| dc.description.abstract | Karakteristik dari sektor air bersih dan sanitasi adalah banyaknya risiko yang
dihadapi, antara lain risiko institusional, risiko organisasional, dan risiko
operasional. Namun demikian, metode dan alat pengelolaan risiko belum banyak
digunakan sebagai bagian dari kebijakan dan strategi perusahaan air minum di
Indonesia. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis risiko
operasional yang dihadapi oleh perusahaan air minum, dari mulai proses ekstraksi
air baku, pengolahan air, distribusi air, hingga proses pengelolaan pelanggan. Hasil
penelitian ini adalah rumusan pengelolaan risiko operasional yang signifikan.
Penelitian mengambil studi kasus di PT Aetra Air Tangerang, dan dilakukan
menggunakan data primer dan sekunder. Identifikasi risiko operasional dilakukan
melalui wawancara, sedangkan analisis risiko dilakukan melalui kuisioner tentang
penilaian kemungkinan dan dampak dari masing-masing risiko. Hasil analisis risiko
dipetakan dalam matriks probability impact untuk didapat risiko signifikan.
Penanganan risiko signifikan dirumuskan berdasarkan observasi dan studi literatur.
Penelitian menunjukkan bahwa risiko operasional dalam penyediaan air
minum sebagian besar disebabkan oleh faktor proses dan eksternal, dengan jumlah
risiko tertinggi yang diidentifikasi dalam proses pengelolaan pelanggan. Namun,
hampir semua risiko dalam proses pengelolaan pelanggan tidak signifikan dalam
hal kemungkinan dan dampaknya. Berdasarkan hasil analisis, risiko signifikan pada
Aetra Air Tangerang adalah risiko kualitas dan kuantitas air baku, kebocoran pipa
transmisi, relokasi fasilitas air baku, kegagalan produksi, gangguan suplai, tekanan
air kecil, ketersediaan kontraktor, serta keterlambatan proses pemasangan meter.
Risiko signifikan terbanyak ada pada proses ekstraksi air baku.
Sebelum melakukan upaya untuk mengendalikan risiko, perusahaan perlu
menetapkan kebijakan risiko serta membangun struktur pengelolaan risiko. Karena
risiko signifikan yang teridentifikasi banyak disebabkan oleh faktor eksternal, maka
bagian dari pengendalian risiko meliputi terjalinnya komunikasi dan koordinasi
yang efektif dengan pemangku kepentingan terkait, serta melibatkan pemangku
kepentingan dalam kegiatan sosialisasi dan program CSR untuk memberikan
pemahaman mengenai pentingnya peran pemangku kepentingan tersebut terhadap
keberlangsungan proses penyediaan air bersih bagi masyarakat. Selain itu, untuk
mengendalikan risiko yang disebabkan karena faktor proses, perusahaan perlu
mengembangkan prosedur dan pedoman yang menjadi acuan dalam pengelolaan
risiko, selain juga secara berkala meninjau ulang daftar risiko (risk register) yang
telah disusun untuk memastikan bahwa identifikasi dan pengendalian risiko dalam
dokumen tersebut masih relevan. | |