| dc.description.abstract | Tren mobil jenis Multi Purposive Vehicle (MPV) diprediksi akan masih
menguasai pasar penjualan kendaraan roda empat di Indonesia sampai tahun 2025.
Saat ini hampir 60 persen total penjualan produk mobil merupakan jenis Low MPV.
Hadirnya Mitsubishi Xpander di tahun 2017 akhir berhasil mendobrak prestasi
dengan mengalahkan penjualan kompetitornya yang selama 13 tahun meraih gelar
mobil terlaris. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa prestasi Mitsubishi
Xpander dari September 2017 hingga September 2018 dan faktor yang
mempengaruhi keputusan konsumen dalam pembelian mobil Mitsubishi Xpander.
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa fenomena tersebut dan menghasilkan
suatu implikasi strategi pemasaran agar Mitsubishi Xpander dapat mempertahankan
prestasinya di pasar Low MPV.
Bauran pemasaran, yaitu harga, promosi, produk, dan tempat menurut
berbagai studi literatur merupakan kunci penting keputusan pembelian konsumen.
Selain itu, sebagai produk baru maka brand awareness juga menjadi faktor penting
yang mempengaruh keputusan pembelian konsumen. Tujuan penelitian ini adalah
untuk menganalisis karakteristik responden pembeli mobil Mitsubishi Xpander,
menganalisis pengaruh bauran pemasaran dan brand awareness terhadap keputusan
pembelianb mobil Mitsubishi Xpander, dan memberikan rekomendasi kepada
perusahaan terkait dengan upaya untuk terus meningkatkan keputusan pembelian
mobil Mitsubishi Xpander.
Penelitian dilakukan di Jabodetabek menggunakan 300 responden. Data
primer diperoleh dari hasil pengisian kuesioner kepada konsumen yang sudah
pernah membeli mobil Mitsubishi Xpander di area Jabodetabek. Teknik
pengambilan data penelitian adalah convenience sampling menggunakan kuesioner.
Skala yang digunakan adalah skala likert. Penyebaran kuesioner dilakukan secara
langsung dan melalui media online whatsapp menggunakan e-questionaire dengan
mengirimkan link kuesioner ke beberapa komunitas mobil Xpander seperti
Xpander Community (XCom) dan Xpander Mitsubishi Owner Club (X-MOC) yang
dinggal di area Jabodetabek. Penelitian menggunakan dua macam metode analisis
untuk menjawab permasalah penelitian, yaitu analisis deskriptif dan analisis
Structural Equational Modeling (SEM) untuk mengetahui hubungan dari tiap
variabel ke variabel lainnya serta variabel terhadap indikator pembentuknnya.
Karakteristik responden sebagai orang yang telah melakukan pembelian
Mitsubishi Xpander adalah mayoritas laki-laki (85 persen). Rentang usia
responden berada pada kisaran usia generasi Y dan X yaitu rentang usia 31-40
tahun (40.7 persen) dan usia 20-30 tahun (25.3 persen). Sebanyak 62.3 persen
konsumen Xpander telah memiliki tingkat pendidikan minimal sarjana, menikah
(69 persen), dan merupakan segmen kelas menengah dan menengah atas.
Berdasarkan hasil analisis SEM menunjukkan bauran pemasaran dan brand
awareness memiliki berpengaruh signifikan dan positif terhadap keputusan
pembelian mobil Mitsubishi Xpander. Kualitas produk, harga, lokasi menjadi faktor
utama responden dalam melakukan keputusan pembelian. Sedangkan, promosi dan brand awareness merupakan faktor penguat saat konsumen melakukan pencarian
informasi dan mempertimbangkan berbagai aspek sebelum melakukan keputusan
pembelian.
Strategi dalam meningkatkan keputusan pembelian dapat dilakukan dengan
melakukan segmentasi kembali pengguna Mitsubishi Xpander. Selain itu, generasi
millenials dan segmen konsumen dengan pendapatan Rp.5.000.000-Rp.10.000.000
dapat dijadikan sebagai target utama. Selanjutnya, perusahaan dapat melakukan
evaluasi harga produk, memperbanyak titik lokasi dealer pada google maps, dan
strategi positioning dengan menggunakan Search Engine Optimization (SEO)
sebagai program marketing plan dimasa mendatang.
Penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian lebih
lanjut dengan melibatkan generasi millenials untuk mengetahui minat beli mobil
Mitsubishi Xpander. Variabel penelitian selanjutnya juga dapat diperluas seperti
customer perceived value, dan pengaruh penggunaan SEO dalam keputusan dan
minat beli mobil Mitsubishi Xpander. Peneliti juga menyadari keterbatasan
populasi sample menyebabkan hasil penelitian tidak dapat sepenuhnya digeneralisir
untuk populasi sampel yang lebih besar. Dibutuhkan penelitian dengan
menggunakan jumlah sampel yang lebih besar dan skala nasional agar dapat
diperoleh karakteristik dan pengaruh keputusan pembelian yang lebih baik. | |