Show simple item record

dc.contributor.advisorHartoyo, Sri
dc.contributor.advisorSasongko, Hendro
dc.contributor.authorSiregar, Pamian
dc.date.accessioned2025-08-07T10:32:48Z
dc.date.available2025-08-07T10:32:48Z
dc.date.issued2019
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/168148
dc.description.abstractPT Kimia Farma Apotek yang merupakan perusahaan jaringan ritel farmasi yang memiliki jumlah apotek terbanyak serta menjadi market leader pada industri ritel farmasi di Indonesia, menetapkan perluasan pasar (market ekspansion) melalui penambahan jumlah apotek (expand numbers) sebagai salah satu strategi pengembangan bisnisnya. Penambahan apotek baru yang agresif dilakukan mulai tahun 2013 sampai 2017, dengan realisasi melebihi 100 apotek setiap tahun. Sumber pendanaan menggunakan kas internal yaitu laba ditahan (modal sendiri). Laba bersih setiap tahun tidak mencukupi kebutuhan investasi dan kekurangan dana dilakukan melalui sumber dana eksternal yang tidak tepat (mismatch) yaitu utang bank jangka pendek yang seharusnya mendanai kebutuhan modal kerja (working capital), tidak menggunakan utang jangka panjang sebagai sumber pendanaan investasi. Penggunaan sumber dana yang tidak tepat (mismatch) menyebabkan meningkatnya biaya modal pada aspek keuangan, serta terganggunya aktivitas perusahaan pada aspek operasional. Penelitian ini bertujuan menganalisa kondisi operasional dan kinerja keuangan, kondisi modal kerja dan komposisi struktur modal setelah implementasi strategi. Analisa dan metoda yang digunakan dalam pengolahan data meliputi (1) Analisa laporan keuangan (laba rugi dan neraca) menggunakan analisa horizontal (trend) dan vertikal (common size), serta analisa rasio keuangan. (2) Analisa modal kerja menggunakan Cash Conversion Cycle (CCC) dan Return on Working Capital (RWC). (3) Analisa struktur modal mengunakan Traditional Approach dan Modigliani Miller II. Strategi penambahan agresif jumlah apotek dapat meningkatkan penjualan dan laba KFA sampai tahun 2014, ditunjukan oleh peningkatan rasio profitability keuangan sampai tahun tersebut. Peningkatan penjualan tidak lagi dapat mendorong peningkatan laba mulai tahun 2015, ditunjukkan oleh mulai menurunnya rasio profitability. Analisa rasio aktifitas menunjukan terjadinya penurunan kinerja keuangan dari tahun 2012-2017. Modal kerja yang tersedia setiap tahun dari tahun 2012-2017 dapat memenuhi kebutuhan modal kerja setiap tahun. Perhitungan struktur modal terhadap posisi tahun 2012-2017 menunjukan bahwa struktur modal tahun 2017 dengan komposisi debt 69% dan ekuitas 31% merupakan proporsi terbaik, karena memberikan nilai perusahaan paling tinggi dan biaya modal paling rendah. Simulasi struktur modal optimal berada pada komposisi debt 40% dan ekuitas 60% Manajemen perusahaan perlu melakukan review terhadap strategi penambahan agresif jumlah apotek terutama dengan berubahnya pola belanja konsumen karena perkembangan teknologi informasi. Restrukturisasi modal perlu dilakukan melalui refinancing utang bank sesuai dengan tujuan pendanaannya dan penambahan ekuitas, untuk mencapai struktur modal yang optimal dan menjaga keberlangsungan implementasi strategi penambahan agresif jumlah apotek.
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcManajemen Keuanganid
dc.titleAnalisa Modal Kerja dan Struktur Modal Optimal Pada Perusahaan Ritel Farmasiid
dc.subject.keywordRitel Farmasiid
dc.subject.keywordModal Kerjaid
dc.subject.keywordStruktur Modalid
dc.subject.keywordCash Conversion Cycle (Ccc)id
dc.subject.keywordTraditional Approachid
dc.subject.keywordMedigliani Miller Iiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record