkisar antara 29,5–32,22 °C. Lemak kakao dari BG
dan DG memiliki SMP yang sedikit lebih rendah (< 30 °C) dari hasil penelitian
SMP lemak kakao komersil Indonesia berkisar antara 31,8 – 32,6 °C. Hasil SFC
menunjukkan lemak kakao mengandung fraksi padat 60,8–74,3% pada suhu 20 °C,
kemudian meleleh cepat hingga mencapai titik suhu 30 °C. Rendahnya titik leleh
dan SFC beberapa sampel lemak kakao diduga dipengaruhi oleh sifat polimorfism
dan kandungan komponen minor seperti diasilgliserol, monoasilgliserol, asam
lemak bebas, fosfolipid, sterol.
Analisis PCA mengelompokkan sampel ke dalam tiga klaster geografis
berdasarkan profil asam lemak, yaitu: klaster dataran rendah dengan curah hujan
sedang–tinggi (SG dan TL) yang kaya asam palmitat, palmitoleat, dan PUFA;
klaster dataran tinggi dengan curah hujan sedang (BU, TL, dan MU) yang
didominasi asam stearat; serta klaster ketinggian sedang dengan curah hujan rendah
(PM dan DG) yang didominasi asam oleat (C18:1). Lemak kakao dari BG
menunjukkan karakteristik khas dengan kadar asam lemak bebas, UFA, dan MUFA
tertinggi yang lebih dipengaruhi oleh teknik pascapanen dibandingkan faktor
lingkungan. Hasil ini menegaskan potensi Sulawesi Tengah sebagai sumber lemak
kakao berkualitas tinggi untuk aplikasi industri.
Suhu pengempaan ditemukan tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar air
dan kadar asam lemak bebas. Dengan demikian, proses pengempaan pada suhu 40–
80 °C selama 25 menit tidak efektif menguapkan air maupun memicu reaksi
hidrolisis. Titik leleh slip (SMP) menunjukkan perbedaan yang signifikan antar
perlakuan, namun variasi yang diamati kurang dari 1 °C. Profil SFC hampir sama
pada semua suhu pengempaan. Hasil ini menunjukkan bahwa suhu pengempaan
40–80 °C tidak memengaruhi perilaku pelelehan lemak kakao. Hasil analisis TAG
menunjukkan bahwa komposisi TAG utama (POP, POS dan SOS) lebih stabil
dibandingkan TAG minor terhadap perlakuan suhu pengempaan 40–80 °C. Lemak
yang dikempa pada suhu 60 °C berbeda secara signifikan dengan jumlah SUS
terendah, tetapi satu-satunya yang terdeteksi SSS. Penelitian ini menegaskan bahwa
karakteristik lemak kakao lebih ditentukan oleh kondisi bahan baku biji kakao dan
asal geografis dibandingkan oleh variasi suhu pengempaan pada rentang suhu 40–
80 °C. cocoa processing factory in Central Sulawesi. Temperature treatments during the
pressing stage were 40, 60, and 80 °C. Data obtained from each treatment were
analyzed using one-way ANOVA, followed by Tukey's test at the 5% level to identify
differences between treatments. Next, geographic clusters were determined and
data visualization was performed using Principal Component Analysis (PCA).
Results showed that origin significantly influenced the chemical and
physical characteristics of cocoa butter. The moisture content of cocoa butter
ranges from 0.14–0.25%, while the SNI standard is a maximum of 0.2%. The free
fatty acids content of cocoa butter ranges from 0.59 to 2.87% (oleic acid). The main
fatty acids obtained are palmitic acid ranging from 24.08–27.42%, stearic acid
27.78–35.37%, oleic acid 32.48–40.45%, linoleic acid 2.12–3.81% and arachidic
acid 1.08–1.58%. The main triglycerides are POP (14.87–18.55%), POS (40.91–
43.37%) and SOS (27.28–31.42%). The triglycerides type such as SUS, SUU, and
SSS (PPS) values ranged from 89.05–92.20%, 3.75–7.83%, and 0–0.93%,
respectively. Overall, the total SUS of cocoa butter from each district was
considered high.
The melting point of cocoa butter ranged from 29.5–32.22°C. Cocoa butter
from BG and DG had a slightly lower SMP (<30°C) than the SMP of Indonesian
commercial cocoa butter, which ranged from 31.8–32.6°C. SFC results showed that
cocoa butter contained 60.8–74.3% solids at 20°C, then melted rapidly until it
reached 30°C. The low melting points and SFC of some cocoa butter samples are
thought to be influenced by polymorphism and the content of minor components
such as diacylglycerols, monoacylglycerols, free fatty acids, phospholipids, and
sterols.
PCA analysis grouped the samples into three geographic clusters based on
their fatty acid profiles: the lowland cluster with moderate to high rainfall (SG and
TL) rich in palmitic acid, palmitoleic acid, and PUFA; the highland cluster with
moderate rainfall (BU, TL, and MU) dominated by stearic acid; and the midaltitude
cluster with low rainfall (PM and DG) dominated by oleic acid (C18:1).
Cocoa butter from BG exhibited distinctive characteristics with the highest levels
of free fatty acids, UFAs, and MUFAs, which were more influenced by post-harvest
techniques than environmental factors. These results confirm Central Sulawesi's
potential as a source of high-quality cocoa butter for industrial applications.
Pressing temperature was found to have no significant effect on moisture
content or free fatty acid levels. Therefore, the pressing process at 40–80 °C for 25
minutes was not effective in evaporating water or triggering hydrolysis reactions.
Slip melting point (SMP) showed significant differences between treatments, but the
observed variation was less than 1°C. The SFC profiles were nearly identical at all
pressing temperatures. These results indicate that pressing temperatures of 40–80
°C did not affect the melting behavior of cocoa butter. The TAG analysis results
showed that the main TAG compositions (POP, POS, and SOS) were more stable
compared to minor TAGs against the temperature treatment of 40–80 °C. Cocoa
butter pressed at 60 °C differed significantly with the lowest amount of SUS, but the
only sample in which SSS detected. This study confirms that the characteristics of
cocoa butter is more determined by the quality of the cocoa bean and geographical
origin than by variations in pressing temperature within the range studied
Collections
- MT - Agriculture Technology [2454]
