| dc.description.abstract | PT Kimia Farma Apotek yang merupakan perusahaan jaringan ritel farmasi
yang memiliki jumlah apotek terbanyak serta menjadi market leader pada industri
ritel farmasi di Indonesia, menetapkan perluasan pasar (market ekspansion)
melalui penambahan jumlah apotek (expand numbers) sebagai salah satu strategi
pengembangan bisnisnya. Penambahan apotek baru yang agresif dilakukan mulai
tahun 2013 sampai 2017, dengan realisasi melebihi 100 apotek setiap tahun.
Sumber pendanaan menggunakan kas internal yaitu laba ditahan (modal sendiri).
Laba bersih setiap tahun tidak mencukupi kebutuhan investasi dan kekurangan
dana dilakukan melalui sumber dana eksternal yang tidak tepat (mismatch) yaitu
utang bank jangka pendek yang seharusnya mendanai kebutuhan modal kerja
(working capital), tidak menggunakan utang jangka panjang sebagai sumber
pendanaan investasi. Penggunaan sumber dana yang tidak tepat (mismatch)
menyebabkan meningkatnya biaya modal pada aspek keuangan, serta
terganggunya aktivitas perusahaan pada aspek operasional. Penelitian ini
bertujuan menganalisa kondisi operasional dan kinerja keuangan, kondisi modal
kerja dan komposisi struktur modal setelah implementasi strategi.
Analisa dan metoda yang digunakan dalam pengolahan data meliputi (1)
Analisa laporan keuangan (laba rugi dan neraca) menggunakan analisa horizontal
(trend) dan vertikal (common size), serta analisa rasio keuangan. (2) Analisa
modal kerja menggunakan Cash Conversion Cycle (CCC) dan Return on Working
Capital (RWC). (3) Analisa struktur modal mengunakan Traditional Approach
dan Modigliani Miller II.
Strategi penambahan agresif jumlah apotek dapat meningkatkan penjualan
dan laba KFA sampai tahun 2014, ditunjukan oleh peningkatan rasio profitability
keuangan sampai tahun tersebut. Peningkatan penjualan tidak lagi dapat
mendorong peningkatan laba mulai tahun 2015, ditunjukkan oleh mulai
menurunnya rasio profitability. Analisa rasio aktifitas menunjukan terjadinya
penurunan kinerja keuangan dari tahun 2012-2017. Modal kerja yang tersedia
setiap tahun dari tahun 2012-2017 dapat memenuhi kebutuhan modal kerja setiap
tahun. Perhitungan struktur modal terhadap posisi tahun 2012-2017 menunjukan
bahwa struktur modal tahun 2017 dengan komposisi debt 69% dan ekuitas 31%
merupakan proporsi terbaik, karena memberikan nilai perusahaan paling tinggi
dan biaya modal paling rendah. Simulasi struktur modal optimal berada pada
komposisi debt 40% dan ekuitas 60%
Manajemen perusahaan perlu melakukan review terhadap strategi
penambahan agresif jumlah apotek terutama dengan berubahnya pola belanja
konsumen karena perkembangan teknologi informasi. Restrukturisasi modal perlu
dilakukan melalui refinancing utang bank sesuai dengan tujuan pendanaannya dan
penambahan ekuitas, untuk mencapai struktur modal yang optimal dan menjaga
keberlangsungan implementasi strategi penambahan agresif jumlah apotek. | |