Show simple item record

dc.contributor.advisorFirdaus, Muhammad
dc.contributor.advisorSanim, Bunasor
dc.contributor.authorRachman, Leo Cahya Trias Putra
dc.date.accessioned2025-08-07T10:33:44Z
dc.date.available2025-08-07T10:33:44Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/168159
dc.description.abstractKrisis keuangan global pada tahun 2008 menyebabkan IHSG mengalami penurunan yang signifikan. Penurunan IHSG berdampak pada seluruh indeks sektoral. Penurunan paling besar dialami oleh sektor pertambangan dan pertanian. Indeks sektor pertambangan dan pertanian kembali mengalami penurunan pada tahun 2015. Penurunan harga komoditas disinyalir memiliki kontribusi atas anjloknya kedua sektor tersebut. Penurunan kinerja perusahaan di masa krisis berpotensi menjadi penyebab terjadinya kebangkrutan. Kebangkrutan perusahaan diawali dengan tahap penurunan kondisi keuangan yang disebut financial distress. Topik mengenai financial distress dan turnaround mempunyai hubungan yang erat, karena kesuksesan turnaround ditentukan dari upaya dalam mengatasi masalah yang membawa perusahaan dalam kondisi financial distress. Pada penelitian ini digunakan metode regresi logistik (logit) yang bertujuan untuk mendapatkan sampel perusahaan yang mengalami financial distress dan perusahaan yang berhasil melakukan turnaround. Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah untuk membuat sebuah model prediksi transisi kinerja keuangan dari perusahaan subsektor pertambangan dan pertanian. Hasil penelitian menunjukan bahwa transisi kinerja keuangan perusahaan dipengaruhi oleh variabel ukuran perusahaan, retrenchment, tingkat distress dan tipe industri. Kemampuan perusahaan dalam beradaptasi terhadap lingkungan cenderung berbeda, keterampilan manajemen menerapkan alternatif strategi dalam menghadapi krisis dapat menentukan keberhasilan dalam memperbaiki kinerja yang buruk. Komparasi antar kedua sektor menyatakan bahwa sektor pertanian mempunyai probabilitas transisi kinerja keuangan lebih baik dibandingkan sektor pertambangan. Berdasarkan perumusan implikasi manajerial, alternatif strategi yang dihasilkan terdiri dari strategi berorientasi efisiensi dan wirausaha. Perusahaan dengan total aset yang relatif kecil, peningkatan tangible assets, penurunan tingkat distress dan tipe industri, dapat menjadi pertimbangan investor dalam melakukan investasi. Pemerintah diharapkan dapat mengawasi langkah strategis yang telah dicanangkan, diantaranya penetapan program DMO dan B20.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleTransisi Peningkatan Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Sektor Pertambangan dan Pertanianid
dc.subject.keywordFinancial Distressid
dc.subject.keywordLogistic Regressionid
dc.subject.keywordTurnaroundid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record