| dc.description.abstract | Sistem manufaktur yang ringkas mampu mengurangi biaya, mengurangi
pemborosan, cacat produk, meningkatkan produktivitas dan secara bersamaan
meningkatkan mutu. Salah satu alat bantu dalam penerapan proses manufaktur
yang ringkas adalah sistem lima S (5S). Sistem 5S merupakan sistem penyisihan,
kerapihan, kebersihan, pemantapan terus menerus serta pembiasaan perilaku.
Sistem 5S tidak hanya meningkatkan lingkungan kerja tetapi juga memastikan
kepatuhan terhadap standar keseluruhan proses dan meningkatkan perbaikan
secara berkelanjutan. Dalam penerapan sistem 5S dibutuhkan motivasi karyawan,
agar penerapan 5S menjadi efektif dan berkelanjutan. Penerapan sistem 5S akan
gagal, apabila motivasi karyawan kurang. Penerapan sistem 5S tidak dapat
berhasil apabila tidak didukung oleh keterlibatan penuh, kerja keras dan dedikasi
karyawan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mengetahui faktor-faktor yang
memengaruhi motivasi karyawan dalam menerapkan sistem 5S di tempat kerja.
Penelitian menggunakan teknik pengambilan data stratified random
sampling. Hasil penelitian dengan pengolahan data menggunakan Structural
Equation Modelling menunjukkan terdapat pengaruh langsung atau positif antara
motivasi karyawan terhadap budaya sistem 5S. Hal ini dapat menjelaskan bahwa
motivasi karyawan berpengaruh positif terhadap budaya sistem 5S. Motivasi
karyawan berpengaruh positif terhadap kinerja sistem 5S tetapi hubungannya
tidak signifikan. Variabel budaya sistem 5S terhadap variabel kinerja sistem 5S
menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan. Nilai estimasi parameter variabel
dari hasil uji Confirmatory Factor Analysis menunjukkan bahwa motivasi
karyawan yang paling tinggi adalah pada indikator variabel Improve dimana
dianggap berpengaruh langsung Hasil ini menunjukkan bahwa kebutuhan
karyawan akan pengembangan karir dan informasinya terpenuhi di perusahaan.
Nilai estimasi parameter variabel budaya sistem 5S yang paling tinggi adalah pada
indikator variabel “Sapu” dimana dianggap berpengaruh langsung.
Hasil terhadap indikator variabel “Sapu” ini menunjukkan bahwa karyawan
PT Indo Kordsa Tbk sudah mencapai langkah pembersihan dan pemeliharaan
kebersihan pada barang dan area kerja dibandingkan dengan langkah sistem 5S
lainnya. Melalui analisis Korelasi Pearson, penelitian ini juga menunjukkan
bahwa masa kerja karyawan memiliki hubungan signifikan dengan budaya sistem
5S serta departemen juga memiliki hubungan signifikan dengan kinerja sistem 5S. | |